Pertamina Kembangkan Sekolah Alam Anak Pesisir di NTB, Gabungkan Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi

Foto: Istimewa

Pertamina Kembangkan Sekolah Alam Anak Pesisir di NTB, Gabungkan Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi

Kalimantan Update – 12 Oktober 2026 | Program Pertamina Kembangkan Sekolah Alam Anak Pesisir di NTB menjadi terobosan baru dalam dunia pendidikan berbasis lingkungan. Melalui PT Pertamina Patra Niaga, program ini hadir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat, sejak tahun 2024 dan telah menjangkau 135 penerima manfaat. Tidak hanya itu, inisiatif ini juga mendukung penanaman 4.500 bibit mangrove sebagai bagian dari upaya pelestarian ekosistem pesisir.

Langkah Pertamina Kembangkan Sekolah Alam Anak Pesisir di NTB ini menyoroti tiga aspek penting yang saling berkaitan: akses pendidikan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat. Anak-anak pesisir diajak untuk belajar langsung dari alam, menjadikan kawasan mangrove, pantai, dan ruang terbuka sebagai ruang kelas alami mereka.

Mengenal Konsep 3E: Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi

Pendekatan yang digunakan dalam program ini dikenal dengan istilah 3E, yaitu Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi. Ketiga unsur tersebut diintegrasikan dalam kegiatan belajar sehari-hari. Anak-anak tidak hanya dikenalkan pada ekosistem mangrove, tetapi juga dilatih untuk mengembangkan kreativitas, memahami cara menjaga alam, serta melihat peluang ekonomi yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

Dalam aspek ekologi, peserta didik belajar tentang pentingnya mangrove sebagai penjaga garis pantai, habitat berbagai biota laut, dan penyerap karbon. Mereka terlibat langsung dalam penanaman dan perawatan bibit mangrove. Sementara itu, dari sisi edukasi, metode pembelajaran dilakukan secara praktis dan menyenangkan, jauh dari suasana kelas konvensional. Anak-anak diajak mengamati, bertanya, dan mengeksplorasi lingkungan sekitar.

Aspek ekonomi menjadi pelengkap yang tak kalah penting. Anak-anak diperkenalkan pada potensi ekonomi dari ekosistem pesisir, seperti budidaya hasil laut, pengolahan produk berbasis mangrove, hingga peluang usaha kreatif yang ramah lingkungan. Dengan demikian, mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa menjaga alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.

Dampak Positif bagi Masyarakat Pesisir

Kehadiran program Pertamina Kembangkan Sekolah Alam Anak Pesisir di NTB membawa angin segar bagi masyarakat Desa Cendi Manik. Selain anak-anak yang mendapatkan pengalaman belajar berbeda, masyarakat sekitar juga merasakan manfaat ekonomi dari kegiatan yang berkelanjutan. Penanaman mangrove yang dilakukan secara massal turut membantu menjaga kualitas lingkungan pesisir, yang pada akhirnya berdampak pada hasil tangkapan nelayan dan kesehatan ekosistem secara keseluruhan.

Program ini juga menjadi wadah kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah desa. Partisipasi aktif warga dalam setiap kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas mampu menciptakan perubahan yang lebih lestari. Anak-anak pesisir tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam menjaga warisan alam mereka.

Melalui Pertamina Kembangkan Sekolah Alam Anak Pesisir di NTB, harapan akan generasi muda yang peduli lingkungan dan mandiri secara ekonomi semakin terbuka. Model pembelajaran ini dapat menjadi contoh bagi daerah pesisir lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa, terutama dalam hal akses pendidikan dan pelestarian lingkungan.

Menuju Keberlanjutan dan Replikasi Program

Keberhasilan awal program ini tidak lepas dari komitmen jangka panjang untuk terus mendampingi masyarakat. Ke depan, diharapkan semakin banyak anak pesisir yang terlibat, serta semakin luas cakupan penanaman mangrove yang dilakukan. Dengan demikian, dampak ekologis, edukatif, dan ekonomis dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Pendekatan 3E yang diusung dalam Pertamina Kembangkan Sekolah Alam Anak Pesisir di NTB menjadi bukti bahwa pendidikan tidak harus selalu berlangsung di dalam ruangan. Alam terbuka, terutama ekosistem pesisir, menyimpan begitu banyak pelajaran berharga yang dapat membentuk karakter, keterampilan, dan kesadaran lingkungan pada anak-anak sejak dini.

Sebagai penutup, inisiatif ini menunjukkan bahwa sinergi antara dunia usaha, masyarakat, dan lingkungan dapat menghasilkan solusi nyata bagi permasalahan pendidikan dan lingkungan di wilayah pesisir. Anak-anak pesisir NTB kini memiliki ruang belajar yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta pada alam dan kemandirian ekonomi. Semoga langkah ini menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut serta dalam membangun generasi penerus yang tangguh dan berwawasan lingkungan.

Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak