Uang Beredar Tembus Rp10.587 Triliun, Ternyata Bukan Jumlahnya yang Jadi Masalah, Tapi Cara Mengelolanya
Kalimantan Update – 23 Oktober 2026 | Peran uang dalam kehidupan sehari-hari tak sekadar alat tukar untuk memenuhi kebutuhan. Lebih dari itu, uang menjadi penggerak utama roda perekonomian melalui kegiatan usaha dan investasi. Ketika dana digunakan untuk membeli barang dan jasa, menjadi modal usaha, hingga dialokasikan sebagai investasi, perputaran ekonomi pun terjadi dan menciptakan pendapatan serta lapangan kerja bagi masyarakat luas.
Namun, di tengah derasnya perputaran uang, muncul pertanyaan mendasar: apakah masalah utama keuangan masyarakat benar-benar soal jumlah, atau justru soal cara mengelolanya? Sejumlah pengamat keuangan menilai, banyak orang merasa kekurangan uang padahal kebutuhan utamanya masih terpenuhi. Persoalannya kerap terletak pada pengeluaran yang tidak tercatat dan anggaran yang tidak terbagi jelas.
Ketika Saldo Menipis Sebelum Akhir Bulan
Fenomena saldo yang cepat menipis meski gaji baru saja masuk menjadi tanda klasik pengelolaan uang yang belum rapi. Seseorang sering kali tidak bisa menyebutkan dengan jelas ke mana uangnya pergi selama sepekan terakhir. Pengeluaran kecil seperti parkir, ongkos kirim, kopi, camilan, hingga biaya admin sering luput dari perhatian, padahal jika diakumulasikan jumlahnya cukup besar dalam sebulan.
Kebiasaan memindahkan dana dari satu pos ke pos lain juga menjadi indikator anggaran yang belum berjalan semestinya. Ketika uang makan habis lalu mengambil dari pos transportasi, kemudian menutupinya dengan dana tabungan, kondisi tersebut menyelamatkan keadaan sesaat tetapi menggerus perencanaan jangka panjang. Solusinya sederhana, yakni membuat pos kebutuhan yang jelas seperti makan, transportasi, tagihan, belanja rumah, hiburan, dan tabungan sehingga setiap rupiah memiliki tujuan.
Godaan Promo dan Pembelian Spontan
Selain pencatatan, tantangan lain datang dari pembelian spontan bernilai kecil yang terjadi berulang kali. Ungkapan “cuma Rp20 ribu” atau “cuma Rp30 ribu” terdengar sepele, tetapi jika dilakukan berkali-kali dalam sehari, dampaknya signifikan terhadap kondisi keuangan bulanan. Godaan diskon juga sering membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena merasa rugi melewatkan promo.
Langkah bijak yang disarankan adalah memberikan batas khusus untuk uang jajan, menunda pembelian non-kebutuhan selama 24 jam, serta memeriksa daftar kebutuhan sebelum melakukan transaksi. Dengan begitu, seseorang dapat membedakan antara sekadar “masih ada uang” dan “masih ada uang yang memang boleh dipakai”.
Uang Beredar Tumbuh, Kredit Melaju Dua Digit
Di tingkat makro, dinamika uang justru menunjukkan geliat positif. Bank Indonesia mencatat jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp10.587,9 triliun pada September 2026, tumbuh 8,3 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Agustus 2026 sebesar 8,2 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 9 persen dan uang kuasi sebesar 7,3 persen.
Perkembangan tersebut dipengaruhi tiga faktor utama, yakni tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang tumbuh 24,4 persen, aktiva luar negeri bersih yang berbalik tumbuh 1 persen setelah sebelumnya terkontraksi, serta penyaluran kredit perbankan yang tetap tumbuh dua digit sebesar 12,7 persen meski melambat dibanding Agustus yang mencapai 13,3 persen. Artinya, uang terus berputar dan menopang aktivitas ekonomi nasional.
Digitalisasi Pembayaran di Pasar Rakyat
Perputaran uang itu juga terlihat di level paling bawah. Kebiasaan bertransaksi di pasar tradisional mulai berubah seiring meluasnya pembayaran digital melalui QRIS. Kementerian Perdagangan mencatat hingga 2025 sekitar 6.870 pasar rakyat telah mendapatkan fasilitasi digital yang melibatkan lebih dari 300 ribu pedagang. Peralihan dari uang tunai ke digital ini mempercepat transaksi sekaligus mendorong inklusi keuangan bagi pelaku usaha kecil.
Meski demikian, uang tunai masih memiliki cerita lain yang perlu diwaspadai. Dalam penggeledahan terkait dugaan korupsi di lingkungan Kabupaten Klaten, penyidik menemukan uang tunai senilai ratusan juta rupiah di Kantor BPK Perwakilan Provinsi Jawa Tengah. Temuan ini menjadi pengingat bahwa uang, di tangan yang salah, dapat berubah dari alat pembangunan menjadi objek penyimpangan.
Kesimpulan
Dari pasar rakyat hingga laporan bank sentral, uang terbukti menjadi nadi perekonomian yang menggerakkan usaha, investasi, dan kesejahteraan. Namun, besarnya jumlah uang beredar tidak otomatis menjamin ketenangan finansial setiap individu. Kuncinya tetap pada cara mengelola: mencatat pengeluaran, membagi anggaran dengan jelas, dan menahan diri dari pembelian impulsif. Dengan pengelolaan yang bijak, uang bukan hanya memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menopang masa depan yang lebih stabil.
