ASKS XXIII 2026 di HSU: Membangkitkan Sastra Banua dari Jejak Negara Dipa
Kalimantan Update – 31 Oktober 2026 | Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) resmi menjadi tuan rumah Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XXIII tahun 2026 yang mengusung tema “Membangkit Sastra di Negara Dipa”. Perhelatan sastra tingkat provinsi ini menjadi momentum penting bagi para sastrawan, budayawan, seniman, penulis, dan pegiat literasi se-Kalimantan Selatan untuk berkumpul, berkarya, dan merawat warisan budaya daerah. Pembukaan ASKS XXIII 2026 di HSU Membangkit Sastra Banua di Negara Dipa berlangsung secara resmi di gedung H Abdul Wahid, Amuntai, pada Jumat (30/10/2026) malam, dihadiri ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan.
Gubernur Kalimantan Selatan melalui Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Adi Santoso, memberikan apresiasi besar kepada Pemerintah Kabupaten HSU selaku tuan rumah. Ia menegaskan bahwa Aruh Sastra merupakan wadah strategis bagi para pelaku sastra untuk terus berkarya, bertukar gagasan, serta menjaga dan mengembangkan kekayaan sastra dan kebudayaan Kalimantan Selatan. “Aruh Sastra diharapkan menjadi wadah bagi para sastrawan dan budayawan untuk terus berkarya, bertukar gagasan, serta menjaga dan mengembangkan kekayaan sastra dan kebudayaan Kalimantan Selatan,” ujarnya.
Bupati HSU, H Sahrujani, dalam sambutan utamanya menekankan makna mendalam dari tema yang diusung. Menurutnya, Negara Dipa sebagai warisan sejarah yang melekat erat dengan identitas HSU bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk melahirkan karya sastra yang memperkuat peradaban Banua. “Mari jadikan Negara Dipa bukan hanya jejak sejarah yang kita kenang, melainkan sumber inspirasi untuk melahirkan karya-karya yang menjaga martabat budaya dan memperkaya peradaban Banua,” tegas Bupati Sahrujani.
Rangkaian pembukaan ASKS XXIII 2026 di HSU Membangkit Sastra Banua di Negara Dipa diisi dengan pertunjukan seni khas Banua yang memukau. Mulai dari musik panting hingga penampilan Japin Tahtul, seluruh pertunjukan berhasil menyedot perhatian hadirin. Kegiatan juga diwarnai dengan penyerahan lukisan dari Tim Aruh Sastra Tabalong kepada Bupati HSU sebagai kenang-kenangan, serta peluncuran buku ASKS untuk memperkaya khazanah dokumentasi sastra daerah. Momen ini menjadi simbol estafet budaya antar-daerah di Kalimantan Selatan.
Perhelatan ASKS XXIII 2026 di HSU Membangkit Sastra Banua di Negara Dipa turut dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah se-Kalimantan Selatan, unsur Forkopimda HSU, kepala SKPD terkait, pengurus TP PKK dan DWP, serta ratusan tamu undangan lainnya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten HSU. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan dukungan luas terhadap pengembangan sastra dan budaya di wilayah Banua.
Sebagai agenda tahunan, ASKS memiliki peran penting dalam memetakan perkembangan sastra di Kalimantan Selatan. Melalui forum ini, para sastrawan dapat saling berbagi pengalaman, membangun jejaring, dan menghasilkan karya-karya baru yang relevan dengan tantangan zaman. Tema Negara Dipa dipilih untuk mengingatkan kembali kejayaan masa lampau sebagai fondasi identitas budaya yang kuat. Dengan semangat itu, ASKS XXIII 2026 di HSU Membangkit Sastra Banua di Negara Dipa diharapkan mampu memantik geliat literasi di tingkat lokal maupun nasional.
Selain menjadi ajang silaturahmi kreatif, ASKS juga menjadi panggung bagi generasi muda untuk unjuk gigi. Berbagai kegiatan pendamping seperti diskusi sastra, pembacaan puisi, dan lokakarya menulis biasanya mewarnai perhelatan ini. Partisipasi aktif dari pelajar dan mahasiswa menjadi indikator bahwa regenerasi sastrawan Banua terus berjalan. Pemerintah Kabupaten HSU pun berkomitmen menjadikan ASKS sebagai warisan berharga yang berdampak positif bagi masyarakat, terutama dalam menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan sastra daerah.
Dengan terselenggaranya ASKS XXIII 2026 di HSU Membangkit Sastra Banua di Negara Dipa, harapan besar diletakkan pada pundak para pelaku sastra. Mereka diharapkan tidak hanya menghasilkan karya yang estetis, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan sosial yang memperkuat jati diri bangsa. Negara Dipa, yang dahulu menjadi pusat peradaban di Kalimantan, kini kembali bersinar melalui kata-kata dan imajinasi para sastrawan. Perhelatan ini menjadi bukti bahwa sastra tetap relevan sebagai cermin dan pemandu peradaban Banua di tengah arus modernisasi.
