Saham Google Anjlok Rp7.800 Triliun dalam Sehari, Sinyal Bahaya di Balik Ambisi AI?
Kalimantan Update – 31 Oktober 2026 | Dunia teknologi dikejutkan oleh guncangan yang jarang terjadi. Saham goog — kode yang melekat pada raksasa internet Google — mengalami penurunan paling tajam dalam sejarah perusahaan pada perdagangan Kamis, 29 Oktober. Induk usaha Google, Alphabet, kehilangan nilai pasar lebih dari 500 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.800 triliun dalam satu hari. Penurunan sebesar 12,64 hingga 13 persen itu menjadi yang terbesar sejak Google melantai di bursa pada 2004, dan langsung menyeret indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi ke zona merah.
Para analis menilai kejatuhan ini bukan sekadar reaksi atas laporan keuangan kuartal III yang dianggap mengecewakan. Ada kekhawatiran yang lebih mendasar: mesin pencari goog, yang selama dua dekade menjadi lumbung uang iklan, kini menghadapi ancaman dari kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan perusahaan itu sendiri. Direktur Komersial Google, Philipp Schindler, mengakui bahwa fitur ringkasan AI dan mode pencarian percakapan yang muncul di bagian atas halaman hasil pencarian telah menekan pendapatan iklan pada hasil pencarian tradisional.
Pertumbuhan Melambat, Arus Kas Negatif
Data yang dihimpun dari laporan keuangan menunjukkan pertumbuhan bisnis pencarian melambat dari 19 persen pada kuartal I menjadi hanya 12 persen pada kuartal III. Yang lebih mengejutkan pasar, arus kas bebas perusahaan tercatat negatif 9,07 miliar dolar AS, berbanding terbalik dengan proyeksi para analis yang memperkirakan angka positif. Perusahaan juga mempertahankan proyeksi belanja modal untuk sepanjang tahun di kisaran 195 hingga 205 miliar dolar AS, angka yang sangat besar untuk membangun infrastruktur AI dan pusat data.
Sejumlah pengamat menyebut langkah goog sebagai taruhan jangka panjang. Mantan direktur divisi periklanan Google, Kim Scott, dalam wawancara dengan BBC menyatakan bahwa perusahaan lebih memilih merugikan dirinya sendiri ketimbang membiarkan pesaing mengambil alih pasar. “Mereka sedang bertaruh pada AI untuk jangka panjang,” ujarnya. Namun, pasar tampaknya belum siap menerima pengorbanan jangka pendek sebesar itu.
Tekanan dari ChatGPT dan Claude
Posisi dominan goog sebagai pintu utama informasi dunia memang sedang diuji. Jutaan orang kini beralih ke aplikasi seperti ChatGPT dan Claude untuk menjawab pertanyaan mereka, alih-alih mengetikkan kata kunci di mesin pencari. Fenomena ini diperparah oleh kebijakan sejumlah platform yang membatasi akses data. Reddit, misalnya, kini mewajibkan pengguna login untuk melihat kontennya, sehingga trik menambahkan kata “Reddit” pada pencarian Google menjadi kurang efektif. Langkah itu diambil Reddit untuk melindungi data dari pengambilan otomatis oleh sistem AI sekaligus meningkatkan pendapatan iklan mereka.
Di sisi lain, Google justru menambah jumlah karyawannya secara agresif. Hingga akhir September, perusahaan mencatat 204.757 karyawan di seluruh dunia, bertambah 10.089 orang dibandingkan posisi Maret. Sebagian penambahan itu berasal dari akuisisi perusahaan keamanan siber Wiz yang memiliki sekitar 2.000 karyawan. Langkah ini kontras dengan tren industri teknologi global yang gencar melakukan efisiensi, seperti Meta yang berulang kali memangkas ribuan karyawan dan Microsoft yang menawarkan program pensiun sukarela kepada 60.000 pekerjanya.
Efek Domino bagi Investor
Kejatuhan saham goog tidak hanya berdampak pada Alphabet. Indeks Nasdaq tertekan karena investor mulai mempertanyakan apakah gelontoran dana raksasa untuk AI akan pernah membuahkan hasil. Kekhawatiran tentang “gelembung AI” kembali mencuat. Di Brasil, nilai kerugian Alphabet disetarakan dengan lebih dari setengah kapitalisasi seluruh perusahaan yang tercatat di bursa B3 Sao Paulo. Di Denmark, media Ekstra Bladet menyebut peristiwa ini sebagai hari bursa yang ingin dilupakan bahkan oleh perusahaan terbesar di dunia.
Meski demikian, Schindler menegaskan pihaknya “merasa sangat baik dengan arah” versi mesin pencari yang berfokus pada AI. Perusahaan tampaknya yakin bahwa transisi ke pencarian berbasis AI akan membuahkan model bisnis baru, meski untuk sementara menggerus pendapatan iklan konvensional.
Bagi pengguna di Indonesia, dampak langsung mungkin belum terasa. Namun, dinamika ini menentukan masa depan cara kita mencari informasi. Jika raksasa seperti goog saja bisa goyah oleh inovasi yang mereka ciptakan sendiri, maka persaingan di era AI akan semakin sengit dan penuh ketidakpastian. Pertanyaannya kini: apakah pasar akan sabar menunggu taruhan jangka panjang Google berbuah, ataukah gelombang kecemasan akan terus menekan valuasi perusahaan? Yang jelas, era kejayaan mesin pencari konvensional perlahan mulai berakhir, dan Google harus membuktikan bahwa mereka bisa memimpin di babak baru ini.
