Kalimantan Update – 23 Oktober 2026 | Laga getafe vs lugano di ajang UEFA Conference League berubah menjadi mimpi buruk bagi Getafe. Kekalahan telak 2-5 di Coliseum pada Kamis malam, 22 Oktober 2026, bukan hanya mencoreng ambisi klub asal Madrid itu di kompetisi Eropa, tetapi juga memicu perang terbuka antara pelatih José Bordalás dan presiden klub Ángel Torres. Pertandingan getafe vs lugano yang semula diharapkan menjadi panggung kebangkitan justru menjadi titik ledakan kekecewaan yang selama ini terpendam.
Getafe sebenarnya memulai laga dengan harapan besar setelah Iván Azón membuka keunggulan. Namun, Lugano, klub asal Swiss yang oleh Bordalás dinilai hanya setara tim divisi dua Spanyol, mampu membalikkan keadaan secara dramatis. Babak pertama berakhir dengan skor 1-3, memaksa sang pelatih melakukan empat pergantian sekaligus saat turun minum. Hasil akhir 2-5 menjadi salah satu kekalahan terburuk Getafe di kompetisi Eropa dan menempatkan klub dalam pusaran krisis yang lebih besar.
Bordalás: Saya Merasa Ditipu
Dalam konferensi pers usai laga getafe vs lugano, Bordalás meluapkan kemarahannya secara terbuka. Ia menegaskan bahwa dirinya telah memperingatkan manajemen klub sejak Mei 2026 mengenai beratnya menjalani tiga kompetisi dengan kedalaman skuad yang terbatas. Menurutnya, janji-janji perekrutan pemain berkualitas tidak pernah ditepati.
“Saya merasa ditipu karena apa yang dijanjikan dari tahun ke tahun tidak dipenuhi. Saya marah. Sejak Mei saya sudah memperingatkan bahwa ini akan menjadi musim yang sangat sulit, dengan pertandingan setiap tiga hari. Terbukti kami tidak punya skuad yang memadai untuk itu,” ujar Bordalás dengan nada tegas.
Pelatih berusia 62 tahun itu juga mengakui bahwa keputusannya menurunkan pemain pelapis berakhir dengan bencana. Ia mengaku terpaksa memasukkan para pemain utama di babak kedua karena kekalahan semakin melebar. “Saya tidak bisa lagi memberikan istirahat kepada para pemain inti, dengan risiko cedera yang jelas, karena kami tidak memiliki skuad yang siap,” tambahnya. Bahkan, ia menyebut bahwa skuad Getafe saat ini “tidak cukup untuk tiga kompetisi, bahkan tidak cukup untuk satu kompetisi pun.”
Torres: Punya Muka Seperti Semen
Pernyataan Bordalás langsung mendapat respons keras dari Ángel Torres. Dalam wawancara eksklusif dengan Cadena SER pada Jumat pagi, presiden klub yang telah memimpin Getafe selama 30 tahun itu membalas dengan bahasa yang tak kalah tajam. Ia menilai tuduhan Bordalás sebagai bentuk ketidakloyalan dan kurangnya rasa hormat.
“Dia menandatangani kontrak di sini karena keinginannya sendiri. Bagaimanapun, pintunya terbuka. Kalau kami memang seburuk itu, apa yang bisa kami lakukan? Inilah Getafe,” kata Torres. Ia kemudian melontarkan kalimat yang langsung menjadi sorotan publik Spanyol: “Harus punya muka seperti semen untuk mengatakan kepada saya, setelah 30 tahun, bahwa saya telah menipunya.”
Torres menegaskan bahwa dirinya tidak berniat menjatuhkan sanksi kepada sang pelatih. Menurutnya, perselisihan ini bukanlah drama besar, dan ia yakin para pemain akan membuktikan di lapangan bahwa penilaian Bordalás keliru. “Dia berpikir satu hal, sekarang para pemain akan menunjukkan bahwa dia salah, titik. Yang penting adalah menang di Bilbao,” ujarnya.
Polemik Kualitas Skuad
Perbedaan pandangan mengenai kualitas skuad menjadi inti dari perseteruan ini. Bordalás menilai komposisi pemain saat ini tidak seimbang dan dibangun dari perpaduan pemain veteran serta taruhan yang belum terbukti. Sementara itu, Torres bersikeras bahwa Getafe memiliki salah satu skuad terbaik dalam sejarah klub dalam beberapa tahun terakhir.
- Bordalás: skuad tidak seimbang dan tidak siap menghadapi tiga kompetisi.
- Torres: skuad saat ini termasuk yang terbaik yang pernah dimiliki Getafe.
- Bordalás: merasa janji transfer tidak dipenuhi sejak Mei 2026.
- Torres: menolak tuduhan penipuan dan membuka pintu keluar bagi sang pelatih.
Kekalahan dalam getafe vs lugano juga memunculkan kritik dari kalangan suporter. Sejumlah penggemar menyoroti kebijakan transfer klub yang dinilai gagal mendatangkan pemain kreatif sesuai permintaan pelatih. Situasi ini menambah tekanan menjelang laga penting melawan Athletic Bilbao di La Liga pada akhir pekan.
Dampak bagi Masa Depan Getafe
Insiden getafe vs lugano menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan Bordalás di klub. Meski kontraknya baru diperpanjang pada musim panas lalu, hubungannya dengan manajemen kini berada di titik terendah. Publik sepak bola Spanyol menantikan apakah pernyataan saling serang ini akan berujung pada perpecahan permanen atau justru menjadi pemicu kebangkitan tim.
Yang jelas, laga getafe vs lugano telah mengungkap keretakan yang selama ini tersembunyi di balik layar. Konflik antara pelatih dan presiden bukan sekadar soal hasil pertandingan, melainkan cerminan ketidaksesuaian visi dalam membangun tim yang kompetitif. Bagi Getafe, tantangan sesungguhnya baru dimulai: menyatukan kembali ruang ganti yang terbelah dan membuktikan bahwa ambisi bermain di Eropa bukan sekadar ilusi. Kini bola berada di kaki para pemain untuk menjawab keraguan, sementara sang pelatih dan presiden harus mencari titik temu agar klub kesayangan publik Coliseum tidak tenggelam dalam badai internal yang berkepanjangan.
Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber: El Mundo, La Vanguardia, Relevo, Goal Indonesia

