Levante di Ambang Sejarah: Drama Comeback, Badai Cedera, dan Bayang-Bayang Sanksi

Foto: Istimewa

Levante di Ambang Sejarah: Drama Comeback, Badai Cedera, dan Bayang-Bayang Sanksi

Kalimantan Update – 19 Oktober 2026 | VALENCIA — Nama levante kembali mencuri perhatian publik sepak bola Spanyol. Klub yang berbasis di Valencia itu tengah menjalani musim penuh liku: di satu sisi mereka tampil heroik dengan gol-gol dramatis di menit akhir, namun di sisi lain rentetan hasil buruk dan sanksi disipliner membuat posisi mereka kian terpuruk. Dalam sepekan terakhir, levante menjadi bahan perbincangan mulai dari lapangan hijau hingga meja komite disiplin.

Kisah epik levante terlihat jelas saat bertandang ke markas Deportivo de A Coruña di Riazor. Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Bil Nsongo, pasukan Luis Castro bangkit dan menyamakan kedudukan melalui Dani Requena pada menit ke-82. Gol tersebut menjadi bukti nyata tren menakjubkan: enam dari dua belas gol levante musim ini lahir setelah menit ke-75. Sebelumnya, melawan Sevilla di Ciutat de Valencia, dua dari tiga gol mereka tercipta pada menit 90+2 dan 90+10 lewat aksi Dela dan Ifeanyi Ndukwe. Bahkan saat kalah dari Barcelona, gol Iván Romero dan Roger Brugué hadir pada menit 79 dan 88. Pola serupa terjadi ketika levante menghancurkan Betis 5-2 berkat gol Jon Ander Olasagasti di menit 90+5.

Namun, semangat pantang menyerah itu nyatanya belum berbuah kemenangan. Levante kini mencatat lima pertandingan tanpa kemenangan—rekor terburuk Luis Castro sejak menukangi klub. Rangkaian hasil buruk dimulai dari imbang 0-0 melawan Málaga, lalu kalah dari Barcelona (2-4) dan Villarreal (3-1), serta bermain imbang 3-3 dengan Sevilla. Satu-satunya kemenangan musim ini diraih atas Betis hampir dua bulan lalu. Meski demikian, secara keseluruhan performa Castro terbilang positif: dari 30 laga, ia menorehkan 10 kemenangan, 9 imbang, dan 11 kekalahan, dengan 42 gol dicetak dan 48 kebobolan.

Di luar lapangan, levante juga harus menerima kenyataan pahit. Komite Kompetisi menjatuhkan denda 602 euro kepada klub akibat insiden pelemparan botol oleh suporter dalam laga melawan Sevilla di Ciutat de Valencia. Denda tersebut menuai kontroversi karena dianggap terlalu ringan dibandingkan hukuman yang diterima Sevilla (45.000 euro) dan Betis (300 euro) pada musim sebelumnya. Dalam laporan wasit Cordero Vega, insiden terjadi pada menit ke-95 setelah gol Isaac Romero, ketika suporter melontarkan botol plastik dan benda lain ke area perayaan gol. Meski wasit menyebut tidak ada benda yang mengenai pemain, sejumlah rekaman video menunjukkan hal sebaliknya.

Kontroversi ini menambah beban bagi levante yang tengah berjuang keluar dari keterpurukan. Pelatih Luis Castro dijadwalkan memimpin sesi latihan intensif guna mempersiapkan laga tunda melawan Athletic Club pada Rabu mendatang—pertandingan yang sempat ditunda akibat badai besar. Laga tersebut menjadi peluang emas untuk memutus tren negatif dan membuktikan bahwa semangat epik levante bukan sekadar ilusi di menit-menit akhir.

Di sisi lain, cuaca ekstrem yang melanda Spanyol turut memengaruhi jadwal kompetisi. Badai dan hujan lebat yang mengguyur wilayah Levante, termasuk Valencia, sempat membuat beberapa pertandingan ditunda. Meski demikian, lapangan Marassi di Genoa—yang juga diterjang hujan deras—tetap menggelar laga Sampdoria melawan Arezzo berkat drainase yang baik. Fenomena cuaca ini menjadi pengingat bahwa faktor eksternal kerap menjadi variabel tak terduga dalam sepak bola modern.

Dengan segala drama yang ada, levante kini berada di persimpangan. Konsistensi di menit akhir harus diimbangi dengan performa solid sejak awal pertandingan. Jika tidak, julukan tim epik hanya akan menjadi penghibur tanpa trofi. Komite disiplin pun diharapkan meninjau ulang standar hukuman agar tercipta keadilan bagi semua klub. Publik Valencia menanti apakah levante mampu bangkit dan mengubah epik menjadi kemenangan nyata, atau justru terus terpuruk dalam bayang-bayang inkonsistensi.

Tags: