Pertamina di Garis Depan: UMKM Cirebon hingga Bioavtur, Ketahanan Energi Nasional Makin Kokoh
Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | PT Pertamina (Persero) bersama anak perusahaannya kembali menunjukkan peran strategisnya dalam menjaga denyut energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dalam satu hari yang sama, Senin (26/10/2026), Pertamina mencatatkan sejumlah langkah penting mulai dari perluasan pasar UMKM di Cirebon, dukungan terhadap kebijakan pengadaan energi melalui Perpres 107 Tahun 2026, produksi bioavtur dari minyak jelantah, hingga penyelesaian 90 sumur di Wilayah Kerja Rokan. Rangkaian capaian ini menegaskan posisi Pertamina sebagai tulang punggung ketahanan energi sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan.
SMEXPO Cirebon, Panggung 32 UMKM Binaan
Melalui Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat, Pertamina membuka akses pasar bagi 32 usaha mikro, kecil, dan menengah binaan lewat ajang Pertamina SMEXPO Cirebon 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Oktober 2026 di Cirebon Super Block Mall ini menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk memasarkan produk sekaligus menjajaki peluang kemitraan bisnis.
Mengusung tema “Lokal Jadi Vokal”, ajang tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pertamina SMEXPO Regional 2026 yang digelar di tiga kota, yakni Pekanbaru, Cirebon, dan Cilacap. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan bahwa penyelenggaraan SMEXPO di Cirebon bertujuan mempertemukan produk UMKM dengan peluang pasar yang lebih luas, termasuk dari sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi daerah.
“Melalui Pertamina SMEXPO Cirebon 2026, kami ingin memberikan ruang yang lebih luas bagi UMKM untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring, dan menjajaki peluang kemitraan,” ujarnya. Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, turut mengapresiasi kegiatan perdana ini karena berpotensi memperluas konsumen UMKM, mendorong perdagangan daerah, dan meningkatkan daya saing usaha.
Dukung Perpres 107, Perkuat Ketahanan Energi
Di Jakarta, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan komitmen perusahaan mendukung penuh Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2026 yang memperkuat tata kelola pengadaan minyak bumi, BBM, dan LPG. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis di tengah dinamika geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah.
“Pertamina mendukung penuh Perpres 107 Tahun 2026 sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional. Kami berkomitmen menjalankan penugasan dari pemerintah secara profesional dan bertanggung jawab agar pasokan energi bagi masyarakat dan industri tetap terjaga,” kata Simon usai konferensi pers di Kementerian ESDM.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut Perpres tersebut sebagai babak baru dalam sistem pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG melalui skema government to government (G2G) dan government to business (G2B). Menurutnya, kebijakan ini memberi ruang lebih luas bagi Pertamina dan Pertamina Patra Niaga untuk mengembangkan sumber pasokan guna menjaga kesinambungan energi nasional. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, memastikan kesiapan infrastruktur dan operasional, mulai dari kilang, terminal, hingga jaringan distribusi.
Minyak Jelantah Disulap Jadi Bioavtur
Komitmen Pertamina terhadap energi berkelanjutan ditunjukkan saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengunjungi Kilang Cilacap. Dalam kunjungan itu, Gibran meninjau langsung proses pengolahan minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur di fasilitas Green Refinery Cilacap.
Wakil Direktur Utama I Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman, mengungkapkan bahwa pada Oktober ini telah diproduksi sekitar 11 juta liter co-processed SAF melalui fasilitas Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) dengan skema co-processing. Minyak jelantah digunakan dengan rasio maksimal sekitar 5 persen dari total kapasitas produksi unit TDHT.
“Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat. Sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional,” ujar Gibran.
90 Sumur di WK Rokan Tuntas
Dari sisi hulu, PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) menuntaskan pengerjaan 90 sumur melalui kegiatan pengeboran dan penyelesaian sumur periode Januari hingga September 2026 di Wilayah Kerja Rokan, Riau. Pencapaian ini mendukung program pengembangan lapangan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sekaligus menjaga keberlanjutan produksi migas.
Manager Integrated Operation Project Pertamina Drilling, Boris Styward, menjelaskan bahwa perusahaan mengoperasikan 10 unit drilling rig, terdiri atas empat rig berkapasitas 350 HP, empat rig 550 HP, dan dua rig 750 HP. Berbagai inovasi diterapkan untuk meningkatkan efisiensi, seperti eliminasi tahapan running trip BHA/Hole Opener, penggunaan Non-Fermenting Starch, serta rig listrik berdesain kompak untuk meminimalisir kebutuhan luasan area pemboran.
Rangkaian langkah Pertamina pada hari itu menunjukkan sinergi yang utuh: dari hulu pengeboran sumur, pengolahan kilang menjadi energi ramah lingkungan, tata kelola pengadaan yang diperkuat regulasi, hingga hilir berupa pemberdayaan UMKM. Semua ini bermuara pada satu tujuan, yakni memastikan pasokan energi bagi masyarakat tetap terjaga sekaligus memberi dampak ekonomi nyata. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan inovasi berkelanjutan, Pertamina terus memantapkan perannya sebagai penggerak utama ketahanan energi nasional yang inklusif dan berdaya saing.
