Bitcoin Tertekan di Bawah US$77 Ribu: Ujian Berat Menanti Level Kritis US$75.000
Kalimantan Update – 31 Oktober 2026 | Pasar aset kripto kembali diuji setelah harga btc terpantau melemah ke kisaran US$76.700-77.100 pada perdagangan akhir Oktober 2026, turun sekitar 4,36 persen dalam sepekan. Tekanan jual datang dari kombinasi sentimen makro yang memburuk dan guncangan kepercayaan akibat peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto yang menimpa bursa Binance. Kini perhatian seluruh pelaku pasar tertuju pada satu angka: apakah btc mampu bertahan di atas level psikologis US$75.000, atau justru terpuruk lebih dalam menuju zona US$72.000 hingga US$65.000.
Kronologi Tekanan: Dari FOMC hingga Peretasan US$6,3 Miliar
Pelemahan btc berawal dari sikap netral Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang membuat pelaku pasar kecewa karena tidak mendapat sinyal pelonggaran kebijakan. Sentimen kian memburuk setelah Presiden Dallas Fed, Lorie Logan, menyatakan perlunya kenaikan suku bunga lebih agresif. Pasar kini memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga dari tiga bank sentral utama pada Desember, seiring naiknya harga minyak yang memicu tekanan inflasi.
Pukulan terberat datang pada 29 Oktober 2026 ketika Binance, bursa kripto terbesar dunia, menjadi korban peretasan senilai US$6,3 miliar. Insiden ini memicu gelombang likuidasi besar-besaran, menembus level US$80.000, dan menyeret btc ke titik terendah enam pekan di kisaran US$76.400 sebelum sempat rebound ke sekitar US$77.350. Data FXEmpire mencatat harga sempat berada di US$76.732,75 atau turun 3,01 persen dalam sehari, sementara Forbes menyebut posisi tersebut sebagai level terendah dalam enam minggu terakhir.
Mengapa US$75.000 Menjadi Garis Pertahanan Krusial
Jarak antara titik terendah sesi US$76.400 dan support US$75.000 hanya sekitar 1,9 persen. Dalam kondisi likuiditas tipis, satu order jual besar atau satu berita baru dapat menutup jarak tersebut dalam hitungan menit. Analis teknikal memetakan tiga penanda utama:
- US$80.000 yang gagal bertahan sebagai support dan kini berubah menjadi resistensi di atas.
- US$75.000 sebagai lantai yang wajib dijaga agar struktur bullish tidak runtuh.
- US$85.000 sebagai target pemulihan apabila pembeli kembali agresif.
Selain itu, btc tengah menguji exponential moving average 200 hari dari sisi atas, pengujian pertama sejak pasar bullish saat ini dimulai. Penutupan di bawah rata-rata tersebut berpotensi mengubah nada keseluruhan grafik dari positif menjadi konsolidasi jangka panjang.
Tekanan Tambahan dari Sisi Korporasi
Sentimen tidak hanya datang dari pasar global. Di Jepang, perusahaan yang tercatat di pasar Growth Bursa Tokyo, Iole, mengumumkan rencana melepas seluruh kepemilikan 151,21 btc miliknya. Penjualan dilakukan secara bertahap melalui bursa kripto pada periode 30 Oktober hingga akhir November, dengan perkiraan kerugian sekitar 254 juta yen. Dana hasil penjualan akan dialihkan ke bisnis pusat data AI, penyediaan daya komputasi AI, dan layanan Neo Cloud. Meski nilainya relatif kecil dibandingkan total kapitalisasi pasar, langkah ini memperkuat narasi bahwa sebagian pemegang institusional mulai mengurangi eksposur terhadap btc demi sektor lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Di sisi lain, data CoinGecko mencatat 181 perusahaan publik masih menguasai sekitar 1,31 juta btc atau setara 6,25 persen dari total suplai. Strategy memegang 848.517 koin per 25 Oktober, sementara Strive melaporkan kepemilikan 43.000 koin dan baru membeli 6.182 koin pada rata-rata US$82.732. Strive juga mendaftarkan program penjualan saham preferen perpetual SATS senilai hingga US$1 miliar, yang menunjukkan bahwa minat institusi terhadap btc belum sepenuhnya hilang meski harga sedang tertekan.
Dampak bagi Investor di Indonesia
Bagi masyarakat Indonesia yang ingin memantau pergerakan btc, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan pentingnya bertransaksi hanya melalui platform yang resmi terdaftar. Beberapa di antaranya adalah Bybit Indonesia melalui PT Enkripsi Teknologi Handal dan Tokocrypto melalui PT Aset Digital Berkat. Pengguna disarankan membandingkan biaya transaksi, metode deposit dan penarikan, serta ketersediaan pasangan perdagangan sebelum mengambil keputusan, terutama di tengah volatilitas tinggi seperti saat ini.
Apa yang Perlu Dicermati Selanjutnya
Pelaku pasar akan mencermati sejumlah katalis dalam beberapa pekan ke depan, antara lain hasil penyelidikan peretasan Binance, jumlah dana yang berhasil dibekukan, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral utama. Reaksi pasar terhadap uji ulang level US$75.000 akan menjadi penentu apakah fase koreksi ini berakhir sebagai konsolidasi sehat atau berlanjut menjadi penurunan yang lebih dalam.
Secara keseluruhan, posisi btc saat ini berada di persimpangan yang menentukan. Selama level US$75.000 mampu dipertahankan, peluang pemulihan menuju US$85.000 tetap terbuka. Namun bila support tersebut jebol, skenario koreksi menuju US$72.000 bahkan US$65.000 tidak dapat diabaikan. Investor disarankan tetap disiplin dalam manajemen risiko, tidak menggunakan leverage berlebihan, dan memantau perkembangan makro serta keamanan ekosistem kripto secara berkala, karena kombinasi tekanan suku bunga dan krisis kepercayaan akibat peretasan menjadikan momentum ini salah satu ujian terberat bagi pasar aset digital sepanjang tahun.
