Lazio Terbang ke Puncak Serie A: Taylor Bersinar, Gattuso Ciptakan Sejarah Baru
Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | Lazio menorehkan sejarah baru dalam dunia sepak bola Italia. Klub asal Roma itu berhasil menduduki puncak klasemen Serie A untuk pertama kalinya musim ini setelah mengalahkan Parma dengan skor 2-1 dalam laga pekan kedelapan yang digelar di Stadio Olimpico, Sabtu malam (24/10/2026). Kemenangan ini membawa Lazio mengoleksi 22 poin dari delapan pertandingan, unggul tiga poin atas Inter Milan yang baru akan bermain melawan Fiorentina pada Minggu siang.
Pertandingan berjalan sengit sejak awal. Lazio yang diasuh Gennaro Gattuso tampil dominan namun harus menunggu hingga menit ke-50 untuk membuka keunggulan. Gol pembuka lahir berkat aksi cerdik gelandang asal Belanda, Kenneth Taylor. Berawal dari umpan Reda Belahyane yang diarahkan ke Mattia Zaccagni, bola justru berbelok setelah mengenai bek Parma, Diego Carlos, dan jatuh tepat di kaki Taylor. Tanpa ragu, pemain berusia 24 tahun itu melepaskan tendangan kaki kiri dari luar kotak penalti yang meluncur deras ke sudut jauh gawang Parma.
Hanya delapan menit berselang, Lazio menggandakan keunggulan. Umpan silang Nuno Tavares berhasil dimanfaatkan dengan buruk oleh Diego Carlos yang kembali mencetak gol bunuh diri. Parma sempat memperkecil kedudukan melalui gol Simone Lontani di menit ke-95, namun tidak cukup untuk menghindari kekalahan. Bagi Taylor, ini adalah gol pertamanya di Serie A musim ini dalam delapan penampilan sejak bergabung dari Ajax pada Januari lalu.
Penampilan impresif Taylor mendapat pujian luar biasa dari media Italia. Corriere dello Sport memberinya nilai 7,5, tertinggi di antara pemain Lazio, dengan komentar bahwa ia adalah pemain terbaik di lapangan pada babak pertama dan golnya membuka jalan kemenangan. La Gazzetta dello Sport juga memberikan nilai 7,5 dan menobatkannya sebagai man of the match, menyebut golnya dibuat dengan presisi bedah. Sementara Sportmediaset memberi nilai 7, dan Sofascore memberikan 8,2, menjadikannya pemain dengan rating tertinggi di pertandingan tersebut.
Usai laga, Taylor tetap rendah hati. Di depan kamera DAZN, ia menegaskan bahwa kemenangan ini adalah hasil kerja keras tim. “Kami tidak tampil dalam performa terbaik, tetapi ini kemenangan yang layak. Parma bertahan dengan baik, namun kami menjaga fokus dan meraih tiga poin. Gattuso telah membangun sesuatu yang nyata: kami bertarung untuk satu sama lain,” ujarnya. Ia kemudian menutup wawancara dengan kalimat singkat dalam bahasa Italia, “Gran partita,” yang berarti pertandingan hebat.
Keberhasilan Lazio tak lepas dari peran Gattuso yang berhasil mengubah wajah tim. Musim lalu, Lazio hanya finis di peringkat kesembilan. Kini, dengan tujuh kemenangan dan satu hasil imbang, mereka menjadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan di Serie A. Gattuso juga dianggap berhasil mengembangkan potensi pemain seperti Reda Belahyane, yang sebelumnya tersisih di era Maurizio Sarri. Gelandang asal Maroko itu kini menjadi motor permainan Lazio dengan akurasi umpan di atas 90 persen dan menjadi pemain dengan tekel terbanyak di tim.
Meski berada di puncak, Gattuso enggan jemawa. Kepada Sky Sport Italia, ia menekankan pentingnya sikap rendah hati dan fokus laga per laga. “Kami harus tetap membumi. Serie A masih panjang,” tegasnya. Sementara itu, rival sekota AS Roma juga mencuri perhatian setelah bermain imbang dramatis 3-3 melawan Napoli di Stadion Diego Armando Maradona. Roma sempat tertinggal 2-0 dan 3-2, namun berhasil menyamakan kedudukan melalui sundulan Leonardo Balerdi di menit akhir.
Dengan performa apik Taylor dan tangan dingin Gattuso, Lazio kini menjadi kandidat kuat dalam perburuan gelar juara Serie A musim ini. Konsistensi dan semangat juang yang ditunjukkan para pemain menjadi modal berharga untuk menghadapi sisa musim yang masih panjang. Jika mampu mempertahankan tren positif ini, bukan tidak mungkin scudetto akan kembali ke ibu kota Italia untuk pertama kalinya sejak tahun 2000.
