Marc Márquez Bangkit dari Ketertinggalan 102 Poin dan Rebut Gelar Terbaik Spanyol 2025

Foto: Istimewa

Marc Márquez Bangkit dari Ketertinggalan 102 Poin dan Rebut Gelar Terbaik Spanyol 2025

Kalimantan Update – 16 Oktober 2026 | Marc Márquez kembali membuktikan mengapa ia dianggap sebagai salah satu pembalap terhebat dalam sejarah MotoGP. Setelah sempat tertinggal 102 poin dari Marco Bezzecchi usai Grand Prix Italia di Mugello, pembalap Ducati itu bangkit luar biasa dan berbalik unggul 44 poin atas rivalnya tersebut hanya dalam sepuluh seri berikutnya. Kebangkitan dramatis ini menjadi salah satu comeback paling spektakuler di era modern MotoGP dan menempatkan Marc Márquez kembali ke jalur perburuan gelar juara dunia 2026.

Setelah Mugello, Bezzecchi memimpin klasemen dengan 173 poin, sementara Marc Márquez hanya mengoleksi 71 poin dan terpuruk di peringkat kedelapan. Ia juga tertinggal 85 poin dari Jorge Martín yang saat itu mengumpulkan 156 poin. Namun, dalam sepuluh balapan berikutnya, pembalap asal Cervera, Lleida, itu mengumpulkan 282 poin dengan rata-rata 28,2 poin per akhir pekan, jauh melampaui catatan Bezzecchi yang hanya meraih 13,6 poin per balapan. Hingga akhir Grand Prix Indonesia, Marc Márquez telah mengoleksi 353 poin, Bezzecchi 309 poin, dan Martín memimpin dengan 355 poin.

Pemulihan performa Marc Márquez tidak lepas dari kerja kerasnya menjalani operasi bahu kanan yang kesekian kalinya. Meski masih menyimpan efek jangka panjang dari berbagai operasi di area tersebut, ia mampu mengubah motor Desmosedici menjadi lebih kompetitif. Di sisi lain, Aprilia yang diperkuat Bezzecchi dan Martín sempat tampil dominan di awal musim, tetapi rangkaian kesalahan membuat keunggulan mereka terkikis. Kerja keras Gigi Dall’Igna dan tim Ducati turut menjadi kunci kebangkitan sang pembalap veteran.

Persaingan gelar musim 2026 pun berubah menjadi duel historis antara Jorge Martín dan Marc Márquez. Hanya terpaut dua poin setelah 17 seri, keduanya mengulang situasi musim 2022 ketika Fabio Quartararo dan Francesco Bagnaia juga terpisah dua poin. Sepanjang musim ini, empat pembalap berbeda pernah memimpin klasemen, yakni Pedro Acosta, Marco Bezzecchi, Jorge Martín, dan Marc Márquez. Bezzecchi paling lama berada di puncak selama delapan seri, sedangkan Martín kini telah memimpin selama tujuh seri.

Menariknya, di Sirkuit Indonesia yang secara historis kurang bersahabat bagi Marc Márquez, selisih dua poin tetap bertahan. Ia sempat merebut puncak klasemen usai memenangi sprint pada Sabtu, tetapi Martín kembali memimpin pada Minggu setelah finis ketiga, sementara pembalap Ducati itu hanya menempati posisi keenam. Duel ketat ini diperkirakan akan berlanjut hingga seri-seri penutup musim.

Di tengah persaingan sengit di lintasan, Marc Márquez juga menuai pengakuan bergengsi di luar arena balap. Ia dianugerahi Premio Rey Felipe sebagai atlet terbaik Spanyol 2025 dalam ajang Premios Nacionales del Deporte yang diumumkan Dewan Olahraga Tinggi Spanyol (CSD). Penghargaan ini diberikan setelah ia meraih gelar juara dunia kesembilan, yang ketujuh di kelas utama, pada 2025. Dengan capaian tersebut, Marc Márquez kini hanya terpaut dari Giacomo Agostini dan Ángel Nieto dalam daftar pembalap dengan gelar dunia terbanyak sepanjang sejarah.

Penghargaan Reina Letizia untuk atlet putri terbaik diraih perenang artistik Iris Tió, yang memenangi empat medali di Kejuaraan Dunia renang artistik 2025, termasuk emas pertama Spanyol di nomor solo bebas. Sementara itu, Premio Princesa Leonor untuk atlet muda terbaik jatuh kepada perenang paralimpiade Anastasiya Dmytriv, dan Premio Rey Juan Carlos untuk atlet pendatang baru diberikan kepada pesepeda Paula Ostiz. Penghargaan lain, seperti Premio Reina Sofía untuk sportivitas, diterima kiper balon tangan Gonzalo Pérez de Vargas, sedangkan Copa Barón de Güell untuk tim terbaik diraih tim polo air putra Spanyol.

Kendati demikian, popularitas dan status istimewa Marc Márquez sempat memicu polemik di kalangan pembalap. Jack Miller, pembalap Aprilia, mengkritik keputusan Marc Márquez yang tidak hadir dalam ekshibisi kart di Grand Prix Jepang dan digantikan oleh saudaranya. Menurut Miller, setiap pembalap harus mematuhi aturan dan jadwal yang ditetapkan MotoGP, terutama karena Liberty Media selaku pemegang hak komersial tengah gencar memperluas audiens dan pasar baru. “Jika seharusnya kau ada di sana, maka kau harus ada di sana. Tidak ada yang berada di atas aturan,” ujarnya.

Marc Márquez sendiri beralasan bahwa ia memilih beristirahat demi menjaga kondisi fisik sebelum balapan utama, terutama karena persaingan gelar melawan Jorge Martín sedang memanas. Pembalap Aprilia lainnya bahkan mengaku sengaja berada di belakang rombongan agar terhindar dari insiden dalam ekshibisi tersebut. Isu ini turut membuka perdebatan soal beban komersial pembalap yang semakin berat, yang menurut Miller seharusnya diimbangi dengan kenaikan gaji.

Dengan kombinasi comeback bersejarah di lintasan, penghargaan nasional bergengsi, serta polemik yang menyertainya, Marc Márquez tetap menjadi pusat perhatian dunia MotoGP. Jika konsistensinya terjaga hingga akhir musim, gelar juara dunia kesepuluh bukanlah hal yang mustahil untuk diraih.

Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Sukardi
Sumber Berita: Car and Driver, Grande Prêmio, MARCA, Infobae