Derbi Antarbenua Memanas: Galatasaray Kalahkan Fenerbahce 2-1, Kerusuhan Massal Pecah Usai Laga
Kalimantan Update – 27 Oktober 2026 | Pertandingan bertajuk galatasaray vs Fenerbahce dalam lanjutan Süper Lig Turki pada Senin malam, 26 Oktober 2026, berakhir dengan kemenangan 2-1 bagi tuan rumah Galatasaray di RAMS Park, Istanbul. Namun, euforia kemenangan ternyata dibayangi insiden kerusuhan massal yang melibatkan para pemain kedua tim setelah peluit panjang dibunyikan. Laga yang dikenal sebagai Derbi Antarbenua ini memang selalu menyajikan tensi tinggi, dan kali ini tensi tersebut tumpah menjadi aksi saling dorong dan baku hantam di tengah lapangan.
Pertandingan dimulai dengan tempo tinggi sejak menit pertama. Bek Galatasaray, Abdulkerim Bardakci, dan striker Fenerbahce, Romelu Lukaku, terlibat kontak fisik panas dalam 15 detik pertama. Wasit sempat menenangkan kedua pemain, tetapi atmosfer panas tak pernah benar-benar mereda. Galatasaray yang bertindak sebagai tuan rumah tampil agresif. Peluang pertama datang dari tendangan bebas Roland Sallai yang masih melebar di atas mistar gawang Fenerbahce. Baris Yilmaz beberapa kali merepotkan lini belakang tamu, namun kiper Ederson tampil sigap menggagalkan dua peluang emas.
Fenerbahce bukan tanpa ancaman. Tendangan bebas Oguz Aydin nyaris membobol gawang Ugurcan Cakir, sementara Davinson Sanchez hampir mencetak gol bunuh diri saat bola hasil umpan silang N’Golo Kante membentur tiang gawangnya sendiri. Namun, pada menit ke-29, stadion RAMS Park bergemuruh. Victor Osimhen menerima umpan dari Baris Yilmaz dan melepaskan tembakan keras ke sudut bawah gawang Ederson. Keunggulan 1-0 untuk Galatasaray bertahan hingga menit ke-44, ketika Osimhen kembali mencatatkan namanya di papan skor. Kali ini, ia memanfaatkan bola liar hasil sepakan Sanchez dan menyonteknya ke dalam gawang. Skor 2-0 untuk tuan rumah bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Galatasaray tetap mendominasi. Osimhen dan Ismail Jakobs masing-masing membentur tiang gawang, sementara Ederson berhasil menepis tembakan pertama Osimhen. Fenerbahce memperkecil ketertinggalan pada menit ke-62 melalui aksi spektakuler Irfan Can Kahveci. Gelandang itu melepaskan tendangan salto alias bicycle kick yang tidak mampu dihalau Cakir. Gol tersebut membangkitkan semangat tim tamu. Lucas Torreira melepas tembakan yang melenceng, dan Rafael Leao nyaris menambah keunggulan Galatasaray andai tendangan melengkungnya tidak ditepis Ederson.
Hingga peluit akhir, skor tetap 2-1 untuk kemenangan Galatasaray. Kemenangan ini membuat Galatasaray kokoh di puncak klasemen Süper Lig dengan 19 poin dari 8 pertandingan, unggul tiga poin atas Fenerbahce yang berada di posisi ketiga dengan 16 poin. Bagi Osimhen, brace-nya malam itu tidak hanya membawa kemenangan, tetapi juga mencatatkan tiga rekor penting. Pertama, ia kini mengoleksi 49 gol di Süper Lig bersama Galatasaray, melewati rekor Milan Baros yang mencetak 48 gol. Kedua, ia mencapai angka tersebut hanya dalam 59 penampilan, sebuah rasio mencetak gol yang luar biasa. Ketiga, Osimhen menjadi pemain asing ketiga tersubur dalam sejarah Galatasaray di liga, di bawah Gheorghe Hagi (59 gol) dan Mauro Icardi (65 gol). Yang lebih mengesankan, Galatasaray belum pernah kalah dalam pertandingan liga di mana Osimhen mencetak gol. Dari 36 laga, Galatasaray menang 32 kali dan seri empat kali.
Namun, seusai pertandingan, insiden kerusuhan massal antara pemain Galatasaray dan Fenerbahce menjadi sorotan utama. Video yang beredar menunjukkan sejumlah pemain terlibat aksi saling dorong dan pukul di tengah lapangan. Kerusuhan ini diduga dipicu oleh tensi yang memuncak selama pertandingan, ditambah kekecewaan pihak Fenerbahce atas kekalahan tersebut. Pihak keamanan stadion dan ofisial pertandingan berusaha melerai, tetapi insiden sempat berlangsung beberapa saat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kedua klub maupun federasi sepak bola Turki terkait sanksi yang mungkin dijatuhkan.
Derbi Antarbenua sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu rivalitas paling sengit di dunia. Pertemuan pertama kedua tim terjadi pada 17 Januari 1909, lebih dari 110 tahun lalu. Laga galatasaray vs Fenerbahce selalu menyedot perhatian publik sepak bola Turki dan dunia. Atmosfer di Stadion Ali Sami Yen (RAMS Park) maupun Stadion Şükrü Saracoğlu selalu membara, dengan suporter kedua kubu yang terkenal fanatik. Pertemuan berikutnya antara galatasaray vs Fenerbahce dijadwalkan pada Maret 2027 di Stadion Şükrü Saracoğlu, markas Fenerbahce. Tiket pertandingan tersebut rencananya dijual secara resmi melalui platform Passo, pusat penjualan tiket resmi Turki. Para penggemar tentu berharap pertemuan berikutnya berjalan sportif tanpa insiden kerusuhan seperti yang baru saja terjadi.
Dengan kemenangan ini, Galatasaray semakin percaya diri mengejar gelar liga Turki kelima secara beruntun yang akan menjadi rekor. Sementara itu, Fenerbahce yang belum meraih gelar sejak musim 2013/14 harus segera bangkit jika ingin tetap bersaing di jalur juara. Laga galatasaray vs Fenerbahce malam itu menjadi pengingat bahwa sepak bola Turki selalu menyajikan drama, baik di dalam maupun di luar lapangan. Kemenangan Galatasaray atas Fenerbahce memang pantas dirayakan, tetapi insiden kerusuhan pasca pertandingan menjadi catatan hitam yang perlu menjadi evaluasi bersama bagi semua pihak, termasuk federasi, klub, dan suporter, demi menjaga marwah sepak bola Turki yang selama ini dikenal penuh gairah namun tetap menjunjung sportivitas.
