Kalimantan Update – 17 Oktober 2026 | Benfica tengah menjadi sorotan di panggung sepak bola Eropa, bukan hanya karena performa apik di lapangan, tetapi juga karena dinamika internal yang menarik perhatian publik. Klub raksasa Portugal ini baru saja menikmati kemenangan meyakinkan 4-1 atas Celtic di ajang Liga Europa, dengan penampilan impresif dari bintang muda Argentina, Gianluca Prestianni. Namun, di balik euforia kemenangan, muncul berbagai isu mulai dari kontrak pemain hingga keterlibatan kelompok suporter dalam urusan keamanan klub.
Prestianni, yang genap berusia 20 tahun, telah menjelma menjadi figur kunci dalam skema pelatih Marco Silva. Dalam 14 pertandingan awal musim ini, pemain bernomor punggung 25 itu telah mencetak delapan gol dan lima assist, menyamai torehan assist-nya sepanjang musim lalu. Performa gemilang ini membuat manajemen Benfica bergerak cepat mengamankan masa depannya. Meski kontraknya masih berlaku hingga Desember 2029, klub dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjangnya hingga 2031, lengkap dengan kenaikan gaji yang signifikan dan klausul pelepasan senilai 100 juta euro.
Keputusan tersebut diambil oleh SAD yang dipimpin Rui Costa sebagai bentuk apresiasi atas perkembangan pesat pemain yang dibeli dari Velez Sarsfield tersebut. Sejak bergabung, Prestianni telah mencatat 12 gol dan 13 assist dalam 70 penampilan. Musim ini, di bawah asuhan Marco Silva, kontribusinya semakin menonjol. Pelatih asal Portugal itu pun tidak ragu memuji anak asuhnya. “Prestianni adalah pemain kami, dia memiliki kontrak panjang dan sedang melakukan hal-hal hebat. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Para penggemar mulai mengenalinya dengan baik karena mereka melihat kualitas dan kerja kerasnya,” ujar Marco Silva dalam konferensi pers usai laga melawan Celtic.
Menariknya, lonjakan performa Prestianni tidak lepas dari insiden yang sempat menimpanya. Pengamat sepak bola Mauro Xavier menilai bahwa tuduhan rasisme yang dialamatkan kepada Prestianni dalam insiden dengan Vinicius Junior, yang sempat membuatnya dihukum secara preventif oleh UEFA, justru menjadi bahan bakar motivasi. “Seseorang yang menjadi pusat perhatian seperti itu, yang bahkan dihukum secara preventif, pasti terpengaruh. Dia sedang membuktikan diri dengan Jose Mourinho. Dia mengubah ‘ketidakadilan’ itu menjadi kekuatan sepak bola. Dia ingin menunjukkan kepada dunia siapa dirinya dan sekarang berada dalam momen fantastis,” kata Xavier kepada Radio Renascenca.
Meski demikian, Xavier mengingatkan bahwa absennya Benfica dari Liga Champions musim ini dapat memaksa klub melakukan penjualan pada musim panas mendatang. “Kita tidak pernah tahu bagaimana pasar akan berperilaku. Wajar jika Benfica, di akhir musim, harus melakukan penyesuaian, terutama karena tahun ini tidak berlaga di Liga Champions. Mereka harus melakukan beberapa penjualan dan penyeimbangan finansial. Saya berharap ini menjadi tahun yang sukses secara sportif,” tambahnya.
Di sisi lain, isu lain mencuat terkait keterlibatan anggota kelompok suporter No Name Boys dalam perusahaan keamanan milik Benfica. Laporan menyebutkan bahwa beberapa anggota kelompok yang tidak diakui klub tersebut bekerja sebagai petugas keamanan, bahkan terlibat dalam insiden penggeledahan terhadap suporter rival. Situasi ini menimbulkan ketegangan di dalam dan sekitar Estadio da Luz, karena adanya potensi konflik kepentingan antara peran sebagai penggemar dan petugas keamanan.
Sementara itu, mantan pemain Benfica, Casper Tengstedt, justru tengah bersinar di Ligue 1 Prancis. Penyerang asal Denmark itu kini menjadi top skor sementara dengan lima gol dalam lima pertandingan untuk Toulouse, termasuk golnya saat mengalahkan Le Mans 3-0. Tengstedt, yang sempat gagal bersinar di Benfica antara 2022 dan 2024, telah mencetak gol dalam empat pertandingan berturut-turut, membuktikan bahwa ia menemukan performa terbaiknya jauh dari Lisbon.
Di lapangan, kemenangan Benfica atas Celtic juga menyuguhkan momen indah. Gol kedua Benfica yang dicetak Alexander Bah pada menit ke-23 menjadi contoh kerja sama tim yang apik. Gol tersebut tercipta setelah 31 operan yang melibatkan 10 pemain, sebelum Bah menyelesaikan umpan matang dari Prestianni. Klub pun mengunggah momen tersebut di media sosial dengan keterangan ‘teamwork makes the dream work’, menegaskan harmoni yang tengah dibangun di dalam tim.
Dengan kombinasi performa apik di lapangan, manuver cerdas di bursa transfer, serta tantangan internal yang perlu diatasi, Benfica terus menunjukkan ambisinya untuk tetap kompetitif di level tertinggi. Sementara Prestianni menjadi permata yang semakin terasah, manajemen klub dihadapkan pada tugas untuk menjaga keseimbangan antara prestasi dan stabilitas finansial, serta memastikan bahwa semangat klub tetap terjaga di tengah berbagai dinamika yang ada.

