Tragedi Kapal Virgo Transport 8: 77 Korban Teridentifikasi, Lima Jenazah Masih Menanti Kepastian
Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Perjalanan panjang proses identifikasi korban tragedi tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 terus menunjukkan perkembangan signifikan. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan kembali mengumumkan keberhasilan mereka mengidentifikasi lima jenazah korban tambahan, sehingga total korban yang telah teridentifikasi kini mencapai 77 orang dari 82 jenazah yang diterima di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.
Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Kabid Dokkes Polda Kalsel, Kombes Pol dr Much Sofwan, dalam konferensi pers di Banjarmasin, Senin, 12 Oktober 2026. Kelima korban terbaru seluruhnya merupakan laki-laki yang berasal dari Jawa Timur. “Kelimanya laki-laki diketahui dari rangkaian pemeriksaan dan pencocokan termasuk hasil sampel DNA,” ujar Sofwan.
Adapun identitas lima korban terbaru tersebut adalah Warmin (41) asal Nganjuk, Sukardi (51) asal Tulungagung, Ponco Budi Raharjo (46) asal Banyuwangi, Agus Ribut Setyo Budi (48) asal Malang, serta M. Abdul Rosyid (28) asal Jember. Dari kelima korban ini, empat di antaranya teridentifikasi melalui metode DNA, sementara satu lainnya dikenali lewat ciri medis dan properti yang melekat pada tubuh korban.
Hingga kini, tim DVI masih menunggu proses identifikasi terhadap lima jenazah korban lainnya yang belum teridentifikasi. Sofwan meminta dukungan doa dari keluarga korban agar seluruh proses identifikasi dapat berjalan lancar dan para korban yang belum ditemukan bisa segera dipulangkan ke keluarga secara terhormat.
Kabid Humas Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol Nur Khamid, menambahkan bahwa tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap 53 korban Kapal Virgo yang belum ditemukan sejak kapal tenggelam di Laut Jawa pada 13 September 2026. Dari total 243 penumpang dan awak, sebanyak 190 orang telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 82 orang meninggal dunia.
Karena metode penyelaman hingga hari ke-20 tidak lagi menemukan korban, operasi pencarian bawah laut dihentikan dan beralih ke metode salvage atau pengangkatan bangkai kapal. Kepala Cabang PT Virgo Karya Shipping (VKS), Dwi Ocktalisza Suryaning Aris, menyatakan peralatan penyelaman telah tiba di Banjarmasin pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Operasi pertama akan difokuskan untuk memastikan struktur, posisi, serta kondisi terkini kapal.
Selain itu, tangki bahan bakar kapal akan dikosongkan guna mengurangi beban sekaligus mencegah pencemaran minyak dan limbah di bawah laut. Tim penyelam juga akan memasang cincin-cincin logam sebagai kedudukan untuk proses pengangkatan bangkai kapal, serta menyemprotkan bahan kimia untuk menetralisir sisa bahan bakar. Meski demikian, Dwi belum dapat memastikan estimasi waktu pelaksanaan salvage karena prosesnya dilakukan secara bertahap.
Di tengah rangkaian peristiwa tersebut, perhatian publik juga tertuju pada sejumlah persoalan lain yang menyangkut korban. Di Kendal, Jawa Tengah, seorang ibu bernama Yumrotun mengungkap sosok anaknya, Donna, yang menjadi korban pembunuhan. Menurut Yumrotun, Donna dikenal sebagai pribadi pendiam dan hanya memiliki satu sahabat. Terakhir kali ia bertemu anaknya pada Sabtu, 26 September 2026 malam dan Minggu, 27 September 2026 pagi, sebelum komunikasi terputus.
Sementara itu, dalam konteks dunia kerja, fenomena korban bullying yang memilih bertahan di lingkungan kerja toksik turut menjadi sorotan. Banyak korban bertahan karena kebutuhan finansial, kekhawatiran sulit mendapat pekerjaan baru, serta anggapan bahwa perundungan adalah hal normal. Kenyamanan dan dukungan rekan kerja juga membuat korban sulit mengambil keputusan untuk resign.
Dari tragedi Kapal Virgo hingga kasus-kasus lain, perhatian terhadap korban menjadi benang merah yang menegaskan pentingnya perlindungan, pendampingan, dan keadilan bagi mereka yang terdampak. Proses identifikasi yang terus berjalan, pencarian korban yang belum ditemukan, serta upaya salvage bangkai kapal menjadi wujud komitmen agar setiap korban dapat kembali kepada keluarganya dengan layak. Kesimpulannya, penanganan korban membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari aparat, tim medis, hingga masyarakat, agar tidak ada korban yang terlupakan.
