Harga Emas Dunia Tertekan di Bawah US$4.000 Jelang Keputusan The Fed, Investor Diminta Waspada!
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Harga emas global atau gold price kembali menjadi sorotan pasar keuangan internasional pada Senin, 26 Oktober 2026. Logam mulia ini diperdagangkan datar di bawah level psikologis US$4.000 per ons troy, tepat sebelum pengumuman keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang dinantikan pelaku pasar. Pelemahan gold price terjadi di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga yang masih membayangi, meskipun ada upaya rebound tipis seiring turunnya harga minyak dunia.
Berdasarkan data perdagangan Comex, kontrak emas berjangka untuk pengiriman Desember naik 0,3% menjadi US$4.021,90 per ons, sementara harga spot emas sempat menguat 0,3% ke US$4.008,70 per ons pada awal pekan. Namun, kenaikan ini belum cukup untuk mengangkat gold price kembali ke atas US$4.000 secara meyakinkan, setelah pekan lalu ambles 4%—penurunan mingguan terburuk sejak Juni. Di pasar domestik, harga emas di MCX India tercatat naik Rp817 menjadi Rs1.42.841 per 10 gram untuk kontrak Desember, didukung permintaan spot yang solid.
Faktor Pendorong Pergerakan Harga Emas
Analis senior pasar keuangan di Capital.com, Kyle Rodda, menilai lonjakan kecil yang terlihat lebih merupakan gejala kelegaan akibat turunnya harga minyak, namun bisa dengan mudah tertahan karena pasar sedang memposisikan diri untuk keputusan FOMC dalam beberapa hari ke depan. “Emas akan terus diperdagangkan sebagai fungsi dari ekspektasi suku bunga dan risiko geopolitik,” ujarnya. Hal senada disampaikan Anindya Banerjee, Kepala Riset Komoditas di Kotak Neo, yang menyebut bahwa dalam jangka pendek gold price lebih dipengaruhi oleh perubahan suku bunga riil AS dan kekuatan dolar AS ketimbang perannya sebagai aset safe haven.
Tekanan terhadap emas juga datang dari imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menembus 5,3% pada September. Dalam laporan Capview ‘Paid to Wait: September 2026 Review’ dari W by Groww, disebutkan bahwa emas kehilangan 6,3% pada September karena aset tanpa imbal hasil menjadi mahal ketika kas memberikan bunga setinggi itu. Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa emas masih memiliki lantai harga karena bank sentral terus membeli, dengan pembelian 44 ton pada Juli, serta risiko geopolitik yang tetap hidup.
Perbandingan Emas dan Perak
Sementara itu, harga perak (silver) justru menunjukkan penguatan tipis. Di Comex, perak naik 0,90% menjadi US$54,435 per ons, dan di pasar spot menguat 0,2% ke US$54,00 per ons. Namun, di bursa domestik MCX, perak justru anjlok Rp800 menjadi Rs1.94.928 per kilogram. Para ahli menyarankan investor untuk tidak terburu-buru membeli perak meski harganya telah turun tajam, karena rasio emas-perak saat ini berada di kisaran 69, masih di bawah zona 80-85 yang secara historis menunjukkan perak murah terhadap emas. Groww merekomendasikan untuk mempertahankan emas sebagai asuransi terhadap risiko geopolitik, tetapi menghindari perak sampai ada konfirmasi basis harga.
Di sisi lain, logam mulia lain seperti platinum turun 0,3% menjadi US$1.546,18 per ons, dan paladium melemah 0,5% menjadi US$1.038,85 per ons. Di pasar domestik Indonesia, harga emas 22 karat tercatat sekitar Rp13.100 per gram, sementara perak sekitar Rp2.200 per 10 gram, dan platinum Rp47.230 per 10 gram.
Dampak bagi Investor dan Prospek ke Depan
Keputusan The Fed yang akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan menjadi kunci arah gold price selanjutnya. Jika The Fed memberikan sinyal pemangkasan suku bunga, emas berpotensi stabil dan bahkan menguat. Sebaliknya, retorika hawkish dapat memperpanjang tekanan jual. Para analis merekomendasikan investor untuk mencermati aliran dana ke exchange-traded fund (ETF) emas yang masih negatif, serta memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat memicu permintaan safe haven. Dengan volatilitas yang tinggi, diversifikasi portofolio dan strategi lindung nilai menjadi kunci.
Secara keseluruhan, pergerakan gold price hari ini mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang keputusan bank sentral AS. Meskipun ada upaya rebound, tekanan dari suku bunga dan dolar yang kuat masih membatasi ruang penguatan. Investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak mengambil posisi agresif hingga arah kebijakan The Fed jelas.
