Musim Kemarau Ekstrem Landa Indonesia: Udara Sulsel Tidak Sehat, Karhutla Meluas, Hujan Tertunda
Kalimantan Update – 11 Oktober 2026 | Musim kemarau tahun 2026 membawa dampak serius bagi sebagian besar wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga November 2026, lebih lama dari biasanya. Keterlambatan awal musim hujan ini memicu berbagai masalah lingkungan, mulai dari memburuknya kualitas udara hingga meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Sulawesi Selatan. Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana, mengungkapkan bahwa kualitas udara di Makassar, Maros, Gowa, dan sekitarnya diprediksi berada dalam kategori sedang hingga tidak sehat hingga 13 Oktober 2026. “Kondisi ini perlu diperhatikan pada pagi hari hingga siang hari,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (10/10/2026).
Amhar menjelaskan, buruknya udara di Sulsel disebabkan oleh asap kiriman dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Maluku, dan Papua. Partikel asap menyebar dan memicu polusi udara. Berdasarkan pemantauan di Stasiun Klimatologi Maros per 10 Oktober 2026, konsentrasi partikel masih dalam kategori tidak sehat. “Ini dapat berpengaruh pada masyarakat umum, terutama kelompok sensitif,” tambahnya.
Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menjaga kesehatan selama musim kemarau. Angin kencang serta belum turunnya hujan turut memperburuk kondisi. Meski demikian, Amhar menyebut kondisi di Papua dan Maluku sudah membaik, dan partikel yang terpantau kemungkinan merupakan sisa dari kejadian sebelumnya.
Di Jawa Timur, tepatnya di Ponorogo, karhutla juga meluas. Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, melaporkan bahwa hingga awal Oktober 2026, kebakaran telah menghanguskan 341 hektare lahan di 17 kecamatan. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang hanya 91,7 hektare di 11 kecamatan. “Peningkatan ini diduga kuat akibat musim kemarau yang lebih ekstrem,” kata Masun, Jumat (9/10/2026).
Kecamatan Slahung menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, mencapai 81,3 hektare, disusul Bungkal (64,5 hektare), Sambit (42,5 hektare), Jenangan (35,5 hektare), dan Kauman (30 hektare). Masun menjelaskan, curah hujan di bawah normal dan durasi musim kemarau yang panjang membuat vegetasi mengering. “Sudah lebih dari 60 hari tidak ada hujan. Ini membuat lahan sangat mudah terbakar,” jelasnya.
BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 akan mundur di 529 zona musim (ZOM) atau sekitar 61,08% luas daratan Indonesia. Hanya 26 ZOM yang masuk musim hujan tepat waktu, dan 11 ZOM lebih awal. Musim hujan diprediksi mulai November 2026 di 185 ZOM (24,66% daratan), diikuti Desember 2026 di 266 ZOM (17,31% daratan). Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Penyebab tidak meratanya musim hujan di Indonesia melibatkan faktor geografis, angin monsun, serta fenomena global seperti El Nino dan La Nina. Letak Indonesia di antara dua benua dan dua samudra membuat setiap daerah memiliki pola hujan yang berbeda. BMKG juga memprediksi musim hujan tahun ini akan lebih pendek dari normal di 482 ZOM (51,90% luas daratan), dengan sifat hujan normal di 510 ZOM (69,76%).
Menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan, masyarakat diimbau waspada terhadap risiko kesehatan akibat polusi udara dan potensi kebakaran. Penggunaan masker, penghematan air, serta menghindari pembakaran lahan menjadi langkah penting. Pemerintah daerah juga diminta bersiap menghadapi keterlambatan musim hujan dengan mitigasi bencana kekeringan dan karhutla.
Secara keseluruhan, musim kemarau 2026 memberikan tekanan besar pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Diperlukan kolaborasi semua pihak untuk mengurangi dampak buruk, sembari menunggu datangnya musim hujan yang diprediksi tiba lebih lambat dari biasanya.
