KALIMANTAN UPDATE - Seorang gadis yang bernama Makhyatul Fikriah mahasiswi semester 7 Program Studi Ilmu Hukum (IH) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, dengan segala jerih perjuangannya berhasil meretas keterbatasan ekonomi dengan mendulang prestasi hingga mendapat beasiswa bisa keliling lima negara Asia.
Makhyatul Fikria perempuan muda yang bermimpi menjadi seorang hakim di Mahkamah Agung (MA), lahir di kota Kediri Jawa timur berasal dari keluarga sederhana.
"Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana, namun saya akan kejar mimpi saya menjadi seorang hakim agung di MA," tuturnya saat diwawancarai di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sambil memakan roti Minggu pagi.
Baca Juga: Pelepasan Kapal RS TNI KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 Turut Disaksikan Mahasiswa Asal Palestina
Makhya mengungkapkan, kuliah baginya adalah sebuah keniscayaan jika melihat pada kondisinya yang serba kekurangan walau Makhya sempat gagal seleksi masuk Perguruan Tinggi Negri (PTN) sebanyak 24 kali.
Menurut Makhya, perjalanannya mengenyam perguruan tinggi tak semulus yang diperkirakannya.
Makhya sempat diterima di sebuah kampus yang biaya uang pangkalnya tinggi, hingga akhirnya ia diterima di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung melaui jalur mandiri dan melalui beasiswa.
Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1445 H Pada 11 Maret 2024
"Saya sempat masuk salah satu Perguruan Tinggi Negri (PTN), hanya diterima jalur mandiri yang biaya pangkalnya besar dengan kondisi ayah saya yang sakit. Sampai akhirnya saya diterima di UIN Bandung yang tidak terdapat uang pangkal dan saya coba cari beasiswa, dari sana saya berkomitmen untuk mengharumkan nama kampus UIN Bandung," ungkapnya dengan raut wajah serius.
Perjuangan sebelum masuk kuliah
Jauh di sebuah kota yang dijuluki kota Tahu, kota yang terbelah oleh dua sungai Histori dan Kali Branas yakni Kota Kediri. Tempat Makhya mendapatkan beasiswa sejak MTs karena keterbatasan ekonomi orang tua.
Baca Juga: Kabar Terbaru Kades Cantik Angely Emitasari Diduga Jadi Korban Penipuan Berkedok Investasi
Makhya mengungkapkan bahwa, saat masa SMA tepatnya pada tahun 2019 keluarganya hanya memiliki sebuah motor lawas seharga lima juta rupiah.
Bahkan, Makhya dan keluarga tidak memiliki Hp (Handphone) dan juga laptop. Di tengah ekonomi yang sedang serba keterbatasan Makhya berjuang menjadi seorang tulang punggung keluarga.
"Pendapatan bapak tidak menentu, ditambah dengan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Saat tahun 2019 saya mulai bekerja serabutan, mulai jualan figura foto, mengajar ngaji dan jasa pembuatan mahar," ungkap Makhya saat diwawancarai di UIN Bandung dengan raut wajah penuh semangat.
Artikel Terkait
Tempat Karaoke Orange di Tegal Kebakaran, Diketahui Terdapat 6 Korban Jiwa
Khofifah Balas Sindiran Cak Imin Terkait Meragukan Soal NU
Viral Video Dugaan Srikandi PSHT di Sidoarjo Dikeroyok Hingga Dilecehkan, Benarkah?
Anies Baswedan Janji Lanjutkan Program Jokowi Saat Berkampanye di Papua
Prabowo Usul Rumput Laut Gantikan BBM, Ahli Belanda Bilang Begini
Akun Instagram Mahfud MD Diretas, Ganjar Soroti Lemahnya Keamanan Siber
Timnas AMIN Tak Jadi Laporkan Penurunan Videotron Anies Baswedan ke Bawaslu, Kok Bisa?
Kode Redeem ML (Mobile Legends) Hari Ini Kamis 18 Januari 2024: Dapatkan Skin Hero, Diamond dan Battle Poin
7 Pasangan Mesum Digrebek Warga Jombang, Satu Diantaranya Masih Dibawah Umur
Kode Redeem FF (Free Fire) Hari Ini Kamis 18 Januari 2024: Dapatkan Skin Hero, Diamond dan Battle Poin
Redeem Code Genshin Impact (GI) Hari Ini Kamis, 18 Januari 2024: Dapatkan Primogems, Mora, Item Adv Lainnya
Cak Imin Terus Beri Serangan Hingga Berniat Hentikan Food Estate, Dinilai Merugikan Petani
Dorong Hilirisasi Digital, Gibran Rakabuming Raka Optimis Terkait Industri Game Lokal
Pernah Bebaskan 126 Kapal Batu Bara, Cerita Mahfud MD Gagalkan Mafia Tambang