Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Kasus pelecehan seksual kembali mencuat di Indonesia. Dua peristiwa berbeda menimpa korban di Bekasi dan Jakarta Selatan. Polisi tengah mendalami modus yang digunakan para pelaku, mulai dari ritual rukiah palsu hingga perekaman diam-diam di toilet restoran.
Di Bekasi, Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota mengungkap dugaan pelecehan seksual di sebuah pondok pesantren. Pelaku berinisial MHH (28), seorang guru, diduga melakukan tindakan bejat terhadap santriwati. Modusnya adalah bujuk rayu dengan berpura-pura melakukan prosesi rukiah. “Modusnya bujuk rayu untuk rukiah,” kata Kasi Humas Polres Metro Bekasi Kota, Suparyono, Senin (12/10).
Seluruh korban yang terdata adalah perempuan. Polisi juga mendalami keterlibatan tiga orang lain berinisial HBH, F, dan S. Status ketiganya masih dalam penyelidikan. “Sementara masih didalami oleh penyidik dan masih dalam proses penyelidikan,” ujar Suparyono. Penyidik terus mengumpulkan bukti dan keterangan saksi.
Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pelayanan Perempuan dan Orang (PPO) Polres Metro Bekasi Kota telah menetapkan MHH sebagai tersangka. Kasat Reserse PPA dan PPO, Kompol Rosdiana Sirait, menyatakan tersangka telah diperiksa intensif pada Jumat (9/10). “Berdasarkan hasil penyidikan, MHH telah ditetapkan sebagai tersangka. Kami mendalami dugaan perbuatannya, termasuk hubungan yang bersangkutan dengan korban serta kedudukannya di lingkungan pesantren,” kata Rosdiana.
Sementara itu, di Jakarta Selatan, influencer Sashfir atau Fira melaporkan kasus pelecehan seksual yang dialaminya ke polisi. Peristiwa terjadi pada April 2026 di toilet sebuah restoran. Fira menjadi korban voyeurisme, perekaman diam-diam oleh seorang pria yang merupakan pegawai restoran dan sudah berkeluarga.
“Yang paling membuatku miris adalah kenyataan bahwa pelakunya merupakan seorang suami sekaligus ayah dari seorang anak perempuan. Sebagai seorang suami dan ayah, ia seharusnya memahami betapa pentingnya memberikan rasa aman dan nyaman bagi perempuan. Namun, ia justru melakukan tindakan tersebut terhadap perempuan lain,” tutur Fira melalui akun Instagramnya, @sashfir.
Fira sempat mencari pelaku yang berlari ke lantai bawah menuju dapur restoran. Ia mengingat ciri-ciri pelaku: tinggi, berkulit cokelat, dan menggunakan iPhone hitam. Setelah menemukan pria tersebut, pelaku sempat tidak mengakui perbuatannya. Namun dalam video yang dibagikan di TikTok, pelaku akhirnya mengaku. “Ya, saya ngelakuin,” ujar pria itu. Fira menyoroti sikap santai pelaku seolah tidak ada konsekuensi. “Pelecehan seksual tidak pernah sepele. Yang awalnya dibungkus sebagai ‘bercanda’ pelan-pelan jadi pelanggaran ruang aman, bahkan bisa sampai jadi pemaksaan. Kalau dibiarkan, ini akan dianggap wajar, padahal tanggung jawab sepenuhnya ada di pelaku,” tulis Fira.
Polisi telah menerima laporan Fira. Kasus ini ditangani unit PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan pada tahap penyidikan. “Saat ini perkara dalam penanganan unit PPA Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan pada tahap penyidikan,” kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, AKP Joko Adi. Saksi-saksi telah diperiksa, dan terlapor didengar keterangannya sebagai saksi. Belum ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus ini.
Kedua kasus ini menunjukkan bahwa pelecehan seksual dapat terjadi di berbagai lingkungan, termasuk lembaga pendidikan dan ruang publik. Modus yang digunakan pun beragam, dari penyalahgunaan ritual keagamaan hingga teknologi perekaman. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan berani melapor jika mengalami atau menyaksikan tindakan pelecehan. Penegakan hukum yang tegas menjadi kunci untuk memberikan efek jera dan melindungi korban.
Polisi berkomitmen untuk mengusut tuntas kedua kasus tersebut. Diharapkan, penanganan yang transparan dan profesional dapat membawa keadilan bagi para korban serta mencegah terulangnya tindakan serupa di masa depan.
