Siklon ARNAB Guncang India-Nepal, BMKG Tegaskan Indonesia Tetap Aman
Kalimantan Update – 28 Oktober 2026 | Kemunculan siklon tropis ARNAB di Teluk Benggala menjadi sorotan dunia, terutama setelah badai besar ini memicu evakuasi massal di India dan memunculkan peringatan cuaca ekstrem di Nepal. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa siklon tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap kondisi cuaca maupun gelombang laut di Indonesia.
Siklon Tropis ARNAB terbentuk di Teluk Benggala pada 26 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, setelah sebelumnya berkembang dari bibit siklon tropis 98B yang dipantau sejak 19 Oktober 2026 di sekitar Laut Andaman. Berdasarkan analisis BMKG pada 27 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, pusat siklon berada di koordinat 16,0 derajat Lintang Utara dan 84,8 derajat Bujur Timur, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 90 knot atau sekitar 166 kilometer per jam serta tekanan udara minimum 968 hPa.
Sistem tersebut berada di luar wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Dalam 24 jam berikutnya, ARNAB diprakirakan bergerak ke arah barat-barat laut menuju daratan India dan mulai melemah dalam dua hari berikutnya.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa hujan berintensitas sedang hingga ekstrem yang mengguyur sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra Utara dalam tiga hari terakhir bukan disebabkan langsung oleh siklon tropis ARNAB. Kondisi tersebut justru dipengaruhi dinamika atmosfer lain, antara lain sirkulasi siklonik di Laut Andaman sebelah utara Aceh, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), dan Gelombang Rossby Ekuatorial.
"Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keberadaan Siklon Tropis ARNAB karena berdasarkan analisis terkini, sistem tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut di Indonesia. Namun, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah, terutama di Sumatra bagian utara," kata Guswanto di Jakarta, Selasa (27/10).
Meski tidak berdampak langsung ke Indonesia, curah hujan tinggi tetap tercatat di sejumlah titik. Curah hujan di Aceh Selatan mencapai 187 milimeter dalam sehari pada 25 Oktober 2026. Selain itu, curah hujan harian di Pos Hujan Lobu Rampah, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatra Utara, tercatat mencapai 103 milimeter pada tanggal yang sama.
Evakuasi Besar-Besaran di India
Di sisi lain, dampak siklon ARNAB terhadap kawasan Asia Selatan sangat serius. Ribuan penduduk di pesisir timur India telah dievakuasi ketika badai besar tersebut mengancam wilayah negara bagian Andhra Pradesh dan Odisha. Seorang saksi mata melaporkan perahu-perahu telah tertambat di pelabuhan Visakhapatnam, Andhra Pradesh, saat hujan dan angin kencang mulai melanda pada Selasa pagi.
Intensitas ARNAB meningkat sejak Senin dan diperkirakan mencapai wilayah pesisir Andhra Pradesh pada Rabu pagi, mengakibatkan hujan deras dan angin kencang di sana serta di negara bagian Odisha. Sekitar 50.000 orang telah direlokasi ke tempat penampungan di Andhra Pradesh, bagian dari sekitar 400.000 orang yang mungkin memerlukan evakuasi.
Direktur Pelaksana Otoritas Penanggulangan Bencana Negara Bagian Andhra Pradesh, Prakhar Jain, menyatakan proses evakuasi masih berlangsung. Sementara itu, di Odisha, meski belum ada evakuasi, pemerintah telah memutuskan untuk menutup seluruh sekolah dan perguruan tinggi di lima distrik pada hari Selasa dan Rabu sebagai tindakan antisipasi.
Beberapa perjalanan kereta juga dibatalkan, khususnya perjalanan di wilayah timur India, sedangkan layanan kereta sepanjang 53 rute di sepanjang pantai selatan dihentikan sementara selama dua hari. Otoritas juga memberlakukan larangan menangkap ikan di laut serta menyiagakan tim penyelamat untuk menghadapi kemungkinan dampak badai.
Ancaman Badai Salju di Nepal
Dampak siklon ARNAB juga diantisipasi akan mempengaruhi Nepal. Pihak berwenang memperingatkan wisatawan untuk menghindari kawasan dataran tinggi. Badai tersebut diprediksi akan memicu hujan deras, badai salju, dan longsoran salju di wilayah Himalaya mulai Kamis malam hingga Sabtu (31/10/2026).
Risiko ini memunculkan kekhawatiran mengingat Nepal masih dalam fase pemulihan dari banjir bandang pada Agustus lalu yang menyebabkan sekitar 1.500 korban jiwa. Teluk Benggala sendiri diketahui sebagai salah satu daerah utama pembentukan siklon tropis di dunia, membuat pesisir timur India sangat rentan terhadap bencana yang terkait dengan aktivitas laut.
Waspada Cuaca Ekstrem di Sumatra Utara
Di dalam negeri, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi melanda sebagian besar wilayah Sumatra Utara hingga 30 Oktober 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang, angin kencang, hingga tanah longsor.
Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa sirkulasi siklonik di perairan utara Aceh, termasuk keterkaitan dengan siklon Arnab yang terbentuk di laut India, memicu pembentukan daerah pertemuan angin (konfluensi) serta perlambatan kecepatan angin (konvergensi). Kondisi itu membentang dari wilayah pantai barat, lereng barat, kawasan pegunungan, hingga lereng timur Sumatra Utara.
Kondisi tersebut diperparah oleh suhu muka laut yang terpantau cukup hangat pada kisaran 30 hingga 31 derajat Celsius serta kelembapan udara di seluruh lapisan atmosfer yang tercatat sangat tinggi. Kombinasi faktor-faktor ini menyuplai pasokan uap air dalam jumlah melimpah ke daratan Sumatra Utara, sehingga pertumbuhan awan konvektif (cumulonimbus) berlangsung secara masif dan cepat.
"Pertumbuhan awan hujan pekat ini diprediksi terkonsentrasi di wilayah pantai barat, lereng barat, pegunungan, serta lereng timur Sumut," ujar Hendro dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Berdasarkan pemetaan BMKG, potensi cuaca ekstrem ini mengintai setidaknya 24 kabupaten dan kota di Sumatra Utara, dengan hujan berpeluang mengguyur dengan durasi cukup lama, yakni lebih dari tiga jam berturut-turut, disertai sambaran petir dan terpaan angin kencang sejak siang, malam, hingga dini hari.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan siklon melalui data pengamatan, citra satelit, dan model prediksi cuaca, serta telah mengeluarkan peringatan dini agar pemerintah daerah dan masyarakat melakukan langkah antisipasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan tetap menjadikan peringatan dini resmi sebagai acuan utama. Pembaruan informasi cuaca akan terus disampaikan melalui kanal resmi BMKG guna meminimalisir risiko dampak cuaca ekstrem di seluruh pelosok Indonesia.
Secara keseluruhan, keberadaan siklon tropis ARNAB menjadi pengingat bahwa dinamika atmosfer di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara saling berkaitan. Meski Indonesia relatif aman dari dampak langsung badai ini, kewaspadaan terhadap hujan lebat, angin kencang, dan potensi bencana hidrometeorologis tetap menjadi prioritas, terutama di wilayah Sumatra bagian utara yang masih berada dalam intaian cuaca ekstrem hingga akhir Oktober.
