Kalimantan Update – 10 Oktober 2026 | Jakarta – Nama Gianni Infantino kembali menjadi sorotan dunia sepak bola. Kali ini bukan karena keputusan kontroversial di lapangan, melainkan karena manuver politik yang diduga kuat melatarbelakangi suksesnya turnamen perdana FIFA ASEAN Cup 2026. Presiden FIFA asal Swiss itu disebut tengah membangun dukungan dari negara-negara Asia Tenggara menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027.
Turnamen yang berlangsung pada 25 September hingga 5 Oktober 2026 itu berakhir manis bagi Indonesia. Timnas Garuda menjuarai Premier Division setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-2, usai bermain imbang 2-2 hingga babak tambahan waktu di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Sementara itu, Hong Kong keluar sebagai juara Challenge Division setelah menundukkan Kamboja dengan skor 2-0.
Kehadiran Gianni Infantino di tribun kehormatan SUGBK, mendampingi Presiden RI Prabowo Subianto dan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, menjadi perhatian media internasional. Ia bahkan turut menyerahkan trofi kepada kapten Timnas Indonesia, Kevin Diks. Media Inggris The Guardian menilai keberhasilan turnamen ini memiliki dimensi lain bagi Infantino, yakni potensi dukungan suara dalam pemilihan presiden FIFA. “Indonesia berjaya dalam turnamen ciptaan Infantino, tetapi dampak sesungguhnya kemungkinan adalah voter,” tulis The Guardian.
Jalan Terbuka Menuju Periode Keempat
Infantino telah mengumumkan niatnya mencalonkan diri untuk periode keempat dalam Kongres FIFA Mei 2026. Namun, dukungan terhadapnya jauh dari kata bulat. UEFA secara resmi menyatakan seluruh negara anggotanya tidak akan memilihnya. Konfederasi Asia (AFC) dan CONCACAF juga menjadi penentang keras. Hanya di Afrika, Infantino masih gencar meraih simpati.
Meski demikian, langkah Gianni Infantino menuju kursi kepresidenan tampak semakin mulus. Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, dikabarkan menarik diri dari persaingan. Media Inggris melaporkan bahwa hingga batas pendaftaran pada 18 November, belum ada satu pun kandidat yang maju menantangnya. Kondisi ini membuka jalan lebar bagi Infantino untuk kembali memimpin FIFA.
Ketegangan politik di tubuh FIFA memuncak setelah rencana penjualan saham Piala Dunia kepada investor swasta pada Agustus 2026. Gagasan tersebut mendapat penolakan luas, terutama dari UEFA, meski sejumlah negara termasuk Indonesia melalui Erick Thohir menyatakan dukungan. UEFA bahkan menggelar pertemuan di Berlin untuk menyusun strategi mencari kandidat penantang.
Diplomasi Afrika dan Janji Investasi
Dalam pidato politiknya di Tanjung Verde, Gianni Infantino menyampaikan janji kampanye kepada 54 federasi Afrika. Ia menegaskan komitmen FIFA untuk terus berinvestasi di benua tersebut, menyebut program FIFA Forward telah menggelontorkan satu miliar dolar selama sepuluh tahun melalui 124 proyek. Pidato bernuansa politik itu dinilai sebagai upaya menggalang dukungan menjelang pemungutan suara.
Di sisi lain, kunjungan Gianni Infantino ke sejumlah negara menuai respons beragam. Di Hong Kong, ia disambut chant bernada kritik “FIFA Mafia”. Ia juga meresmikan kantor baru di Makau dan membuka FIFA Arena Mini-pitch di Uzbekistan.
Masa depan FIFA ASEAN Cup pun mulai dipertanyakan. Edisi perdana menghadapi kendala komersial karena hak siar tidak terjual di Thailand. Keberlanjutan kompetisi ini dinilai bergantung pada hasil pemilihan presiden FIFA serta arah kebijakan organisasi setelahnya.
Kesimpulan
Sukses FIFA ASEAN Cup 2026 tidak bisa dilepaskan dari konteks politik internal FIFA. Bagi Gianni Infantino, turnamen ini menjadi alat diplomasi untuk memperkuat posisi menjelang pemilu 2027. Dengan absennya penantang kuat, peluangnya kembali memimpin FIFA semakin besar. Namun, tantangan dari UEFA, AFC, dan CONCACAF tetap menjadi ujian berat. Bagi Indonesia, gelar juara adalah prestasi membanggakan, tetapi dinamika di baliknya menunjukkan bahwa sepak bola tak pernah benar-benar lepas dari politik.
Penulis: Syaifullah | Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber: IDN Times, Goal.com, Bola.com, VIVA, L’Equipe

