Prancis Terbuka 2026: Ubed Kagetkan Jonatan, Fajar/Fikri Kehabisan Bensin di Paris

Foto: Istimewa

Prancis Terbuka 2026: Ubed Kagetkan Jonatan, Fajar/Fikri Kehabisan Bensin di Paris

Kalimantan Update – 22 Oktober 2026 | Arena Grand Paris menjadi saksi drama panjang bagi kontingen Indonesia pada ajang Prancis Terbuka 2026. Turnamen bulutangkis bergengsi BWF World Tour Super 750 ini menyajikan cerita getir sekaligus kejutan manis bagi Merah Putih. Di tengah atmosfer kompetisi yang ketat, hasil pahit harus diterima pasangan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, sementara tunggal putra muda Moh Zaki Ubaidillah justru mencuri perhatian lewat kemenangan atas seniornya sendiri.

Fajar/Fikri, yang datang ke Prancis Terbuka dengan status juara Denmark Terbuka pekan sebelumnya, terpaksa angkat koper lebih awal. Unggulan ketiga itu ditumbangkan wakil Chinese Taipei, Chiu Hsiang Chieh/Wang Chi-Lin, dalam dua gim langsung dengan skor 24-26 dan 13-21. Kekalahan ini menjadi tamparan tersendiri mengingat modal kepercayaan diri yang mereka bawa usai naik podium di Odense.

Usai pertandingan, Fajar mengakui bahwa lawan tampil dengan pertahanan yang amat kokoh. Ia juga tak memungkiri bahwa faktor kelelahan dan penurunan kondisi fisik akibat tampil back-to-back di tur Eropa cukup memengaruhi performa mereka di lapangan. “Kami juga merasa tekanan kami tidak ada power-nya ya. Secara fokus dan kondisi memang sudah tidak 100 persen, tapi itu bukan alasan, karena yang lain juga merasakan apalagi ada yang 3-4 turnamen berturut-turut,” kata Fajar.

Selain kelelahan, perubahan karakter shuttlecock di Paris yang cenderung lebih lambat dibanding Odense juga memaksa Fajar/Fikri bekerja ekstra keras. Hal itu membuat permainan terbaik mereka sulit keluar. “Ini menjadi evaluasi kami ke depan bagaimana menyiasati back-to-back turnamen dengan kondisi di lapangan yang berbeda. Di Denmark kemarin bolanya kencang, tapi di sini agak lambat. Permainan kami kurang baik hari ini,” tambahnya.

Sementara itu, Fikri menyayangkan kelalaian mereka di akhir gim pertama saat memegang momentum angka kritis. Kegalauan di gim pertama tersebut membuat Chiu/Wang semakin percaya diri menekan di gim berikutnya. “Kami punya kesempatan ambil gim pertama, tapi lepas. Di gim kedua mereka lebih safe, lebih menekan juga. Beberapa kali kami menyerang tidak tembus,” jelas Fikri.

Kejutan Ubed di Tengah Tekanan

Di sisi lain, kabar membanggakan datang dari sektor tunggal putra. Pebulutangkis muda Moh Zaki Ubaidillah, yang akrab disapa Ubed, sukses menciptakan kejutan besar usai menumbangkan seniornya yang menempati unggulan keempat, Jonatan Christie. Dalam duel yang berlangsung di Prancis Terbuka ini, Ubed tampil luar biasa lewat pertarungan rubber game ketat selama tiga gim untuk mengunci kemenangan 16-21, 21-17, dan 21-17.

“Sangat bersyukur hari ini bermain lancar dan diberikan kemenangan. Saya juga senang bisa memetik pelajaran dari Koh Jonatan di pertandingan tadi, kami sama-sama bisa belajar dan semuanya ngotot ingin menang. Suatu pengalaman yang berharga,” ujar Ubed.

Ubed membeberkan bahwa perubahan taktik di pertengahan laga menjadi kunci kebangkitannya usai kalah di gim pertama. Keberaniannya mempercepat tempo permainan terbukti ampuh merusak ritme bertahan Jonatan. “Di gim pertama saya masih ragu-ragu, temponya terlalu pelan. Di gim kedua saya coba menaikkan tempo, mempercepat permainan. Begitu juga di gim ketiga walaupun sempat kecolongan juga,” jelasnya.

Motivasi tinggi untuk bangkit usai menuai hasil kurang memuaskan pekan lalu di Denmark Terbuka menjadi pendorong utama Ubed tampil tanpa beban. Meski berhasil menundukkan sang senior, ia tetap merendah dan menyadari bahwa konsistensi performa masih menjadi pekerjaan rumah terbesar baginya. “Saya tidak mau kalah karena minggu lalu hasilnya kurang bagus dan tadi saya coba untuk mengeluarkan seluruh kemampuan dengan lebih baik lagi. Saya masih harus membuktikan konsistensinya karena performa saya masih naik turun,” tutur Ubed.

Panggung Paris yang Tak Hanya Soal Bulutangkis

Nama Prancis memang tengah menjadi sorotan dunia, bukan hanya karena Prancis Terbuka. Di dunia sepak bola, Paris Saint-Germain (PSG) baru saja menghantam Barcelona 4-2 dalam lanjutan Liga Champions di Stadion Parc des Princes. Keempat gol PSG dicetak oleh Desire Doue, Lucas Hernandez, Vitinha, dan Fabian Ruiz, sedangkan Barcelona membalas melalui Xavi Espart dan Lamine Yamal. Kemenangan ini mempertahankan PSG di puncak klasemen dengan sembilan poin.

Namun, di luar gemerlap olahraga, situasi keamanan Prancis tengah memanas. Pemerintah berencana memperkuat barisan kepolisian dengan mengerahkan pasukan militer dalam operasi keamanan besar-besaran untuk mengantisipasi protes lanjutan. Langkah drastis ini diambil setelah pemerintah mengakui kegagalan meredam gelombang kekerasan dan penjarahan pada akhir pekan lalu yang meluluhlantakkan Paris, Marseille, Lyon, dan berbagai kota lainnya.

Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyebut prioritas mendesak saat ini adalah memulihkan ketertiban. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengonfirmasi bahwa militer akan diturunkan berdampingan dengan aparat kepolisian. Kondisi malam yang relatif tenang akhirnya berhasil dicapai usai pemerintah memberlakukan jam malam yang ditargetkan di beberapa area paling parah dilanda kekacauan.

Bagi kontingen Indonesia, gelaran Prancis Terbuka 2026 masih menyisakan harapan. Kekalahan Fajar/Fikri menjadi cambuk untuk pembenahan program latihan, terutama dalam menyiasati jadwal turnamen yang padat. Sementara itu, kemenangan Ubed atas Jonatan Christie memberikan sinyal positif bahwa regenerasi tunggal putra Indonesia berjalan ke arah yang tepat. Ajang Prancis Terbuka pun menjadi panggung pembuktian bagi para pemain muda untuk unjuk gigi di level elite dunia.