Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Kekalahan memalukan menimpa juventus f.c. di hadapan pendukungnya sendiri. Pada laga pekan ketujuh Serie A di Allianz Stadium, Minggu malam (18/10/2026), Bianconeri tumbang 0-3 dari Lazio, sebuah hasil yang mengejutkan sekaligus mempertegas krisis yang tengah melanda klub raksasa Italia tersebut. Kekalahan ini menjadi pukulan telak kedua secara beruntun bagi juventus f.c. setelah jeda internasional pertama musim ini, dan membuat posisi mereka terpuruk di peringkat kedelapan klasemen.
Lazio tampil impresif sepanjang pertandingan. Gol pembuka dicetak Provstgaard melalui sundulan pada menit ke-37, disusul gol indah Isaksen pada menit ke-66, dan ditutup Dele-Bashiru lewat serangan balik cepat di menit ke-89. Kemenangan ini membawa Lazio menyamai perolehan poin Inter di puncak klasemen dengan 19 poin, sekaligus menjadi kemenangan pertama mereka di Turin dalam hampir satu dekade.
Bagi juventus f.c., penampilan di laga ini jauh dari standar klub sekelas mereka. Tekanan tinggi yang diterapkan lini depan Lazio sejak awal membuat pertahanan tuan rumah kerap kelabakan. Begitu merebut bola, anak asuh Gennaro Gattuso langsung beralih ke fase menyerang dengan transisi cepat yang sulit dibendung. Bahkan ketika menguasai bola, Lazio tetap menjaga organisasi pertahanan dengan disiplin, meredam setiap upaya serangan Juventus yang tampak tumpul dan minim ide.
Rapor individu para pemain juventus f.c. pun mencerminkan betapa buruknya performa malam itu. Sejumlah media Italia memberikan nilai rendah, dengan Bremer dan Celik menerima penilaian paling keras karena kehilangan konsentrasi pada gol pertama dan kedua. Douglas Luiz dinilai lambat dan minim gagasan, sementara kiper Vicario juga tak luput dari kritik akibat beberapa kesalahan krusial. Manajer Luciano Spalletti, yang absen mendampingi tim karena sanksi kartu, turut mendapat nilai buruk, sementara asisten Domenichini memimpin dari bangku cadangan.
Kondisi tim memang sedang tidak ideal. Sejumlah pemain kunci harus absen karena cedera, termasuk Locatelli, Thuram, Yildiz, dan Ekhator, sehingga lini tengah dan serang juventus f.c. menjadi sangat tipis. Meski demikian, kekalahan telak di kandang sendiri tetap dinilai sebagai hasil yang sulit dimaafkan mengingat tingginya standar klub yang selama ini menjadi representasi sepak bola Italia.
Desakan terhadap Spalletti pun semakin besar. Manajemen klub sejauh ini masih menyatakan dukungan, namun hasil buruk membuat spekulasi mengenai masa depannya tak terhindarkan. Nama Antonio Conte kembali mencuat sebagai kandidat utama untuk menggantikan Spalletti apabila klub memutuskan melakukan perubahan. Kedekatan Conte dengan juventus f.c. membuat isu kembalinya ia ke Turin terus bergulir selama tim kesulitan meraih hasil positif.
Mantan pemain seperti Fernando Llorente bahkan secara terbuka mendukung kemungkinan Conte kembali. Sementara itu, pengamat sepak bola Nicola Ventola menyoroti pentingnya konsistensi dan menghindari kesalahan individual, dengan menyebut Juventus sebagai contoh klub yang harus berbenah agar tidak terus kehilangan poin akibat kelalaian kecil.
Dengan jarak delapan poin dari pemuncak klasemen, juventus f.c. dituntut segera bangkit. Kembalinya para pemain cedera serta hadirnya Spalletti di bangku cadangan menjadi harapan utama untuk memulihkan performa. Namun, jika tren negatif berlanjut, tekanan untuk melakukan perubahan besar di kursi pelatih akan semakin sulit dibendung.
Kekalahan dari Lazio bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan cermin dari berbagai persoalan yang tengah dihadapi juventus f.c., mulai dari rapuhnya konsentrasi pertahanan, tumpulnya lini serang, hingga ketidakpastian arah tim. Bagi klub sebesar Juventus, standar tinggi adalah keniscayaan. Kini bola berada di tangan Spalletti dan para pemain untuk membuktikan bahwa mereka masih layak mengenakan kostum hitam-putih dan mampu mengembalikan kejayaan Bianconeri di panggung Serie A maupun Eropa.

