Ancelotti Tegas Panggil Raphinha, Barcelona Murka di Tengah Regenerasi Timnas Brasil
Kalimantan Update – 31 Oktober 2026 | Keputusan pelatih kepala tim nasional sepak bola Brasil, Carlo Ancelotti, untuk tetap memanggil Raphinha ke skuad Garuda Selecao menuai polemik baru antara klub dan federasi. Barcelona yang tengah berjuang di kompetisi domestik merasa dirugikan karena sang kapten kembali harus menempuh perjalanan jauh dan berisiko cedera. Di sisi lain, Ancelotti bersikukuh bahwa kebutuhan tim nasional sepak bola Brasil di periode FIFA harus diutamakan, terlebih saat proses regenerasi sedang berjalan.
Pemanggilan Raphinha dilakukan untuk dua laga persahabatan di Singapura, melawan Jepang pada 14 November 2026 dan tuan rumah Singapura pada 17 November 2026. Perjalanan pulang-pergi dari Barcelona ke Singapura mencapai hampir 22.000 kilometer, sebuah beban fisik yang membuat Blaugrana cemas. Presiden Barcelona, Joan Laporta, sebelumnya menyuarakan kekecewaannya terhadap padatnya kalender internasional yang dinilai tidak adil bagi klub. Namun, Ancelotti menegaskan bahwa keputusan pemilihan pemain berada di tangannya dan ia tidak akan terpengaruh tekanan dari direktur klub Eropa.
“Kami menjaga hubungan baik dengan klub-klub Brasil dan Eropa, yang saling berbagi informasi mengenai para pemain. Secara umum, hubungan ini baik,” kata Ancelotti dalam konferensi pers di markas CBF, Rio de Janeiro, Kamis (29/10/2026). “Pada periode yang ditetapkan FIFA, kami akan memanggil pemain yang kami anggap penting bagi tim nasional sepak bola Brasil.”
Ancelotti juga menyoroti strategi regenerasi yang tengah ia bangun. Ia menyebut skuadnya kini dihuni hingga 15 pemain berusia di bawah 23 tahun, tetapi tetap mempertahankan sejumlah pemain senior sebagai mentor. Raphinha, yang baru pulih dari cedera otot usai jeda internasional sebelumnya di Australia, dianggap sebagai salah satu dari lima pilar penting tim. Meski demikian, Barcelona menilai kondisi fisik pemain berusia 29 tahun itu belum sepenuhnya pulih dan mempertanyakan keputusan Ancelotti yang kembali memanggilnya.
Di sisi lain, Ancelotti menunjukkan kelonggaran kepada klub-klub Brasil seperti Flamengo dan Palmeiras yang tengah bersaing ketat memperebutkan gelar. Ia memutuskan tidak memanggil pemain dari kedua klub tersebut, tetapi tetap mengambil satu pemain dari setiap klub Eropa, termasuk Raphinha dari Barcelona. Kebijakan ini memicu ketidakpuasan di Camp Nou, terlebih Raphinha sempat meminta diganti saat El Clasico karena tubuhnya tidak sanggup menahan beban fisik.
Polemik ini bukan satu-satunya dinamika di sepak bola Brasil. Bintang Santos, Neymar, baru saja dijatuhi sanksi larangan bermain dua pertandingan tambahan oleh Pengadilan Tinggi Olahraga Brasil (STJD) karena melanggar aturan yang melarang pemain menutupi mulut saat berkonfrontasi dengan lawan. Insiden tersebut terjadi dalam laga Santos vs Bahia yang berakhir imbang 1-1. Neymar, 34 tahun, mendapat kartu merah setelah berselisih dengan gelandang Bahia, Rodrigo Nestor. Aturan yang dikenal sebagai “aturan Vinicius Jr” itu bertujuan mempermudah penyelidikan dugaan pelecehan rasial. Akibatnya, Neymar dipastikan melewatkan tiga pertandingan Santos berikutnya, termasuk laga melawan Palmeiras karena akumulasi kartu kuning.
Sementara itu, di kubu timnas Indonesia, kisah menarik datang dari penyerang Mitchell Baker. Pemain kelahiran Australia itu mengungkapkan bahwa perjalanannya hingga bisa berseragam Merah Putih bermula dari pesan akun sepak bola Indonesia, Indoblood, pada 2023. Setelah suporter Indonesia ramai-ramai menandai akun pelatih, Baker berinisiatif mengirim email langsung kepada pelatih John Herdman pada April 2026. Undangan pemusatan latihan pun datang pada Mei 2026, dan ia kemudian tampil dalam kemenangan 9-2 atas Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026. Kisah Baker menjadi contoh bagaimana inisiatif dan dukungan suporter dapat membuka jalan menuju tim nasional.
Kembali ke Brasil, jadwal padat dan kebijakan pemanggilan Ancelotti akan terus menjadi sorotan. Barcelona berharap ada komunikasi yang lebih baik antara klub dan federasi agar pemain tidak menjadi korban ambisi tim nasional sepak bola brasil. Di sisi lain, Ancelotti menegaskan bahwa setiap jeda internasional adalah tahap penting untuk membangun kembali skuad yang kesulitan di turnamen besar. Ia percaya bahwa keseimbangan antara pemain muda dan senior akan membawa Brasil kembali ke jalur juara.
Dengan dua laga di Singapura, Ancelotti memiliki kesempatan untuk menguji kedalaman skuad sekaligus mengintegrasikan generasi baru. Namun, tekanan dari klub-klub Eropa, terutama Barcelona, akan terus mengiringi langkahnya. Publik Brasil berharap keputusan ini membuahkan hasil positif, sementara Barcelona berharap Raphinha kembali dalam kondisi prima. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah kebijakan tegas Ancelotti mampu mengembalikan kejayaan tim nasional sepak bola brasil tanpa mengorbankan karier pemain di level klub.
