Low Tuck Kwong Borong Saham BYAN Rp1,12 Triliun Usai Divestasi Rp26 Triliun ke Haji Isam, Sinyal Apa?
Kalimantan Update – 18 Oktober 2026 | Low Tuck Kwong kembali mencuri perhatian pasar modal Tanah Air. Konglomerat batu bara tersebut memborong 100.001.000 lembar saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) pada 14 Oktober 2026 di harga Rp11.200 per saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,12 triliun. Aksi korporasi ini dilakukan hanya beberapa hari setelah Low Tuck Kwong merampungkan divestasi saham senilai Rp26 triliun kepada kelompok usaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. Langkah tersebut langsung memantik spekulasi mengenai arah strategi sang taipan di tengah gejolak pasar yang sedang tidak bersahabat.
Berdasarkan keterbukaan informasi, pembelian saham oleh Low Tuck Kwong tersebut meningkatkan kepemilikan langsungnya di emiten batu bara itu dari 3.316.666.832 saham atau setara 9,95 persen menjadi 3.416.667.832 saham atau 10,25 persen. Low Tuck Kwong menyatakan tujuan transaksi adalah untuk investasi dan menegaskan dirinya tetap berstatus sebagai pengendali serta akan mempertahankan pengendalian atas BYAN. Sehari sebelumnya, pada 13 Oktober 2026, ia juga tercatat membeli 500.000 lembar saham biasa BYAN seharga Rp11.200 per lembar dengan nilai Rp5,6 miliar, yang juga ditujukan untuk investasi.
Menariknya, pada hari yang sama Direktur Bayan Resources Lim Chai Hock melepas 100.001.000 lembar saham BYAN di harga Rp11.200 per saham. Pelepasan tersebut membuat porsi kepemilikan saham Lim Chai Hock berkurang dari 1.087.150.000 saham atau 3,26 persen menjadi 987.149.000 saham atau 2,96 persen. Transaksi jumbo ini terjadi di tengah tekanan berat yang melanda Bursa Efek Indonesia.
Rangkaian pembelian saham oleh Low Tuck Kwong berlangsung menyusul rampungnya divestasi saham perseroan ke kelompok usaha Haji Isam. Pada 7 Oktober 2026, PT Jhonlin Baratama menyelesaikan akuisisi 10.084.088.370 lembar saham atau 30,25 persen saham BYAN dari Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low. Dalam pengalihan tersebut, Low Tuck Kwong melepas 10.067.421.703 saham, setelah sebelumnya menjual 33.333.335 saham pada 6 Oktober, sementara Elaine Low melepas 16.666.667 saham. Akuisisi oleh PT Jhonlin Baratama dilakukan pada harga Rp2.588 per lembar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp26.097.380.221.560.
Harga pembelian BYAN oleh Haji Isam sebesar Rp2.588 per saham jauh di bawah harga penutupan saham pada 7 Oktober 2026 yang berada di kisaran Rp12.600. Selisihnya mencapai sekitar 79,46 persen. Untuk mendanai akuisisi tersebut, sejumlah saham milik perusahaan terkait dengan kelompok usaha Haji Isam juga dijaminkan kepada Bank Mandiri (BMRI).
Setelah transaksi akuisisi tersebut, Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, kembali melepas total 666,67 juta saham BYAN pada 15 Oktober 2026. Dengan harga Rp2.588 per saham, nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp1,72 triliun. Rinciannya, Low Tuck Kwong menjual 650 juta saham senilai Rp1,68 triliun, sedangkan Elaine melepas 16,67 juta saham senilai Rp43,13 miliar. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Low Tuck Kwong menyusut menjadi sekitar 2,76 miliar saham atau 8,30 persen, sementara kepemilikan Elaine turun menjadi 7,33 miliar saham atau sekitar 22 persen.
Direktur Bayan Resources, Jenny Quantero, menegaskan bahwa transaksi pengalihan saham tersebut tidak berdampak material negatif terhadap operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perusahaan. Transaksi itu juga tidak mengubah pengendalian perusahaan. Setelah serangkaian perubahan kepemilikan saham ini, PT Bayan Resources Tbk dijadwalkan menyelenggarakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 23 November 2026. Daftar pemegang saham yang berhak hadir dalam rapat tersebut akan ditentukan per 29 Oktober 2026 pukul 16.15 WIB.
Di sisi lain, pasar modal Indonesia mencatatkan salah satu periode perdagangan terburuk dalam sejarah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 14,91 persen dalam sepekan hingga penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, berakhir pada posisi 5.185,11. Tekanan berat yang memicu aksi jual masif ini didorong oleh dua sentimen utama, yakni ancaman penurunan status bursa oleh MSCI ke kategori Standalone Market serta dinamika akuisisi saham BYAN oleh Haji Isam.
Penyedia indeks global MSCI secara resmi membuka putaran konsultasi pada 15 Oktober 2026 untuk meninjau status MSCI Indonesia Indexes. MSCI mempertimbangkan menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kategori Standalone Market merupakan kelompok khusus di luar Emerging Market maupun Frontier Market, yang saat ini dihuni oleh negara-negara seperti Argentina, Lebanon, Palestina, Ukraina, hingga Zimbabwe. Periode konsultasi ini dibuka hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Ketidakpastian jangka panjang ini memicu kekhawatiran pelepasan portofolio secara otomatis oleh dana pasif global. Ketegangan pasar kian diperberat oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah di kisaran Rp18.027 hingga Rp18.038 per dolar AS.
Di tengah badai tersebut, langkah Low Tuck Kwong memborong kembali saham BYAN dinilai sebagai sinyal kepercayaan diri terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Meski kepemilikan langsungnya sempat menyusut akibat divestasi, aksi pembelian di harga Rp11.200 per saham menunjukkan komitmen Low Tuck Kwong untuk tetap menjadi pengendali. Pasar pun menanti hasil RUPSLB pada 23 November 2026 yang akan menentukan arah baru tata kelola BYAN.
Kesimpulan: Rangkaian aksi korporasi Low Tuck Kwong—dari divestasi Rp26 triliun ke Haji Isam hingga pembelian kembali saham Rp1,12 triliun—mencerminkan strategi yang cermat di tengah ketidakpastian pasar. Meskipun IHSG tertekan ancaman reklasifikasi MSCI, keputusan Low Tuck Kwong untuk kembali memperkuat kepemilikan di BYAN menjadi sinyal positif bagi investor mengenai keyakinan terhadap fundamental emiten batu bara tersebut.
