KALIMANTAN UPDATE - Pernah mendengar erotomania? Ternyata istilah yang viral di media sosial belum lama ini, merujuk pada gangguan mental tentang perasaan dicintai oleh seseorang, padahal nyatanya tidak.
Erotomania atau disebut juga sindrom de Clérambault diambil dari nama psikiater Prancis yang pertama kali menggambarkannya sebagai kelainan berbeda pada tahun 1921.
Erotomania sering kali berhubungan dengan gangguan kejiwaan lain, tetapi bisa juga terjadi dengan sendirinya.
Baca Juga: Diduga Fansite Korea Pelaku Kericuhan di Golden Disc Award 2024, Knetz Beri Tanggapan
Melansir laman Medical News Today, erotomania dikaitkan dengan gejala penyakit kejiwaan, termasuk skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan depresi mayor dengan ciri psikotik, gangguan bipolar, hingga penyakit Alzheimer.
Erotomania merupakan salah satu jenis gangguan delusi. Jenis lainnya termasuk delusi penganiayaan, kemegahan, atau kecemburuan.
Laporan kasus menunjukkan bahwa jaringan media sosial dapat memperburuk atau bahkan memicu keyakinan delusi yang terkait dengan erotomania.
Baca Juga: Badan Mata-mata Korea: Hamas Menggunakan Senjata Korea Utara Untuk Melawan Israel
Sebab, media sosial menghilangkan beberapa hambatan antara orang-orang yang tidak dikenal dan dapat dengan mudah digunakan untuk mengamati, menghubungi, menguntit, dan melecehkan orang-orang yang sebelumnya tidak dapat diakses sama sekali.
Platform media sosial dapat mengurangi privasi, sehingga membuat perilaku menguntit menjadi lebih mudah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa delusi dapat berkembang sebagai cara untuk mengelola stres atau trauma ekstrem. Genetika juga dapat berkontribusi pada perkembangan gangguan delusi.
Baca Juga: Mengenal 3 Capres Taiwan Yang Bertarung di Pemilu 2024
Lebih lanjut menurut pakar, sejauh ini erotomania tampak lebih sering terjadi pada wanita. Namun, beberapa penelitian menunjukkan pria juga memiliki kemungkinan yang sama untuk mengalaminya.
Kondisi erotomania biasanya muncul setelah masa pubertas, tetapi bisa juga umum terjadi sekitar usia paruh baya atau setelahnya.
"Sulit untuk memperkirakan seberapa sering hal ini terjadi, tetapi penelitian menunjukkan bahwa gangguan delusi, secara umum, menyerang sekitar 15 dari setiap 100.000 orang per tahun, dan wanita tiga kali lebih mungkin terdiagnosis dibandingkan pria," kata Gary Tucker, seorang psikoterapis berlisensi, dan kepala petugas klinis di D'amore Mental Health, dikutip dari Very Well Mind.
Artikel Terkait
Berkuliah di Kampus Diisi Mahasiswa Tak Mampu di Malaysia Hingga Pamer Bawa Lamborghini, Nadzirah Ridzuan Beri Klarifikasi
Usai Resmi Ditetapkan Bahasa Indonesia di UNESCO, Malaysia Protes
Foto dan Video Syur Wanita Berjilbab Viral di Media Sosial, Ternyata Pemeran Dikenal Pendiam Aslinya
Curah Hujan Tinggi Sebabkan Longsor di Pesanggrahan, 1 Korban Jiwa dan Lainnya Terluka Hingga Diungsikan
Video Jarwo Kwat Beri Pelukan Kepada Chateez Viral di Media Sosial, Pihak Produksi Buka Suara
Mengenal Lebih Dekat Clara Wirianda Lagi Viral di Media Sosial, Influencer Cantik Dirumorkan Miliki Hubungan Dengan Pejabat di Medan
Kecelakaan Tragis Caleg PPP Alex Kazjuda, Korban Terpental Dari Kursi Hingga Terkapar di Jalan
Usai Debat Ketiga Capres 2024, Ramai Postingan Sedih Lihat Situasi Prabowo Subianto
Apa Syarat dan Kapan Pendaftaran KIP Kuliah 2024? Cak Info Terbaru
5 Daftar Maskapai Indonesia Yang Tutup Usia
Negara Tanpa Adanya Utang, Macau Menempati Posisi Keempat Sebagai Negara Terkaya di Asia
Usai Majelis Hakim PN Jatim Jatuhkan Vonis Bebas Kepada Haris Azhar dan Fatia, Luhut Buka Suara
Apa Itu El Chudai, El Gemoy dan El Chef? Julukan Baru Disematkan Untuk Ketiga Capres
Meski Kelihatan Unik dan Terasa Nikmat, Ahli Gizi Sebut Kue Cromboloni Yang Viral Bisa Sebabkan Masalah Kesehatan
Kabar Terbaru Perang di Gaza: Israel Dikecam Membuat Dua Jurnalis Tewas Saat Kendaraan Mereka Jadi Sasaran Serangan Udara