Kalimantan Update – 17 Oktober 2026 | Keputusan wasit Chris Kavanagh yang mengeluarkan Ryan Gravenberch dalam laga Liverpool melawan Manchester City menjadi sorotan tajam di dunia sepak bola Inggris. Gelandang asal Belanda itu menerima kartu kuning kedua setelah menjatuhkan Jeremy Doku, sebuah momen yang mengubah jalannya pertandingan ketika skor masih imbang tanpa gol. Insiden tersebut membuat Ryan Gravenberch harus absen saat Liverpool menghadapi Brentford di Gtech Community Stadium, sekaligus menimbulkan perdebatan sengit soal keadilan keputusan sang pengadil.
Mantan wasit Premier League, Dermot Gallagher, menilai kartu kuning pertama yang diterima Ryan Gravenberch terlalu keras. Menurutnya, Kavanagh keliru mengira pemain berusia 24 tahun itu mengenai lutut Doku, padahal yang tersentuh hanyalah bagian atas sepatu. Gallagher menegaskan bahwa gelandang tersebut sekadar kurang beruntung. Namun, ia bersikukuh bahwa kartu kuning kedua tetap sah karena pelanggaran itu menghadang serangan menjanjikan dari Doku yang dikenal memiliki kecepatan luar biasa.
Pandangan serupa datang dari mantan pelatih Tottenham dan Aston Villa, Tim Sherwood. Ia menilai tantangan pertama seharusnya tidak berbuah kartu kuning karena Ryan Gravenberch jelas berupaya merebut bola dan sempat menarik kakinya. Sherwood menyoroti bahwa pada pelanggaran kedua, gelandang itu sudah berada dalam posisi rentan karena sebelumnya telah mengantongi kartu kuning, sementara Doku dengan gesit menggiring bola menjauh.
Legenda Liverpool, Steven Gerrard, bahkan menyebut kartu kuning pertama sebagai kesalahan besar wasit. Berada tak jauh dari kepala PGMOL Howard Webb di Anfield, Gerrard mengaku dapat membaca kekecewaan atas keputusan tersebut. Meski mengakui pelanggaran kedua layak diganjar kartu, ia menilai performa Ryan Gravenberch sebelum dikeluarkan merupakan yang terbaik dalam beberapa waktu terakhir. Gerrard menilai sang pemain lebih cocok berperan sebagai gelandang nomor delapan ketimbang enam, mengingat energinya yang melimpah.
Absennya Ryan Gravenberch memaksa pelatih Andoni Iraola memutar otak menyusun lini tengah. Situasi makin rumit karena Dominik Szoboszlai juga diragukan akibat cedera. Pilihan yang tersedia adalah menurunkan Florian Wirtz lebih dalam, atau memberi kepercayaan kepada gelandang muda akademi, Trey Nyoni. Pemain berusia 19 tahun itu tampil mengesankan saat melawan LASK di tengah kemenangan 6-3, menunjukkan ketenangan meski baru naik ke tim senior.
Iraola sendiri enggan menjawab secara spesifik soal peluang Nyoni menggantikan Ryan Gravenberch. Ia hanya menekankan pentingnya rotasi di tengah jadwal padat yang membuat tim bermain setiap tiga hari. Menurutnya, seluruh pemain harus siap kapan pun dibutuhkan, baik untuk laga melawan Brentford maupun Villarreal setelahnya.
Di sisi lain, Brentford juga menghadapi masalah cedera. Pelatih Keith Andrews dipastikan kehilangan Kevin Schade, Antoni Milambo, Joshua Dasilva, dan Mikkel Damsgaard. Brentford sendiri sedang dalam performa solid dengan dua kemenangan dan tiga hasil imbang dalam lima laga terakhir, termasuk hasil imbang 2-2 melawan Aston Villa.
Terlepas dari kontroversi, sosok Ryan Gravenberch tetap menjadi salah satu gelandang muda paling menjanjikan. Nomor punggung 38 yang ia kenakan sejak debut bersama Ajax dan terus dibawa ke Bayern Munich hingga Liverpool menjadi tanda kesetiaan pada tradisi pribadinya. Dengan koleksi trofi Carabao Cup dan Premier League, gelandang berpostur 190 cm itu kini membidik trofi Liga Champions berikutnya.
Kontroversi kartu merah ini bukan sekadar soal satu pertandingan. Ia menyoroti kualitas pengambilan keputusan wasit, tekanan pemain lawan seperti Erling Haaland yang langsung mendekati pengadil, serta dilema skuad Liverpool yang kian menipis. Bagi Iraola, laga melawan Brentford akan menjadi ujian kedalaman tim sekaligus pembuktian bahwa Liverpool mampu bertahan tanpa salah satu gelandang terbaiknya di lapangan.

