RC Lens Diterpa Badai: Dari Kerusuhan Suporter di Belgia hingga Comeback Dramatis di Bollaert

Foto: Istimewa

RC Lens Diterpa Badai: Dari Kerusuhan Suporter di Belgia hingga Comeback Dramatis di Bollaert

Kalimantan Update – 25 Oktober 2026 | RC Lens menjadi sorotan dalam sepekan terakhir, baik di dalam maupun di luar lapangan. Klub asal Prancis utara itu menghadapi situasi pelik ketika sebagian pendukungnya terlibat dalam insiden menjelang laga Liga Champions melawan Club Brugge di Belgia, namun di saat bersamaan menunjukkan performa impresif dengan meraih kemenangan dramatis atas Paris FC di Ligue 1. Dua peristiwa kontras ini menggambarkan dinamika yang tengah dialami RC Lens sebagai klub dengan basis suporter fanatik dan ambisi besar di kompetisi Eropa maupun domestik.

Insiden di Belgia bermula ketika kepolisian setempat mendeteksi pergerakan kelompok suporter RC Lens yang diduga hendak melakukan konfrontasi dengan pendukung Club Brugge dan Lille OSC. Hubungan baik antara Club Brugge dan Lille, yang merupakan rival berat Lens, membuat aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan. Sebanyak 70 hingga 100 suporter Lens terlihat di Ieper, sebagian mengenakan pakaian hitam dan penutup wajah, diduga berkumpul untuk bentrokan massal. Polisi setempat bergerak cepat dengan memeriksa identitas dan plat nomor kendaraan, serta mendatangkan water cannon dari Brussels sebagai antisipasi.

“Situasi sempat menegangkan selama sekitar satu jam, tetapi tidak sampai terjadi bentrokan. Suporter Club Brugge tidak muncul, dan situasi sudah netral sebelum water cannon tiba di Ieper,” ujar Glenn Verdru dari kepolisian lokal. Meski demikian, kerusuhan tetap terjadi di dalam stadion Jan Breydel saat pertandingan berlangsung. Dari sektor tamu, suporter RC Lens melemparkan kembang api dan petasan ke arah pendukung tuan rumah, menyebabkan seorang steward mengalami luka ringan dan harus mendapat perawatan di tempat. Polisi Brugge tengah menyelidiki insiden tersebut dengan meninjau rekaman kamera pengawas dan menyiapkan laporan resmi. Kejadian ini berpotensi menimbulkan konsekuensi disiplin dari UEFA.

Di sisi lain, di lapangan hijau, RC Lens menunjukkan karakter juara. Menjamu Paris FC di Stadion Bollaert-Delelis dalam lanjutan Ligue 1, pasukan Yannick Cahuzac tertinggal lebih dulu melalui gol Luca Koleosho pada menit ke-45+2 setelah serangan balik cepat yang dimulai dari Lassine Sinayoko. Meski mendominasi penguasaan bola dan menciptakan sejumlah peluang, termasuk sundulan Florian Sotoca yang masih bisa ditepis kiper Obed Nkambadio, Lens harus masuk ruang ganti dengan kondisi tertinggal.

Memasuki babak kedua, RC Lens meningkatkan intensitas. Florian Thauvin akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-64. Pelatih Cahuzac kemudian memasukkan pemain-pemain segar seperti Moses Simon, Rudy Matondo, Patrick Zabi, dan Thibaud De Smet untuk menambah daya gedor. Pergantian itu membuahkan hasil pada menit ke-84 ketika Thorgan Hazard, yang masuk sebagai pemain pengganti, memanfaatkan umpan matang Thauvin dan menaklukkan Nkambadio untuk membawa RC Lens berbalik unggul 2-1. Kemenangan ini menjadi triumf ketiga beruntun bagi Lens di Ligue 1 dan menjaga momentum positif setelah sebelumnya menang 3-0 atas Club Brugge di Liga Champions.

Kemenangan dramatis ini tidak lepas dari peran strategi pelatih dan dukungan penuh publik Bollaert-Delelis yang setia mendukung meski cuaca buruk. RC Lens kini bersiap menghadapi derby melawan Lille di Stadion Pierre Mauroy pada Jumat mendatang, dengan target meraih kemenangan keempat secara beruntun. Namun, bayang-bayang insiden suporter di Belgia tetap menjadi catatan penting bagi manajemen klub untuk menertibkan pendukungnya, terutama jelang laga-laga besar Eropa.

Secara keseluruhan, pekan ini menjadi cermin bagi RC Lens: di satu sisi, klub harus menangani masalah disiplin suporter yang dapat merusak reputasi; di sisi lain, tim asuhan Yannick Cahuzac membuktikan kualitas dan mentalitas juara di lapangan. Dengan kombinasi performa apik dan dukungan fanatik, RC Lens berada di jalur yang tepat untuk bersaing di papan atas Ligue 1 sekaligus menjaga asa di kompetisi Eropa, asalkan mampu mengendalikan faktor-faktor non-teknis yang berpotensi mengganggu konsistensi tim.