Prajogo Pangestu Ekspansi Dua Arah: Tambang Emas Sumbawa Beroperasi, Tangki Bitumen Merak Diresmikan

Foto: Istimewa

Prajogo Pangestu Ekspansi Dua Arah: Tambang Emas Sumbawa Beroperasi, Tangki Bitumen Merak Diresmikan

Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Nama konglomerat nasional Prajogo Pangestu kembali menjadi sorotan di dunia bisnis Tanah Air. Dalam kurun waktu yang berdekatan, dua lini usaha yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu mencatatkan perkembangan penting: PT Intam yang bergerak di sektor tambang emas resmi memasuki tahap operasi produksi di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, sementara PT Redeco Petrolin Utama (RPU) meresmikan fasilitas tangki bitumen berkapasitas 12.000 meter kubik di Merak, Banten. Langkah ini menegaskan arah ekspansi bisnis Prajogo Pangestu yang kian menyentuh sektor energi, mineral, dan infrastruktur pendukung konstruksi.

PT Intam merupakan bagian dari lini usaha dalam grup PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), salah satu perusahaan di bawah ekosistem bisnis Prajogo Pangestu. Perusahaan ini bergerak di bidang eksplorasi dan pengembangan tambang emas serta akan mengelola wilayah pertambangan di Kabupaten Sumbawa.

Konsesi 18.500 Hektare di Tiga Kecamatan

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB, Samsudin, menyatakan PT Intam sudah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan nomor Surat Keputusan 503/02/IUP-OP/2015. “Luas wilayah konsesi seluas 18.500 hektare untuk komoditas emas,” ujarnya.

Wilayah izin pertambangan tersebut mencakup Kecamatan Lantung, Ropang, dan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, dan tercatat berlaku hingga 21 Oktober 2035. “Izin PT Intam saat ini berada pada tahap operasi produksi,” tambah Samsudin.

Meski demikian, Sekretaris Dinas ESDM NTB, Niken Arumdati, mengungkapkan bahwa pihaknya belum menerima laporan mengenai kegiatan maupun hasil produksi perusahaan tersebut. “Sesuai data dalam minerba one, PT Intam sudah pada tahap OP (Operasi Produksi), namun karena kewenangan mineral logam di pemerintah pusat, Pemda NTB belum mendapat laporan kegiatan maupun hasil produksi yang disampaikan PT Intam,” jelas Niken.

Sebelumnya, PT Intam dilaporkan telah menyelesaikan kegiatan eksplorasi mineral emas di Prospek Lebin, Ledang, Batururu, dan Batururu Utara dengan total biaya yang dikeluarkan mencapai Rp6,68 miliar.

Tangki Bitumen Merak dan Sinergi dengan Grup Salim

Di sisi lain, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), melalui anak usahanya PT Redeco Petrolin Utama (RPU), meresmikan fasilitas tangki bitumen di Merak, Banten, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Fasilitas tersebut terdiri dari tiga tangki berkapasitas masing-masing 3.000 m³, 4.000 m³, dan 5.000 m³, sehingga total kapasitasnya mencapai 12.000 m³.

Direktur Utama PT Redeco Petrolin Utama, Lingga Widastri, menyebutkan bahwa sejak beroperasi di Merak pada 1986, perusahaan terus mengembangkan layanan penyimpanan dan kepelabuhanan. Dengan beroperasinya fasilitas baru ini, RPU kini mengelola 75 tangki penyimpanan dengan kapasitas gabungan 142.000 m³ untuk berbagai produk, mulai dari petrokimia, minyak bumi, pelumas, hingga bitumen.

“Bagi Redeco, pengembangan ini bukan sekadar penambahan kapasitas penyimpanan, tetapi juga merupakan upaya untuk mengoptimalkan infrastruktur yang kami miliki dan menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin beragam,” ujar Lingga.

Menariknya, proyek ini melibatkan kolaborasi dua konglomerat besar. Lingga mengonfirmasi bahwa pemegang saham investasi berasal dari Grup Chandra Asri dan Grup Salim, yang berinvestasi melalui PT Salim Chemicals Corpora. Pertamina disebut menjadi salah satu mitra bisnis Redeco. Meski enggan menyebut nilai investasi, Lingga menegaskan proyek tersebut merupakan bagian dari strategi membuka portofolio baru.

Indonesia sendiri masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bitumen dalam negeri. Namun, Lingga menekankan keberadaan fasilitas tangki tidak serta-merta membuat perusahaan harus mengimpor produk tersebut, melainkan mendukung distribusi bitumen baik untuk pasokan impor maupun kebutuhan domestik.

Dampak dan Prospek ke Depan

Langkah ekspansi Prajogo Pangestu di dua sektor berbeda ini menunjukkan strategi diversifikasi yang terintegrasi. Tambang emas di Sumbawa berpotensi memperkuat lini mineral logam, sementara fasilitas bitumen di Merak memperkuat rantai pasok material konstruksi yang krusial bagi pembangunan infrastruktur jalan nasional.

Manajemen CDI menyatakan keandalan rantai pasok material merupakan faktor penting dalam mendukung keberlangsungan aktivitas industri dan pembangunan infrastruktur. “Melalui fasilitas tangki bitumen ini, RPU memperkuat kapabilitas penyimpanan untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin beragam,” kata manajemen CDI.

Dengan utilisasi tangki yang dinilai stabil meski di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah, RPU membuka peluang penambahan tangki baru apabila kapasitas dinilai sudah optimal. Sementara di Sumbawa, publik masih menantikan laporan resmi mengenai hasil produksi tambang emas PT Intam.

Secara keseluruhan, ekspansi dua arah ini memperlihatkan bagaimana Prajogo Pangestu terus memperluas jejak bisnisnya dari hulu ke hilir, menyentuh sektor energi, mineral, dan infrastruktur sekaligus. Bagi pasar, langkah ini menjadi sinyal bahwa grup usaha Prajogo Pangestu tidak berhenti berinovasi dan terus mencari peluang pertumbuhan baru di tengah dinamika ekonomi nasional maupun global.

Penulis: Rudi Hamdani
Editor: Tri Widodo
Sumber Berita: NTBSatu, Katadata, Warta Ekonomi, Investor Daily