Kalimantan Update – 17 Oktober 2026 | Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menuntaskan elektrifikasi di seluruh pelosok Indonesia. Melalui arahan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, muncul instruksi strategis: Target Tuntas 2029 2030 Bahlil Minta Pemda dan PLN Data Desa Belum Berlistrik. Arahan ini menjadi kunci percepatan pemerataan akses energi di Tanah Air. Bahlil meminta pemerintah daerah (pemda) bersama PLN untuk bahu-membahu mengidentifikasi desa, dusun, hingga rumah tangga yang belum menikmati listrik, agar target penyelesaian pada 2029-2030 dapat terwujud.
Hal itu disampaikan Bahlil saat meninjau pelaksanaan Program Listrik Desa (Lisdes) dan penyaluran Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Kamis (15/10). Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung gardu distribusi berkapasitas 50 kVA dan deretan tiang listrik baru yang berdiri di Dusun Prau Bosok. Listrik memang sudah lama menjangkau wilayah pesisir Cilamaya, namun tegangannya rendah sehingga aliran listrik belum maksimal. Sejumlah keluarga bahkan masih menyambung listrik dari rumah tetangga karena belum memiliki sambungan sendiri.
“Dulu, daerah ini, wilayah ini khususnya, itu sudah ada listrik. Tapi tegangannya rendah. Maka, arus yang masuk untuk mengalir listrik itu tidak maksimal. Program yang kita lakukan adalah bagaimana meningkatkan arus masuknya listrik supaya kuat,” ujar Bahlil.
Melalui Program Lisdes Tahun Anggaran 2025, pemerintah membangun Jaringan Tegangan Menengah sepanjang 0,549 kilometer sirkuit, Jaringan Tegangan Rendah sepanjang 0,91 kilometer sirkuit, serta satu unit gardu distribusi berkapasitas 50 kVA. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk melayani 93 calon pelanggan rumah tangga. Lisdes dilengkapi dengan BPBL bagi rumah tangga yang belum memiliki sambungan listrik sendiri. Penerima BPBL memperoleh instalasi listrik rumah, pengujian dan Sertifikat Laik Operasi (SLO), biaya penyambungan ke jaringan PLN dengan daya 900 VA, serta token listrik perdana senilai Rp100.000.
Secara nasional, Bahlil menyebut masih terdapat sekitar 11.000 desa yang belum memperoleh akses listrik dan jutaan rumah yang belum memiliki sambungan sendiri. Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan PLN. Dalam konteks inilah Target Tuntas 2029 2030 Bahlil Minta Pemda dan PLN Data Desa Belum Berlistrik menjadi instruksi yang harus segera ditindaklanjuti dengan pendataan akurat di lapangan. Pendataan yang rapi akan memastikan tidak ada desa yang terlewat dan intervensi program tepat sasaran.
Di Kabupaten Karawang, BPBL tahun 2025 telah menjangkau 915 rumah tangga. Pada 2026, program ini menargetkan 683 rumah tangga: 299 rumah tangga telah menyala, 360 telah terpasang dan menunggu penyalaan, dan 24 masih dalam tahap pemasangan instalasi. Khusus di Kecamatan Cilamaya Wetan, target BPBL 2026 sebanyak 52 rumah tangga. Sementara di tingkat Provinsi Jawa Barat, Program Lisdes 2025 telah menjangkau 210 lokasi dan melayani 10.893 pelanggan. BPBL pada tahun yang sama diberikan kepada 15.831 rumah tangga, dan pada 2026 ditargetkan menjangkau 25.000 rumah tangga.
Kehadiran listrik yang andal diharapkan tidak hanya menerangi rumah warga, tetapi juga mendukung kegiatan belajar, membuka peluang usaha produktif, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Pemerintah pun terus mendorong percepatan pemerataan energi. Kembali ditegaskan bahwa Target Tuntas 2029 2030 Bahlil Minta Pemda dan PLN Data Desa Belum Berlistrik bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang membutuhkan kolaborasi semua pihak. Pemda diminta proaktif mendata desa dan dusun yang belum berlistrik, sementara PLN menyiapkan infrastruktur jaringan dan sambungan rumah.
Dengan pendataan yang akurat dan koordinasi yang solid, diharapkan seluruh desa di Indonesia dapat menikmati listrik pada 2029-2030. Program Lisdes dan BPBL menjadi instrumen utama untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang energi. Masyarakat pun berharap agar listrik yang stabil dapat segera dirasakan, terutama di daerah terpencil dan pesisir yang selama ini masih bergantung pada sambungan tetangga atau listrik dengan tegangan rendah.
Sebagai penutup, percepatan elektrifikasi desa merupakan fondasi penting bagi pembangunan yang inklusif. Arahan Target Tuntas 2029 2030 Bahlil Minta Pemda dan PLN Data Desa Belum Berlistrik harus menjadi momentum bagi semua pemangku kepentingan untuk bergerak bersama. Dengan data yang valid, perencanaan yang matang, dan eksekusi yang tepat, cita-cita menerangi seluruh pelosok negeri bukanlah hal yang mustahil. Listrik bukan hanya soal terang, tetapi juga harapan baru bagi jutaan keluarga Indonesia untuk hidup lebih sejahtera.

