Kalimantan Update – 20 Oktober 2026 | Harga batu bara Indonesia kembali menunjukkan tren positif. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa harga batu bara saat ini telah mencapai 154 dolar AS per ton untuk kalori 633. Angka tersebut disebut sebagai level tertinggi sejak tahun 2023, sebuah kabar yang disambut optimistis oleh pemerintah karena berpotensi mendongkrak penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral.
“Alhamdulillah sekarang harga batu bara kita mulai naik dan sekarang hari ini mencapai 154 dolar per ton untuk kalori 633, dan harapan kita memang adalah harganya bagus, produksinya kita naikkan,” kata Bahlil dalam keterangan pers seusai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2026).
Relaksasi Produksi Tetap Terbatas
Meski berharap produksi meningkat, Bahlil menegaskan pemerintah tetap memberlakukan relaksasi produksi secara terbatas. Kebijakan itu ditujukan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan batu bara sekaligus meningkatkan perolehan devisa.
“Sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand, tapi kita juga ingin dalam waktu dekat bagaimana devisa kita bisa masuk,” ucapnya.
Menurutnya, bila harga terus mengalami tren kenaikan, pemerintah bisa saja menaikkan izin produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara. Namun, penambahan volume produksi akan dilakukan secara hati-hati agar harga batu bara tidak turun dan tetap stabil di pasar global.
Pemasok Utama Dunia, tapi Belum Penentu Harga
Dalam forum Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Bahlil menyoroti posisi Indonesia dalam perdagangan batu bara dunia yang dinilai belum sebanding dengan pengaruh besarnya terhadap pasokan global. Ia memaparkan bahwa total kebutuhan batu bara dunia sekitar 8,9 miliar ton, sedangkan yang diperdagangkan hanya sebesar 1,3 miliar ton.
Berdasarkan data 2025, Indonesia menyuplai kurang lebih 540 juta ton atau setara dengan 43 persen dari total perdagangan batu bara global. Meski menyandang status sebagai pemasok utama, Bahlil menyayangkan penentuan harga batu bara selama ini masih banyak didikte oleh pedagang komoditas atau trader di luar negeri.
“Masalahnya adalah harganya ditentukan bukan oleh Indonesia. Harganya ditentukan oleh para trader yang bermain di luar negeri,” ujar Bahlil.
Untuk itu, mulai tahun 2026 pemerintah resmi mengubah pendekatan kebijakan pengelolaan. Intervensi dilakukan melalui pengaturan rencana kerja dan volume produksi batu bara nasional agar lebih selaras dengan kebutuhan pasar global.
Pembeli Asia Tunda Kontrak 2027
Di sisi lain, S&P Global Platts melaporkan adanya penambang batu bara Indonesia dan pembeli dari kawasan Asia yang menunda penandatanganan kontrak pasokan jangka panjang untuk 2027. Kondisi ini ditengarai terjadi akibat ketidakpastian ihwal kuota produksi dalam RKAB 2027 dan kebijakan ekspor satu pintu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Riset tersebut juga mengungkapkan sejumlah penambang menambahkan klausul perlindungan dalam kontrak, yang membuat komitmen pasokan bergantung pada kuota produksi RKAB 2027 yang disetujui pemerintah, serta persyaratan terkait kewajiban pasok domestik atau domestic market obligation (DMO).
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Harga batu bara kalori 633 | US$154 per ton |
| Kebutuhan batu bara dunia | 8,9 miliar ton |
| Volume perdagangan global | 1,3 miliar ton |
| Pasokan Indonesia (2025) | ±540 juta ton (43%) |
| ICP harian | US$105–106 per barel |
Hilirisasi Nikel dan Ekosistem Baterai
Selain membahas batu bara, Bahlil menyampaikan perkembangan positif program hilirisasi nikel. Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan sejumlah pabrik di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Pemerintah juga tengah mempersiapkan peresmian fasilitas produksi dalam ekosistem baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat, hasil kerja sama antara CATL asal Tiongkok dan BUMN Indonesia.
Di sektor energi, pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan serta kelancaran penyaluran bahan bakar minyak (BBM) di tengah kenaikan harga minyak dunia. Bahlil menjelaskan, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Senin berada di kisaran 105–106 dolar AS per barel, sementara rata-rata ICP periode Januari hingga Oktober 2026 berada pada rentang 91–92 dolar AS per barel.
Dengan harga batu bara yang menembus 154 dolar AS per ton, pemerintah berpeluang besar menggenjot penerimaan negara sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar energi global. Namun, tantangan tetap ada, terutama menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi, stabilitas harga, dan kepastian regulasi agar para pembeli dan penambang tidak ragu meneken kontrak jangka panjang. Ke depan, keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan RKAB dan tata kelola ekspor satu pintu yang tengah disiapkan pemerintah.

