Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | Laga willem ii vs cambuur dalam lanjutan Eredivisie 2026/2027 berakhir dengan skor telak 1-6 untuk kemenangan tim tamu SC Cambuur di Stadion Koning Willem II, Tilburg, Sabtu (24/10/2026) malam WIB. Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Willem II yang masih tertahan di dasar klasemen dengan hanya mengoleksi dua poin dari sepuluh pertandingan. Dalam pertandingan willem ii vs cambuur tersebut, bek Timnas Indonesia Nathan Tjoe-A-On kembali dipercaya tampil sebagai starter, namun ia dan rekan-rekannya tidak mampu membendung gempuran serangan Cambuur yang tampil begitu agresif sejak menit awal.
Pertandingan baru berjalan 18 menit, gawang Willem II yang dijaga Thomas Didillon-Hödl sudah kebobolan tiga kali. Nicolas Binder membuka keunggulan Cambuur setelah memanfaatkan umpan Morgan Costarelli. Ilyes Hamache kemudian menggandakan skor, sebelum Ismaël Baouf menambah penderitaan tuan rumah dengan gol ketiga yang membuat suasana stadion semakin sunyi. Keunggulan cepat 3-0 ini membuat jalannya pertandingan willem ii vs cambuur praktis sudah tidak seimbang.
Memasuki babak kedua, pelatih interim Willem II, Adrie Koster, memasukkan tiga pemain pengganti untuk mencoba membalikkan keadaan. Namun, upaya tersebut justru berbuah petaka. Binder kembali mencatatkan namanya di papan skor dengan gol keempat Cambuur, sebelum Rafik El Arguioui memanfaatkan blunder kiper Didillon-Hödl untuk menjadikan skor 5-0. Willem II sempat memperkecil ketertinggalan melalui gol Anass Zarrouk, tetapi Jason Ceka menutup pesta gol Cambuur dengan gol keenam pada menit-menit akhir. Skor akhir 1-6 untuk kemenangan Cambuur bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Kapten Willem II, Hidde ter Avest, mengaku sangat kecewa dengan hasil buruk dalam laga willem ii vs cambuur ini. Menurutnya, kekalahan telak ini adalah tanggung jawab seluruh pemain, terlebih setelah pemecatan pelatih John Stegeman pada awal pekan akibat serangkaian hasil buruk. “Ini adalah pekan yang sangat berat. Kami sebagai pemain juga merasa bertanggung jawab atas pemecatan pelatih,” ujar Ter Avest. Ia menambahkan bahwa timnya kehilangan kekompakan setelah kebobolan cepat. “Kami memulai dengan baik, tetapi setelah kemasukan gol, kami saling meninggalkan satu sama lain. Itu yang paling saya sesalkan,” tegasnya.
Adrie Koster yang baru ditunjuk sebagai pelatih interim juga mengakui bahwa timnya banyak melakukan kesalahan. Ia menyoroti bagaimana lini pertahanan Willem II mudah ditembus oleh umpan-umpan terobosan Cambuur. “Kami dikalahkan oleh umpan-umpan terobosan, itu seharusnya tidak boleh terjadi,” kata Koster. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya akan tetap berusaha membangkitkan semangat para pemain, dengan pendekatan yang berbeda untuk setiap individu. “Ada pemain yang butuh ditendang, ada juga yang butuh dibelai. Saya melakukan itu dengan cara saya sendiri,” tambahnya.
Kemenangan ini membawa Cambuur naik ke posisi tengah klasemen Eredivisie dengan koleksi 12 poin. Sementara itu, Willem II semakin terpuruk di dasar klasemen dengan hanya dua poin dari sepuluh laga, tanpa kemenangan. Kekalahan dalam willem ii vs cambuur ini juga menjadi sorotan bagi para pemain abroad Indonesia, khususnya Nathan Tjoe-A-On, yang harus menerima kenyataan pahit klubnya dibantai di hadapan pendukung sendiri. Nathan tampil sebagai starter, namun tidak mampu menghalau laju Cambuur yang tampil lebih efektif.
Selanjutnya, Willem II akan menghadapi jadwal padat. Pada Selasa mendatang, mereka akan bertandang ke markas Helmond Sport dalam ajang KNVB Beker, sebelum melakoni laga berat melawan PSV di kompetisi liga pada akhir pekan. Ter Avest berharap timnya tetap bersatu dan bangkit dari keterpurukan. “Setelah malam ini, sangat sedikit hal yang bisa kami jadikan pegangan. Tapi kami harus tetap bersama dan tetap positif, meskipun itu sulit,” pungkasnya.
Dengan hasil ini, tantangan besar menanti Willem II untuk keluar dari zona degradasi. Sementara Cambuur membuktikan bahwa mereka bukan tim yang bisa dianggap remeh di Eredivisie musim ini. Laga willem ii vs cambuur akan dikenang sebagai salah satu kekalahan terburuk Willem II di hadapan publik sendiri, sekaligus menjadi alarm bagi manajemen klub untuk segera berbenah.

