Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Pertandingan real madrid vs roma pada matchday kedua fase liga Liga Champions 2026/2027 di Stadio Olimpico, Rabu (14/10/2026), berakhir dengan drama luar biasa. Real Madrid menang comeback 4-3 setelah sempat tertinggal 1-3, sebuah hasil yang langsung memicu reaksi keras dari pelatih Roma, Gian Piero Gasperini. Laga real madrid vs roma ini juga menandai kembalinya Jose Mourinho ke Olimpico, tempat ia pernah menjadi ikon, sekaligus reunion dengan Antonio Ruediger dan Hysen.
Roma sebenarnya tampil lebih dominan. Gasperini menerapkan man-to-man defense di seluruh lapangan yang membuat build-up Madrid kacau balau. Statistik menunjukkan Roma unggul hampir 100 umpan lebih banyak, dengan persentase akurasi umpan 3% lebih tinggi dan selisih 20% pada umpan panjang. Gawang Madrid terancam berulang kali, sementara dua pivot Mourinho, Valverde dan Tchouameni, kembali kesulitan mengalirkan bola ke depan.
Jalannya pertandingan penuh kejutan. Roma membuka keunggulan pada menit 20 lewat tembakan Marten de Roon dari luar kotak penalti yang berbelok arah. Lima menit kemudian Kylian Mbappe menyamakan kedudukan. Namun Donyell Malen mencetak brace pada menit 51 dan 57, membuat Roma memimpin 3-1 dan tampak mengunci kemenangan.
Namun sepak bola punya cerita lain. Carlos Espi mencetak gol pada menit 83, disusul Endrick pada menit 85, dan Antonio Ruediger menuntaskan comeback pada menit 90. Dalam tujuh menit yang gila, real madrid vs roma berbalik total. Gasperini pun tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Kalah dengan cara seperti itu sungguh menghancurkan. Kami pantas menang dan kami mempersulit diri sendiri dalam tujuh menit karena tiga sepak pojok. Mereka tidak menciptakan bahaya, dan itu yang paling menyakitkan,” ujar Gasperini usai laga, seperti dikutip dari liputan langsung di Olimpico. Ia bahkan menyindir bahwa Genoa, lawan yang ia hadapi berikutnya, secara taktik lebih menyulitkan Madrid meski tanpa pemain bintang.
Kemenangan ini tercatat sebagai kali kelima Real Madrid menang di Liga Champions setelah tertinggal dua gol. Sebelumnya mereka melakukan hal serupa melawan Borussia Dortmund (2024), Liverpool (2023), AS Roma di Bernabeu (2004), dan Stade Reims pada final edisi perdana 1956. Menurut data Opta per 15 Oktober 2026, Madrid menjadi tim paling sering meraih kemenangan dari ketertinggalan dua gol dalam sejarah UCL, memperkuat status mereka sebagai raja kompetisi dengan 15 trofi.
Menariknya, laga real madrid vs roma ini juga menjadi panggung bagi para pemain muda. Endrick (20), Arda Guler (21), dan Carlos Espi tampil sebagai pahlawan. Di klub seketat Madrid, ruang bagi pemain muda memang sempit, tetapi malam itu justru “batu permata mentah” itu yang bersinar paling terang. Sementara itu, masalah struktural Madrid belum sepenuhnya teratasi. Hanya dua clean sheet dari sepuluh laga resmi musim ini menjadi alarm bagi Mourinho, terutama karena formasi pertahanan yang seharusnya menjadi nyawa tim belum terbangun dengan baik.
Kritik terhadap duo pivot juga semakin tajam. Dibandingkan De Roon (35) yang mencetak gol pembuka, Valverde (28) menempuh jarak sekitar 1 km lebih sedikit, sedangkan Tchouameni (26) hanya unggul di dua dari sepuluh indikator defensif utama. Jika dua pemain yang seharusnya berada di puncak karier kalah statistik dari satu veteran, wajar bila pertahanan dan build-up sama-sama rapuh.
Meski demikian, tiga poin tetap milik Madrid. Kemenangan dramatis ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal mentalitas. Real Madrid kembali membuktikan bahwa mereka tak pernah mati sebelum peluit akhir. Bagi Roma, kekalahan ini menjadi luka yang sulit diterima, terutama karena mereka sudah merasa layak menang. Bagi Madrid, real madrid vs roma akan dikenang sebagai salah satu comeback paling liar di Olimpico, sekaligus pengingat bahwa di kompetisi ini, kualitas individu dan ketenangan di menit-menit akhir masih menjadi pembeda utama.

