Misi Rahasia Hegseth ke Israel: Sinyal Perang Baru atau Dukungan Elektoral untuk Netanyahu?
Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Kunjungan mendadak Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth ke Israel pada Senin (19/10) memicu spekulasi luas di kalangan pengamat politik dan militer. Dalam lawatan yang tidak diumumkan sebelumnya, Hegseth bertemu langsung dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Pangkalan Udara Ovda, Israel selatan, lokasi yang dikenal sebagai tempat penempatan pesawat tempur dan pesawat pengisian bahan bakar udara AS. Pertemuan ini terjadi hanya delapan hari sebelum pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober, menjadikannya momen yang sangat sensitif secara politik.
Menurut laporan kantor berita Axios yang mengutip dua sumber yang mengetahui pertemuan tersebut, Hegseth juga menyempatkan diri bertemu dengan sejumlah tentara AS yang bertugas di pangkalan itu. Namun, baik Pentagon maupun Kedutaan Besar Israel di Washington menolak memberikan komentar resmi. Sementara itu, kantor Netanyahu tidak merespons permintaan konfirmasi hingga berita ini diturunkan. Hegseth sendiri melalui unggahan di platform X hanya menyatakan bahwa dirinya berada di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (Centcom) dan membagikan foto saat memberikan arahan kepada personel militer yang disebutnya sedang menjalankan “misi bersejarah”. Ia tidak menyebut lokasi spesifik maupun nama Israel dalam unggahannya.
Kunjungan ini menjadi perhatian karena terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan penuh terhadap pencalonan kembali Netanyahu. Dalam unggahan panjang di Truth Social, Trump menyebut dukungannya sebagai “dukungan penuh dan total” untuk Netanyahu, memuji kepemimpinan serta kemitraannya dengan Washington, khususnya dalam menghadapi Iran. Trump bahkan memperingatkan bahwa AS mungkin terpaksa memikul beban sendiri jika pemilih Israel memilih pemimpin lain. Dukungan terbuka seperti ini jarang terjadi dalam sejarah hubungan AS-Israel, terutama menjelang pemilu yang diperkirakan berlangsung ketat antara Netanyahu dan penantang utamanya, mantan Kepala Staf Gadi Eisenkot.
Yang menarik, sikap Trump tidak sejalan dengan Wakil Presiden JD Vance. Dalam sebuah wawancara pada Senin, Vance menegaskan bahwa dirinya tidak akan mencampuri urusan pemilihan di Israel dan menolak memberikan dukungan kepada Netanyahu. Pernyataan Vance ini kontras dengan langkahnya awal tahun lalu ketika mendukung Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban saat berkunjung ke Budapest. Perbedaan sikap antara Trump dan Vance mencerminkan dinamika internal pemerintahan AS terkait kebijakan luar negeri, khususnya menyangkut Israel.
Selain dimensi politik elektoral, kunjungan Hegseth juga dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Laporan Axios menyebut bahwa pertemuan di Pangkalan Udara Ovda bertepatan dengan pembicaraan mengenai kemungkinan dilanjutkannya operasi militer besar terhadap Iran. Seorang pejabat militer senior AS yang berbicara kepada CBS News dengan syarat anonim mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut terjadi saat Trump kembali melontarkan wacana melanjutkan operasi militer terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS bulan depan. Dalam percakapan telepon yang direkam dan disiarkan Netanyahu pada Senin, Trump terdengar mengatakan, “Saya rasa Anda akan meraih kemenangan besar. Anda adalah orang yang saya inginkan di sisi saya, Bibi.” Netanyahu membalas, “Donald, kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita akan menyelesaikannya bersama, dan tidak ada orang lain yang akan melakukannya.”
Pernyataan tersebut merujuk pada serangan bersama AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Hampir delapan bulan setelah serangan itu, rezim klerikal Iran masih bertahan, dan Netanyahu kembali menyebut Iran sebagai “bahaya terbesar”. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh AS sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ketidakstabilan di Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa perang yang dipaksakan oleh AS dan “rezim Zionis” serta blokade ekonomi terhadap pelabuhan Iran merupakan sumber utama ketidakamanan di kawasan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Menlu Rusia Sergey Lavrov yang berkunjung ke Teheran untuk pertama kalinya sejak perang dimulai.
Di tengah dinamika tersebut, situasi di kawasan semakin memanas. Serangan Houthi yang didukung Iran terhadap infrastruktur Saudi Arabia terus meningkat, termasuk serangan terhadap bandara internasional dan fasilitas minyak. Konferensi investasi besar Saudi, Future Investment Initiative, terpaksa ditunda hingga 2027 akibat serangan berulang. Parlemen Mesir juga menunda pembahasan mengenai izin dukungan militer ke Saudi. Sementara itu, harga minyak dunia sempat melonjak mendekati level tertinggi lima bulan akibat serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.
Kunjungan rahasia Hegseth ke Israel dengan demikian bukan sekadar kunjungan protokoler. Ia adalah sinyal kuat bahwa Washington di bawah Trump berkomitmen penuh terhadap Netanyahu, baik dalam konteks pemilu Israel maupun dalam menghadapi Iran. Namun, langkah ini juga menuai kritik karena dianggap mencampuri urusan dalam negeri Israel dan berpotensi memperkeruh stabilitas kawasan. Dengan pemilu yang tinggal hitungan hari, dunia akan menyaksikan apakah dukungan terbuka AS mampu mengubah peta politik Israel atau justru menjadi bumerang bagi Netanyahu.
