The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75–4 Persen, Voting 10 Banding 2 Sinyalkan Perang Melawan Inflasi Belum Usai
Kalimantan Update – 30 Oktober 2026 | Keputusan bank federal reserve untuk mempertahankan suku bunga acuan Amerika Serikat pada kisaran 3,75–4 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu, 28 Oktober 2026, langsung menjadi sorotan pasar global. Bukan karena hasilnya, melainkan karena voting 10 banding 2 yang mengiringinya. Mayoritas anggota memilih menahan suku bunga, sementara dua anggota justru mendesak pengetatan lebih lanjut di tengah inflasi yang masih berada di atas target 2 persen.
Dua anggota yang berbeda pandangan tersebut adalah Gubernur bank federal reserve Lisa D. Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth M. Hammack. Keduanya mengusulkan kenaikan 25 basis poin sehingga suku bunga acuan naik menjadi 4–4,25 persen. Perlu dicatat, posisi mereka bukan menolak kebijakan, melainkan menginginkan langkah yang lebih ketat dibandingkan keputusan mayoritas.
Ekonomi Kuat, Inflasi Masih Membara
Dalam pernyataan resminya, FOMC menyebut aktivitas ekonomi AS berkembang dengan laju yang kuat. Belanja domestik tetap tangguh, investasi menunjukkan kinerja solid, dan pertumbuhan lapangan kerja masih sejalan dengan perkembangan angkatan kerja. Kondisi ini, menurut komite, memberikan ruang bagi bank federal reserve untuk tetap waspada terhadap tekanan harga.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam konferensi pers usai pengumuman mengatakan indikator ekonomi bergerak ke arah yang benar. Ia merujuk pada belanja konsumen yang kokoh, tingkat pengangguran yang rendah, serta pertumbuhan ekonomi yang sehat. Warsh juga menyoroti kondisi kredit yang mengetat bagi dunia usaha dan rumah tangga sejak kenaikan suku bunga pada September lalu, yang dinilainya sebagai tanda ekonomi menuju periode pertumbuhan dan stabilitas harga yang lebih tahan lama.
Namun, ia tak menampik kenyataan pahit. Inflasi, kata Warsh, masih terlalu tinggi dan bank federal reserve belum berhasil sepenuhnya mengendalikannya. “Akumulasi informasi lebih lanjut akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan kembalinya inflasi ke target 2 persen secara tepat waktu,” demikian bunyi pernyataan FOMC.
Mengapa Voting 10 Banding 2 Penting?
FOMC terdiri atas 12 anggota pemegang hak suara: tujuh anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Presiden Federal Reserve Bank of New York, serta empat presiden bank sentral regional yang mendapat giliran voting berdasarkan sistem rotasi. Presiden bank sentral regional yang tidak mendapat giliran tetap hadir dan berdiskusi, tetapi tidak memberikan suara formal.
Dengan komposisi itu, hasil voting 10 banding 2 mencerminkan perpecahan pendapat yang nyata di dalam komite. Pasar biasanya membaca perpecahan semacam ini sebagai sinyal bahwa arah kebijakan berikutnya masih terbuka, terutama bila data inflasi dan tenaga kerja bergerak tidak sesuai ekspektasi.
Respons Pasar dan Dampak ke Indonesia
Wall Street sebelumnya memang memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga. Reaksi investor pun relatif datar, dengan tiga indeks utama AS nyaris stagnan setelah pengumuman. Meski begitu, keputusan bank federal reserve tetap berpengaruh terhadap pasar keuangan global karena suku bunga AS menjadi acuan penting bagi investor dalam menilai aset.
Bagi Indonesia, kebijakan ini perlu dicermati karena dapat memengaruhi pergerakan modal global dan nilai tukar rupiah. Bila suku bunga AS naik, aset berdenominasi dolar bisa menjadi lebih menarik bagi sebagian investor, meski dampaknya tetap bergantung pada kondisi pasar dan faktor lain. Sebaliknya, penahanan suku bunga memberi ruang napas bagi negara berkembang, setidaknya untuk sementara.
Keputusan ini juga hadir kurang dari sepekan sebelum pemilihan sela di AS, di mana isu keterjangkauan hidup menjadi perhatian utama pemilih. Presiden Trump sendiri telah lama mendesak The Fed untuk melonggarkan biaya pinjaman, sehingga sikap bank sentral yang cenderung ketat berpotensi memicu tekanan politik.
Menanti Sinyal Berikutnya
Ke depan, arah kebijakan bank federal reserve belum bisa dipastikan hanya dari dua suara yang menginginkan kenaikan. Bank sentral masih akan mencermati perkembangan data ekonomi dan risiko inflasi sebelum menetapkan kebijakan baru. Pelaku pasar pun disarankan memperhatikan rilis data inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta pernyataan para pejabat bank sentral sebelum mengambil keputusan investasi.
Yang jelas, voting 10 banding 2 menjadi pengingat bahwa perang melawan inflasi belum selesai. Ekonomi AS yang kuat memang memberi keleluasaan, tetapi juga memperbesar risiko tekanan harga yang membandel. Dalam kondisi seperti ini, kesabaran mayoritas anggota FOMC diuji, sekaligus menjadi sinyal bahwa setiap keputusan berikutnya akan lahir dari perdebatan yang tak mudah.
