Abdul Mu'ti Tekankan Pendidikan untuk Bangsa Indonesia sebagai Kekuatan Utama Pembangunan Generasi Emas
Kalimantan Update – 15 Oktober 2026 | Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, kembali menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa Indonesia. Dalam pernyataannya pada Rabu (14/10/2026), Abdul Mu’ti Tekankan Pendidikan untuk Bangsa Indonesia sebagai kekuatan strategis yang tidak bisa diabaikan. Menurutnya, kualitas pendidikan akan menentukan kualitas generasi masa depan yang akan memimpin negeri ini menuju puncak kejayaan.
Pernyataan tersebut disampaikan Mu’ti melalui keterangan yang dilansir dari Indoposco. Ia menyoroti pentingnya pendidikan berkualitas untuk menyiapkan generasi emas Indonesia. “Untuk membangun bangsa yang baik, kita harus memiliki pendidikan yang baik. Jika ingin melahirkan generasi yang baik, kita juga harus memiliki pendidikan yang baik. Saya percaya bahwa pendidikan adalah sebuah kekuatan,” ujar Mu’ti dengan penuh keyakinan.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti Tekankan Pendidikan untuk Bangsa Indonesia menjadi prioritas utama Presiden Prabowo Subianto. Hal ini tercermin dalam Asta Cita keempat yang berfokus pada pembangunan sumber daya manusia dan penguatan generasi muda menuju Generasi Emas Indonesia. Mu’ti menjelaskan bahwa visi besar tersebut hanya dapat terwujud jika seluruh elemen bangsa bersinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah.
Dalam kesempatan itu, Mu’ti juga mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan moral. Ia menekankan bahwa generasi muda perlu dibekali dengan nilai-nilai integritas, gotong royong, dan cinta tanah air. “Pendidikan yang baik akan melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual,” tambahnya.
Pernyataan Abdul Mu’ti Tekankan Pendidikan untuk Bangsa Indonesia ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Pengamat pendidikan menilai bahwa fokus pada pendidikan dasar dan menengah adalah langkah tepat untuk memutus rantai ketertinggalan. Mereka berharap kebijakan yang diambil tidak hanya bersifat retoris, tetapi diimplementasikan dalam program nyata seperti peningkatan kesejahteraan guru, penyediaan sarana prasarana, serta kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Mu’ti juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital. Menurutnya, teknologi harus menjadi alat untuk memperluas akses pendidikan, bukan sebaliknya menciptakan kesenjangan baru. Ia mendorong para pendidik untuk terus berinovasi dan memanfaatkan platform digital dalam proses belajar mengajar. “Guru harus menjadi fasilitator yang mampu menginspirasi siswa, bukan hanya penyampai materi,” tegasnya.
Selain itu, Abdul Mu’ti Tekankan Pendidikan untuk Bangsa Indonesia juga berkaitan erat dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM). Data menunjukkan bahwa IPM Indonesia terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun, namun masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Oleh karena itu, Mu’ti mengajak semua pihak untuk menjadikan pendidikan sebagai gerakan bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata.
Dalam konteks otonomi daerah, Mu’ti berpesan agar pemerintah daerah memberikan perhatian serius pada sektor pendidikan. Alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen harus benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan peserta didik. Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Menutup keterangannya, Abdul Mu’ti Tekankan Pendidikan untuk Bangsa Indonesia sebagai kunci menuju Indonesia Emas 2045. Ia optimistis bahwa dengan kerja keras dan komitmen bersama, cita-cita tersebut dapat diraih. “Mari kita jadikan pendidikan sebagai prioritas, karena dari sanalah masa depan bangsa ini ditentukan. Tidak ada bangsa yang besar tanpa pendidikan yang kuat,” pungkasnya.
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak instan. Diperlukan kesabaran, konsistensi, dan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pendidikan berkualitas yang merata. Dengan demikian, generasi emas yang diimpikan bukan sekadar jargon, melainkan realitas yang dapat dicapai.
