Kalimantan Update – 23 Oktober 2026 | Pekan ketiga fase liga UEFA Europa League 2026/27 menghadirkan drama yang tak terlupakan, dan nama OFI Crete muncul sebagai salah satu pusat perhatian. Klub asal Yunani itu menjadi tuan rumah bagi Bayer Leverkusen dalam laga yang berakhir dengan skor 2-0, sekaligus menjadi panggung bagi sejumlah bintang yang tengah menanjak. Dari Pankritio Stadium yang terletak tepat di tepi Laut Mediterania, gelombang pertandingan Eropa bergulir dengan intensitas tinggi, menghadirkan cerita tentang pemain muda yang meledak, pelatih yang kehilangan kendali, dan tim-tim raksasa yang mulai menunjukkan taringnya.
Hofmann, Pahlawan Tak Terduga Leverkusen di OFI Crete
Kemenangan Bayer Leverkusen atas OFI Crete tidak lepas dari performa gemilang Jonas Hofmann. Menariknya, pemain asal Jerman itu awalnya tidak masuk dalam skuad Europa League Leverkusen. Namun cedera yang menimpa Martin Terrier membuka pintu bagi Hofmann, dan ia membalas kepercayaan tersebut dengan dua gol dalam rentang tiga menit pada akhir babak pertama, tepatnya pada menit ke-35 dan ke-38.
Gol pertama lahir dari tembakan jarak jauh Afonso Moreira yang hanya mampu ditepis kiper OFI, Klidman Lilo, sebelum bola disambar Hofmann di tiang dekat. Gol kedua bahkan lebih impresif, sebuah penyelesaian first-time sempurna ke sudut kiri bawah gawang dari luar kotak penalti. Meski Lilo tampil luar biasa dengan serangkaian penyelamatan penting, termasuk menggagalkan upaya Hofmann mencetak hattrick dan menepis tembakan keras Aleix Garcia, usahanya tak cukup menahan dominasi Werkself.
Kiper Leverkusen, Janis Blaswich, juga harus bekerja keras menghalau peluang tuan rumah, terutama tembakan Thiago Nuss di awal laga serta sepakan Taxiarchis Fountas yang membentur tiang. Kemenangan ini membawa Leverkusen meraih tiga kemenangan dari tiga laga, memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi delapan pertandingan di semua kompetisi, dan sempat menguasai puncak klasemen sementara. Bagi OFI Crete, kekalahan ini menjadi yang kedua beruntun, meski mereka setidaknya telah melewati tiga pertandingan tersulit melawan tim-tim dari lima liga top Eropa.
Nagida, Permata Kamerun yang Mengguncang Juventus
Di laga lain, nama Mahamadou Nagida mencuri perhatian. Bek kiri muda asal Kamerun berusia 21 tahun itu tampil menggila bersama Stade Rennais, termasuk saat melawan Juventus. Sebelumnya, Nagida menjadi aktor kunci kemenangan Rennais atas OFI Crete dengan mencetak satu gol dan terlibat dalam hampir setiap serangan berbahaya. Performa tersebut berlanjut ketika ia menjadi biang keladi gol pertama Rennes ke gawang Juventus dan memancing penalti lewat tembakannya yang mengenai tangan pemain lawan.
Pelatih Rennes, Franck Haise, tak sungkan memuji anak asuhnya. Menurutnya, Nagida adalah tipe pemain yang kualitasnya semakin menonjol dalam sistem empat bek yang ia terapkan. Kegigihan, ketepatan umpan, dan kedisiplinan bertahan membuat pemain kelahiran Douala itu kini dianggap sebagai salah satu bek kiri paling menjanjikan di Eropa. Media Italia pun ikut terpesona, menyebut para pengamat klub Serie A mulai mengincar sang pemain.
Nilai pasar Nagida dilaporkan melonjak drastis dari 5 juta euro menjadi 10 juta euro dalam beberapa bulan terakhir, dan kini diperkirakan minimal 20 juta euro dibutuhkan untuk merekrutnya pada akhir musim. FC Porto, Inter Milan, dan Juventus dikabarkan masuk dalam daftar peminat, sementara klub-klub Inggris belum menunjukkan minat serius. Rennes sendiri telah memperpanjang kontraknya hingga 2029, memastikan mereka masih bisa menikmati performa gemilang sang pemuda.
Milan Terpuruk, Bournemouth Bersinar
Drama lain terjadi di Bournemouth, di mana AC Milan harus menelan kekalahan telak 0-3. Kiper Mike Maignan diusir wasit setelah mendorong wajah gelandang Amerika Serikat, Tyler Adams, dalam situasi sepak pojok. Penalti pertama dan kedua yang dieksekusi Marcus Tavernier memperbesar keunggulan tuan rumah, sebelum Amine Adli menutup pesta dengan tendangan bebas melengkung yang indah. Kemenangan ini menjadi yang terbesar bagi Bournemouth di kampanye Eropa pertama mereka.
Sementara itu, Juventus harus puas berbagi angka 2-2 dengan Rennes setelah gol kemenangan Jhon Lucumi dianulir VAR. Nick Woltemade menyelamatkan satu poin bagi Bianconeri lewat penalti pada menit ke-67, mencetak gol ketiganya dalam tiga laga kompetisi tersebut.
Peta Kekuatan Europa League Mulai Terbentuk
Dengan hasil-hasil ini, persaingan di fase liga Europa League semakin memanas. Bayer Leverkusen, bersama Benfica, Ferencvaros, Olympiacos, dan Bournemouth, menjadi tim-tim yang mencatat tiga kemenangan dari tiga pertandingan. Sementara itu, OFI Crete masih mencari konsistensi, dan laga melawan klub-klub raksasa Eropa menjadi pelajaran berharga bagi skuad asuhan Christos Kontis.
Dari Crete hingga Bournemouth, dari Rennes hingga Turin, pekan ketiga Europa League menyajikan mozaik cerita yang kaya. Nama-nama seperti Hofmann dan Nagida membuktikan bahwa kompetisi kasta kedua Eropa ini tetap menjadi ladang subur bagi para pemain yang haus panggung. Bagi OFI Crete, meski harus menelan pil pahit, pengalaman bertemu tim-tim kelas atas akan menjadi modal berharga untuk perjalanan mereka selanjutnya di kompetisi ini. Europa League masih panjang, dan setiap pertandingan menyimpan potensi kejutan yang tak terduga.
Penulis: Tri Widodo
Editor: Rudi Hamdani
Sumber: Flashscore, Werkself-TV, Tutto Mercato, Canal+ Sport

