Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | Kekalahan mengejutkan yang dialami chelsea di hadapan pendukungnya sendiri menjadi sorotan utama dalam lanjutan Premier League akhir pekan ini. Bertanding di Stamford Bridge pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026, Chelsea harus menelan pil pahit setelah takluk 0-2 dari Tottenham Hotspur, sebuah hasil yang memicu kemarahan suporter dan mengungkap sejumlah persoalan internal di tubuh klub London Barat tersebut.
Kekalahan ini terasa begitu menyakitkan karena merupakan kekalahan kandang pertama Chelsea atas Tottenham di ajang Premier League dalam lebih dari delapan tahun terakhir. Lebih dari itu, ini hanya menjadi kemenangan liga kedua Tottenham di Stamford Bridge dalam kurun 36 tahun, sebuah catatan yang tentu saja mempermalukan tuan rumah.
Jalannya Pertandingan yang Penuh Drama
Laga berjalan buruk bagi Chelsea sejak awal. Kiper muda Mike Penders, yang dipercaya menggantikan Emiliano Martínez yang cedera, mencatatkan gol bunuh diri yang membuka keunggulan Tottenham. Situasi semakin memburuk ketika bintang utama Cole Palmer diusir wasit setelah menerima dua kartu kuning, membuat Chelsea harus bermain dengan sepuluh pemain. Mathys Tel kemudian memastikan kemenangan Tottenham melalui tendangan jarak jauhnya, sementara gelandang Mateus Fernandes tampil luar biasa dengan mencatat 14 kontribusi defensif dan 124 sentuhan bola, tertinggi di pertandingan.
Pelatih Tottenham, Roberto De Zerbi, memuji penampilan Fernandes. “Saya suka melihat pemain saya bertarung di lapangan. Mateus Fernandes bermain 90 menit dengan kualitas yang sangat besar. Saya ingin melihatnya tampil dengan kepribadian,” ujarnya usai laga.
Colwill Bentrok dengan Fans di West Stand
Kekecewaan suporter tumpah ruah setelah peluit akhir dibunyikan. Bek chelsea Levi Colwill, yang bermain penuh 90 menit, terlihat mendekati tribun West Stand untuk mencoba menenangkan pendukung yang marah. Namun, upayanya justru memicu bentrokan verbal. Dalam rekaman video yang beredar, seorang fans terlihat membentak Colwill karena bertepuk tangan setelah kekalahan tersebut. Colwill kemudian berjalan menuju terowongan, diiringi pemain pengganti Danny Welbeck.
Sejumlah suporter yang diwawancarai di luar stadion mengkritik sikap pemain berusia 23 tahun itu. “Jika Anda tampil seperti malam ini, jangan beri tanggapan apa pun kepada fans,” ujar salah satu pendukung, menggambarkan kekecewaan yang mendalam terhadap generasi pemain saat ini.
Caicedo Akui Masalah Fokus
Kapten sementara Moises Caicedo, yang mengenakan ban kapten menggantikan Reece James, mengakui kelemahan timnya. “Kami harus fokus sepanjang pertandingan karena jika Anda lengah sedetik saja, Anda akan dihukum. Kami perlu belajar dari ini,” kata Caicedo. Ia menegaskan bahwa seluruh tim menyadari kekurangan mereka dan bertekad memperbaikinya di laga-laga berikutnya.
Estêvão Mulai Gelisah di Bangku Cadangan
Di balik kekalahan di lapangan, muncul masalah lain di ruang ganti. Winger muda Brasil, Estêvão, dilaporkan semakin frustrasi dengan minimnya menit bermain di bawah asuhan Xabi Alonso. Pemain berusia 19 tahun itu baru tampil 47 menit di Premier League musim ini dan kembali duduk di bangku cadangan saat melawan Tottenham, sementara remaja Portugal Geovany Quenda justru dipercaya menjadi starter.
Estêvão sebenarnya tampil impresif bersama timnas Brasil pada dua laga persahabatan terakhir, namun di klub ia harus bersaing ketat dengan Morgan Rogers dan Pedro Neto. Meski demikian, chelsea menegaskan bahwa Estêvão tetap bagian dari rencana jangka panjang klub dan belum berencana meminjamkannya, meskipun situasinya akan dievaluasi pada Januari mendatang jika menit bermainnya tak kunjung membaik.
Tekanan bagi Xabi Alonso
Pelatih Xabi Alonso mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam atas hasil ini. Ia mengakui timnya tidak tampil sesuai harapan dan meminta para pemainnya untuk bersabar, termasuk kepada Estêvão. Namun, tekanan kini semakin besar bagi Alonso untuk segera membenahi performa chelsea agar tidak kehilangan momentum di kompetisi domestik.
Kekalahan dari Tottenham menjadi pukulan telak bagi chelsea, bukan hanya karena hilangnya poin, tetapi juga karena retaknya hubungan antara pemain dan suporter serta munculnya ketidakpuasan di dalam skuad. Manajemen klub dituntut untuk segera mengambil langkah agar situasi tidak semakin memburuk.
Dengan jadwal pertandingan yang padat di depan mata, Chelsea harus segera bangkit dan memperbaiki fokus serta konsistensi permainan. Kekalahan ini menjadi peringatan keras bahwa tanpa perbaikan menyeluruh, ambisi klub untuk bersaing di papan atas bisa sirna. Kini, semua mata tertuju pada respons skuad asuhan Xabi Alonso di laga berikutnya.

