sosok

Mengenal Lebih Dekat Makhyatul Fikria, Sosok Mahasiswi UIN Bandung Berprestasi dan Mimpikan Ingin Jadi Hakim di MA

Kamis, 18 Januari 2024 | 20:43 WIB
Makhyatul Fikriah mahasiswi semester 7 Program Studi Ilmu Hukum (IH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: ANTARA Jabar / Dok. Pribadi)

KALIMANTAN UPDATE - Seorang gadis yang bernama Makhyatul Fikriah mahasiswi semester 7 Program Studi Ilmu Hukum (IH) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung, dengan segala jerih perjuangannya berhasil meretas keterbatasan ekonomi dengan mendulang prestasi hingga mendapat beasiswa bisa keliling lima negara Asia.

Makhyatul Fikria perempuan muda yang bermimpi menjadi seorang hakim di Mahkamah Agung (MA), lahir di kota Kediri Jawa timur berasal dari keluarga sederhana.

"Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana, namun saya akan kejar mimpi saya menjadi seorang hakim agung di MA," tuturnya saat diwawancarai di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sambil memakan roti Minggu pagi.

Baca Juga: Pelepasan Kapal RS TNI KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 Turut Disaksikan Mahasiswa Asal Palestina

Makhya mengungkapkan, kuliah baginya adalah sebuah keniscayaan jika melihat pada kondisinya yang serba kekurangan walau Makhya sempat gagal seleksi masuk Perguruan Tinggi Negri (PTN) sebanyak 24 kali.

Menurut Makhya, perjalanannya mengenyam perguruan tinggi tak semulus yang diperkirakannya.

Makhya sempat diterima di sebuah kampus yang biaya uang pangkalnya tinggi, hingga akhirnya ia diterima di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung melaui jalur mandiri dan melalui beasiswa.

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1445 H Pada 11 Maret 2024

"Saya sempat masuk salah satu Perguruan Tinggi Negri (PTN), hanya diterima jalur mandiri yang biaya pangkalnya besar dengan kondisi ayah saya yang sakit. Sampai akhirnya saya diterima di UIN Bandung yang tidak terdapat uang pangkal dan saya coba cari beasiswa, dari sana saya berkomitmen untuk mengharumkan nama kampus UIN Bandung," ungkapnya dengan raut wajah serius.

Perjuangan sebelum masuk kuliah

Jauh di sebuah kota yang dijuluki kota Tahu, kota yang terbelah oleh dua sungai Histori dan Kali Branas yakni Kota Kediri. Tempat Makhya mendapatkan beasiswa sejak MTs karena keterbatasan ekonomi orang tua.

Baca Juga: Kabar Terbaru Kades Cantik Angely Emitasari Diduga Jadi Korban Penipuan Berkedok Investasi

Makhya mengungkapkan bahwa, saat masa SMA tepatnya pada tahun 2019 keluarganya hanya memiliki sebuah motor lawas seharga lima juta rupiah.

Bahkan, Makhya dan keluarga tidak memiliki Hp (Handphone) dan juga laptop. Di tengah ekonomi yang sedang serba keterbatasan Makhya berjuang menjadi seorang tulang punggung keluarga.

"Pendapatan bapak tidak menentu, ditambah dengan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Saat tahun 2019 saya mulai bekerja serabutan, mulai jualan figura foto, mengajar ngaji dan jasa pembuatan mahar," ungkap Makhya saat diwawancarai di UIN Bandung dengan raut wajah penuh semangat.

Halaman:

Tags

Terkini