Malam Kelam di Warsawa: Polisi Bersenjata Kepung Mahkamah Konstitusi Polandia, Presiden Putar Balik Pesawat
Kalimantan Update – 03 November 2026 | WARSWA — Ketegangan politik di Polandia mencapai puncaknya pada Jumat malam, 30 Oktober 2026, ketika aparat kepolisian bersenjata lengkap mengepung gedung Mahkamah Konstitusi (poland constitutional tribunal) di Warsawa. Peristiwa yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai ‘kudeta konstitusional’ ini memicu respons cepat dari Presiden Karol Nawrocki yang terpaksa memutar balik pesawatnya di tengah penerbangan dan kembali ke ibu kota.
Insiden bermula ketika seorang hakim bernama Anna Korwin-Piotrowska — yang diangkat oleh mayoritas parlemen pimpinan Perdana Menteri Donald Tusk namun tidak pernah disumpah oleh presiden sesuai ketentuan hukum Polandia — mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin baru mahkamah. Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, situs resmi poland constitutional tribunal mengumumkan penangguhan Presiden dan Wakil Presiden mahkamah, dan menyatakan Korwin-Piotrowska mengambil alih kepemimpinan. Akun X resmi mahkamah langsung mengecam langkah tersebut sebagai ‘coup d’état’ atau kudeta.
Jurnalis TV Republika, Elżbieta ‘Ela’ Beszłej, yang berada di lokasi kejadian, menggambarkan situasi malam itu sebagai sesuatu yang ‘bahkan bagi kami orang Polandia, tidak terbayangkan’. Kepada The Gateway Pundit, ia menyebut apa yang terjadi sebagai krisis konstitusional yang ‘absurd’. ‘Dia tidak memiliki dasar hukum untuk melakukannya. Ini seperti saya atau Anda tiba-tiba masuk ke Mahkamah Agung dan mengklaim diri sebagai presidennya,’ ujar Beszłej.
Menurut kesaksiannya, ratusan polisi masuk melalui gerbang yang menghadap kantor perdana menteri — mengenakan masker, bersenjata, dan bersiap menghadapi kerusuhan. Media Jerman sempat melaporkan bahwa kehadiran polisi adalah untuk melindungi mahkamah dari demonstran, namun Beszłej membantahnya. ‘Justru sebaliknya,’ tegasnya. Polisi sendiri menyatakan bahwa personel mereka tetap berada di luar gedung.
Yang menarik, Beszłej mengaku melihat raut wajah para petugas yang tampak ketakutan dan kebingungan. ‘Saya melihat mata mereka, dan mereka terlihat takut. Seperti tidak tahu apa yang sedang terjadi,’ katanya. Sumber dari Republika bahkan menduga sebagian petugas percaya mereka dikirim untuk melindungi mahkamah, bukan untuk mengambil alih.
Perdana Menteri Donald Tusk tidak menunjukkan penyesalan. Dalam cuitannya di X, ia menulis, ‘Setelah bertahun-tahun pelanggaran hukum di bawah PiS, ini adalah proses yang sulit, terkadang menyakitkan, dan membutuhkan tindakan tegas.’ Tusk secara terbuka menganut konsep ‘demokrasi militan’ — memulihkan supremasi hukum dengan kekuatan. Beszłej menolak pendekatan itu. ‘Itu bukan cara memulihkan supremasi hukum. Kalau begitu, itu bukan demokrasi. Bisa jadi kediktatoran, tapi bukan demokrasi,’ ujarnya.
Krisis ini juga memicu reaksi dari Gereja Katolik Polandia. Konferensi Waligereja Polandia dalam pernyataannya pada 31 Oktober memperingatkan bahwa perselisihan atas poland constitutional tribunal ‘mengarah pada krisis negara yang mendalam’. Mereka menyerukan diakhirinya eskalasi, dialog konstruktif, dan solusi damai, serta mendorong rekonsiliasi nasional. Kardinal Konrad Krajewski dari Keuskupan Łódź mengajak umat Katolik untuk berpuasa dan berkorban bagi negara. ‘Banyak orang Polandia tidak tidur malam ini. Tolong, saya minta Anda berdoa untuk tanah air kita, untuk mereka yang memerintah. Untuk kebijaksanaan, untuk penilaian yang baik, agar mereka membawa perdamaian, bukan perpecahan,’ pintanya.
Dampak diplomatik pun mulai terasa. Setidaknya tiga duta besar Polandia mengundurkan diri sebagai protes, termasuk Duta Besar untuk PBB Krzysztof Szczerski, serta duta besar untuk Tiongkok dan Rumania. Marcin Przydacz, kepala Biro Kebijakan Internasional di kantor Presiden Nawrocki, mengecam tindakan Tusk. ‘Bahkan pengacara yang dekat dengan pemerintah Tusk mengatakan tidak ada dasar hukum sama sekali untuk perilaku seperti itu,’ ujarnya kepada televisi Eropa.
Analis dari Foundation for Defense of Democracies, Simone Rodan-Benzaquen, menilai krisis ini tidak dimulai pada Jumat lalu. ‘Polandia telah hidup dengan Mahkamah Konstitusi yang sangat terkompromi selama lebih dari satu dekade,’ katanya. Parlemen terus mengangkat hakim sesuai konstitusi, namun beberapa penunjukan terhambat oleh kebuntuan bertahun-tahun antara pemerintah, presiden, dan mahkamah itu sendiri.
Di media sosial, beredar spekulasi liar yang menanyakan apakah polisi yang mengepung poland constitutional tribunal benar-benar berasal dari Polandia atau bahkan dari Jerman. Hingga berita ini diturunkan, klaim tersebut belum terverifikasi dan cenderung merupakan desas-desus yang memperkeruh suasana. Sementara itu, perdebatan hukum tentang siapa yang berwenang mengangkat hakim konstitusi — presiden atau parlemen — terus memanas, dengan rujukan pada Pasal 194 ayat (1) Konstitusi Polandia.
Hingga kini, situasi di sekitar gedung mahkamah masih dijaga ketat. Massa demonstran yang berkumpul memilih tetap tenang agar tidak memberikan alasan bagi pemerintah untuk bertindak represif. Namun di balik ketenangan itu, Polandia tengah menghadapi salah satu ujian konstitusional terberat dalam sejarah modernnya. Pertanyaannya kini: akankah dialog dan rekonsiliasi yang didesak para uskup mampu meredakan badai politik yang telah memecah belah bangsa?
