Rupiah Tembus Rp18.135 per Dolar AS, Sinyal Bahaya di Balik Pelemahan Mata Uang Garuda
Kalimantan Update – 26 Oktober 2026 | Nilai tukar dollar ke rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan Tanah Air pada Senin, 26 Oktober 2026. Mata uang Garuda terus terpuruk hingga menembus level Rp18.135 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan, melemah 55 poin dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di posisi Rp18.080. Pelemahan dramatis ini terjadi setelah sepanjang hari rupiah bergerak dalam rentang yang mengkhawatirkan, mulai dari pembukaan di level Rp18.085 hingga sempat menyentuh Rp18.118 pada sesi siang.
Rangkaian Pelemahan Sejak Pagi
Berdasarkan data pasar spot, pergerakan dollar ke rupiah pada pembukaan perdagangan pagi tercatat melemah 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp18.085. Tekanan jual terus berlanjut sehingga pada pukul 09.30 WIB kurs sudah bergerak ke level Rp18.105. Memasuki sesi siang, rupiah kian terpuruk ke Rp18.118, sebelum akhirnya ditutup di Rp18.135 pada pukul 16.03 WIB.
Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,02 persen, rupee India turun 0,12 persen, dan peso Filipina melemah 0,23 persen. Di sisi lain, dolar AS sendiri tercatat melemah 0,18 persen ke level 101,631 terhadap sejumlah mata uang utama.
Tekanan Eksternal: Geopolitik Timur Tengah dan Harga Minyak
Pengamat Pasar Uang, Lukman Leong, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah masih didominasi oleh faktor eksternal. Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kenaikan harga minyak mentah dunia di atas 100 dolar AS per barel. Serangan kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk bandara dan fasilitas minyak, meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi di kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.
Meski pada Senin pagi harga minyak sempat turun, dengan WTI melemah 1,55 persen ke 101,67 dolar AS per barel dan Brent turun 1,34 persen ke 115,16 dolar AS per barel, sepanjang pekan lalu harga minyak Brent tercatat naik 6 persen dan WTI menguat 2,3 persen. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah mengingat posisi Indonesia sebagai importir neto minyak.
Arus Modal Asing Keluar dan Guncangan MSCI
Selain faktor global, tekanan terhadap dollar ke rupiah juga berasal dari dalam negeri. Arus keluar dana asing atau capital outflow dari pasar saham domestik masih berlanjut. Pasar modal Indonesia sempat bergejolak akibat rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengkonsultasikan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa MSCI bukanlah satu-satunya lembaga penyedia indeks global yang menjadi rujukan investor. Ia menyebut masih ada lembaga pemeringkat lain seperti S&P dan FTSE Russell yang juga menjadi acuan pasar. Airlangga menilai pengumuman MSCI tersebut tidak akan menimbulkan efek domino terhadap perekonomian Indonesia.
Risiko Fiskal yang Mengintai
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa pelemahan rupiah berpotensi memperbesar risiko fiskal Indonesia. Sebagai importir neto minyak, kenaikan harga minyak dunia berisiko meningkatkan biaya impor energi, subsidi, serta kompensasi energi yang ditanggung pemerintah.
Berdasarkan sensitivitas APBN 2026, setiap kenaikan yield surat berharga negara sebesar 0,1 poin persentase berpotensi memperlebar defisit sebesar Rp1,9 triliun. Sementara itu, depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp800 miliar. Kombinasi kenaikan imbal hasil SBN dan pelemahan dollar ke rupiah menjadi beban ganda bagi anggaran negara.
| Waktu | Kurs Rupiah per Dolar AS |
|---|---|
| Penutupan Jumat (23/10) | Rp18.080 |
| Pembukaan Senin (26/10) | Rp18.085 |
| Pukul 09.30 WIB | Rp18.105 |
| Pukul 12.00 WIB | Rp18.118 |
| Penutupan Senin (26/10) | Rp18.135 |
Proyeksi ke Depan
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya. Ia memproyeksikan pergerakan dollar ke rupiah berada di kisaran Rp18.130 hingga Rp18.180, sementara sepanjang pekan ini mata uang Garuda diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.
Pelaku pasar juga akan mencermati pertemuan bank sentral AS atau Federal Reserve yang dimulai Selasa dan pengumuman keputusan kebijakan moneternya pada Rabu waktu setempat. Rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures inti AS pada Kamis turut menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Di sisi lain, upaya diplomatik yang melibatkan Qatar, Iran, Amerika Serikat, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan memberikan harapan bagi pasar terhadap kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik. Namun pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai keputusan untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran atau mengakhiri konflik justru memunculkan risiko eskalasi kembali.
Dengan dinamika tersebut, pergerakan dollar ke rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi faktor global dan domestik. Pasar menantikan langkah konkret pemerintah dan otoritas moneter untuk memulihkan kepercayaan investor, bukan sekadar pernyataan retoris. Tanpa intervensi yang terukur dan kebijakan yang meyakinkan, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
