Kalimantan Update – 17 Oktober 2026 | Stadion Hill Dickinson, Liverpool, menjadi saksi bisu bagaimana Iliman Ndiaye tampil sebagai salah satu aktor utama dalam kemenangan telak Everton atas Chelsea dengan skor 3-0 pada lanjutan Liga Premier, Sabtu waktu setempat. Penyerang asal Senegal itu tidak hanya mencetak satu gol, tetapi juga menjadi momok bagi lini pertahanan The Blues sepanjang pertandingan. Kemenangan ini membawa Everton naik ke peringkat ketujuh dengan 46 poin dari 31 laga, hanya terpaut lima poin dari zona empat besar, sementara Chelsea tetap tertahan di posisi keenam dengan 48 poin.
Pertandingan berjalan dengan tempo tinggi sejak awal. Everton menciptakan peluang pertama melalui tembakan James Garner yang masih bisa dibendung oleh lini pertahanan Chelsea. Namun, tekanan The Toffees akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-33. Umpan cermat dari Garner berhasil dikonversi menjadi gol oleh Beto, membawa Everton unggul 1-0. Chelsea berusaha menyamakan kedudukan, tetapi hingga turun minum, skor tetap 1-0 untuk keunggulan tuan rumah.
Memasuki babak kedua, Chelsea mencoba bangkit. Tendangan Enzo Fernandez sempat mengancam, namun kiper Everton, Jordan Pickford, tampil sigap mengamankan gawangnya. Sayangnya, upaya Chelsea untuk menyamakan kedudukan justru berbuah petaka. Pada menit ke-62, Everton menggandakan keunggulan melalui gol kedua Beto yang lahir dari serangan balik cepat. Iliman Ndiaye yang terus memberikan tekanan akhirnya ikut mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-76, memanfaatkan assist dari Beto. Gol tersebut memastikan kemenangan 3-0 bagi Everton dan sekaligus menjadi pukulan telak bagi Chelsea.
Performa Iliman Ndiaye dalam laga ini mendapat pujian dari berbagai pihak. Kecepatan dan pergerakannya tanpa bola kerap merepotkan bek Chelsea. Bahkan, dalam laga lain yang melibatkan Paris Saint-Germain, nama Iliman Ndiaye sempat disebut sebagai pemain pengganti yang mengubah jalannya pertandingan. Meski demikian, fokus utama tetap pada kontribusinya bersama Everton. Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi The Toffees untuk terus menempel ketat tim-tim di atasnya.
Sementara itu, kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Chelsea yang tengah berjuang mengamankan posisi di empat besar. Pelatih Enzo Maresca diyakini akan melakukan evaluasi menyeluruh. Absennya kapten Reece James disebut-sebut turut mempengaruhi keseimbangan tim. Chelsea juga sempat menghadapi PSG di Liga Champions, di mana mereka kalah 0-3 di Stamford Bridge. Hasil-hasil buruk ini menuntut pembenahan segera jika ingin tetap bersaing di kompetisi domestik maupun Eropa.
Bagi Everton, kemenangan ini bukan sekadar tiga poin. Ini adalah pernyataan bahwa mereka layak diperhitungkan dalam perburuan tiket Eropa. Iliman Ndiaye dan rekan-rekannya telah menunjukkan kualitas dan mentalitas juara. Dengan 31 pertandingan tersisa, peluang Everton untuk finis di posisi yang lebih tinggi masih terbuka lebar. Konsistensi akan menjadi kunci bagi tim asuhan Sean Dyche tersebut.
Di sisi lain, Chelsea harus segera bangkit. Jarak tiga poin dari empat besar memang tidak terlalu jauh, tetapi performa inkonsisten menjadi ancaman serius. Laga-laga selanjutnya akan menjadi penentu apakah The Blues mampu menyelamatkan musim ini atau justru terpuruk lebih dalam. Kekalahan dari Everton menjadi alarm bagi seluruh elemen tim untuk segera berbenah.
Secara keseluruhan, pertandingan ini menegaskan bahwa Liga Premier musim ini penuh kejutan. Tim-tim papan tengah seperti Everton mampu mengalahkan tim besar dengan skor meyakinkan. Iliman Ndiaye telah membuktikan dirinya sebagai salah satu pemain kunci Everton. Kemenangan 3-0 ini akan dikenang sebagai momen kebangkitan The Toffees, sekaligus pengingat bagi Chelsea bahwa tidak ada lawan yang bisa dianggap remeh.

