Misteri Subuh Surabaya: Razia Miras Bocor hingga Anak Kecanduan Gim di Ujung Malam
Kalimantan Update – 05 Oktober 2026 | Subuh Surabaya pada Minggu, 4 Oktober 2026, menyimpan seribu cerita yang saling bertautan. Di sudut utara, truk tangki Fuel Terminal Tuban belum berderu, sementara di jantung kota, rolling door biru sebuah toko minuman keras hanya terbuka separuh. Pemandangan itu menjadi pintu masuk bagi rangkaian peristiwa yang mengungkap wajah kota pahlawan dari gelap dini hari hingga terang pagi.
Sidak yang digelar Satpol PP Kota Surabaya bersama Dinkopumdag Kota Surabaya sehari sebelumnya, Sabtu, 3 Oktober 2026, berujung tanda tanya besar. Dua toko minuman keras yang menjadi sasaran—Toko Konoha di Jalan Kutisari Selatan II dan Toko Tipsy Tales di Jalan Dr. Ir. H. Soekarno (MERR), Medokan Semampir, Sukolilo—ditemukan dalam kondisi tutup saat petugas tiba. Kecurigaan langsung mencuat. Ketika ditelusuri kembali pada Minggu dini hari, Toko Tipsy Tales justru terpantau tetap beroperasi dan melayani pembeli seperti biasa.
Seorang karyawan wanita dengan ramah menyambut pembeli di balik rolling door yang hanya terbuka setengah. Ia bahkan menawarkan promo minuman keras yang tersedia. Ketika ditanya mengapa tokonya mendadak tutup saat razia, ia dengan spontan menyebut alasan yang mengarah pada kebocoran informasi. Dugaan bahwa razia telah bocor sebelum petugas datang pun semakin menguat. Peristiwa ini menambah panjang catatan masalah peredaran minuman keras di Surabaya, terlebih setelah insiden pengunjung mabuk yang memicu kecelakaan fatal beberapa waktu lalu. DPRD Surabaya pun mendesak agar rumah hiburan umum penyedia miras ikut disanksi, sejalan dengan moratorium RHU yang digagas Wali Kota Eri Cahyadi.
Beralih dari hiruk-pikuk malam, di kawasan Gubeng, dua bocah terlihat asyik menatap layar ponsel mereka pada Minggu siang. Namun di balik tawa kecil itu, tersimpan kisah pilu tentang kecanduan gim daring yang menghantui anak-anak Surabaya. RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya, yang dulu dikenal sebagai RSJ Menur, menjadi saksi bisu bagaimana gim daring mampu menjebol pintu rumah, menghancurkan ponsel, dan merenggut masa sekolah.
S dan R, sepasang orang tua yang enggan disebut nama lengkapnya, menuturkan bagaimana putra mereka, Y, yang kini duduk di kelas 3 SMP, mulai kecanduan Free Fire sejak kelas 1 SMP. Dari sekadar bermain bersama teman, Y berubah menjadi pribadi yang mudah marah. Pintu rumah bagian belakang, pintu kamar mandi, hingga pintu lemari jebol akibat emosinya yang meledak-ledak. Ia sempat tidak sekolah selama dua minggu. Jam pulangnya bergeser dari larut malam menjadi pukul empat pagi, tepat saat azan subuh berkumandang di Surabaya.
“Saya sampai, ya ampun Gusti, betah sekali ia itu, tidak bosan. Sampai bingung bagaimana cara menghilangkan kecanduan,” ujar S dengan mata berkaca-kaca. Berkat saran lurah, Y akhirnya dirawat inap di RSD Prof. dr. Moeljono Surabaya selama sepuluh hari. Kini emosinya lebih stabil, meski proses pemulihan masih panjang.
Kasus serupa dialami A, remaja kelas 2 SMP yang kecanduannya berujung pada skizofrenia early onset. Gejalanya meliputi gangguan proses pikir, emosi meledak-ledak, bicara melantur, hingga memukul orang tua. Dr. Sista Diahlaksmi, psikiater di rumah sakit tersebut, menegaskan bahwa tahap skizofrenia dengan agresivitas tinggi tidak bisa lagi ditangani hanya dengan nasihat. “Penanganan wajib menggunakan terapi obat-obatan medis (antipsikotik) untuk menstabilkan sistem sarafnya,” tegasnya.
Di sisi lain kota, subuh Surabaya juga menjadi saksi dedikasi seorang pria bernama Ahmad Mundir. Pukul 05.30 WIB, saat truk tangki di Fuel Terminal Tuban belum beroperasi, ia sudah berjalan dengan karung goni di punggung menuju kandang rusa Timor di antara bayang-bayang tangki BBM raksasa. Bersama rekannya, Abdul Salam, Ahmad merawat puluhan rusa Jawa yang dilindungi. “Ndak pernah mimpi, Mbak,” ujarnya sambil mengelus rusa betina paling jinak. Rusa timorensis yang kini berstatus rentan punah itu hafal betul suara langkah Ahmad yang membawa rumput segar dan kangkung setiap pagi.
Sementara itu, geliat positif datang dari dunia olahraga. hemaviton Fit & Health Action Run 2026 yang digelar di Parkir Timur Plaza Surabaya berhasil menembus 3.000 pelari. Sejak subuh, area venue sudah dipenuhi energi antusias peserta kategori 5K dan 10K. Aktor Chicco Jerikho turun langsung ke lintasan, menemani komunitas dari berbagai daerah. “Lari bukan lagi sekadar tentang mengejar waktu atau mencapai garis finis. Ada energi luar biasa ketika orang-orang berkumpul,” ujar Chicco. Acara ditutup dengan pengundian doorprize, termasuk satu unit mobil BYD Atto 1 yang dibawa pulang Teguh Dwi Wijayanto.
Bagi umat muslim, subuh Surabaya juga menjadi momen spiritual. Jadwal sholat lima waktu dari Bimas Islam Kementerian Agama mencatat imsak hingga isya sebagai penanda ritme ibadah harian. Niat sholat subuh dua rakaat menghadap kiblat dibaca dalam hati, sebagai tanda kesungguhan menjalankan perintah Allah SWT sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 43.
Dari bocornya razia miras, kecanduan gim yang merenggut masa kecil, dedikasi penjaga rusa Timor, semangat ribuan pelari, hingga khusyuknya ibadah subuh—semua melebur dalam satu narasi besar tentang Surabaya. Kota ini tidak pernah tidur. Setiap sudutnya menyimpan cerita yang menunggu untuk diungkap, dan subuh adalah saksi paling setia atas denyut nadi warganya. Semoga apa yang terjadi di ujung malam menjadi pelajaran berharga, dan apa yang dimulai di pagi hari menjadi berkah bagi seluruh warga kota pahlawan.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Memorandum.co.id, Harian Disway, RRI.co.id, Bimas Islam Kemenag, Akurat.co
