Kalimantan Update – 03 Oktober 2026 | Peringatan akan ancaman gempa megathrust kembali mengemuka di tengah masyarakat Indonesia, terutama setelah serangkaian peristiwa kebencanaan yang menandai bulan September. Di Kota Padang, Pemerintah Kota (Pemko) Padang menggelar Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 di Monumen Gempa Padang pada Rabu (30/9/2026). Kegiatan tersebut digelar untuk mengenang 17 tahun gempa bumi dahsyat yang mengguncang Kota Padang pada 30 September 2009, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana di masa depan, termasuk potensi gempa megathrust di zona subduksi Mentawai.
Wali Kota Padang Fadly Amran bersama jajaran Pemko Padang dan unsur terkait mengikuti doa bersama dan mengheningkan cipta dalam peringatan tersebut. Gempa 30 September 2009 yang merenggut ratusan nyawa dan merusak bangunan warga serta infrastruktur pemerintahan itu masih menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pesan tersebut kembali ditegaskan melalui peringatan yang digelar di Monumen Gempa Padang tersebut.
Peringatan dari ITB: Skenario Terburuk Tsunami 20 Meter
Ancaman gempa megathrust juga menjadi sorotan para ilmuwan. Guru besar Seismologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro bersama rekan penelitinya menunjukkan hasil penelitian skenario kasus terburuk potensi tsunami sampai 20 meter di pantai selatan Jawa. Skenario tersebut terjadi jika dua segmen megathrust pecah secara bersamaan.
“Sumber gempa yang di sebelah Barat dan Timur itu pecah bersamaan maka terjadilah 20 meter di sebelah Barat dan 12 meter di sebelah Timur dan di antaranya itu menjadi lebih tinggi atau rata-ratanya mencapai kira-kira 4,5 meter atau 5 meter,” kata Widiyantoro dalam acara virtual Keterangan Publik: Risiko Tsunami di Selatan Jawa.
Dalam penelitian berjudul Implications for Megathrust Earthquakes And Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia, dijelaskan bahwa dalam skenario kasus terburuk tersebut, ketinggian tsunami dapat mencapai 20 meter dan 12 meter di pantai selatan Jawa Barat dan Jawa Timur, dengan ketinggian maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa. Simulasi dilakukan selama 300 menit untuk mendapatkan skenario terburuk dari berbagai kemungkinan.
Widiyantoro menuturkan ada celah seismik yang jelas di selatan Pulau Jawa dengan kedalaman kurang dari 30 kilometer. Celah seismik itu dapat menjadi sumber potensial gempa megathrust di masa akan datang. “Ada area mengalami locking, terkunci mestinya bergerak tapi dia terkunci. Yang terkunci itu menyebabkan akumulasi energi, kalau energinya sudah besar kuncinya tidak kuat maka energinya lepas di situlah muncul megathrust,” ujarnya.
Bukan Isu Baru
Pakar geologi gempa bumi dan geotektonik dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja menegaskan bahwa potensi gempa dan tsunami besar di selatan Jawa bukan merupakan isu baru. Pada sebuah acara di San Fransisco pada 2013, Danny pernah memaparkan tentang adanya celah seismik di Mentawai dan di Jawa.
“Jadi kalau identifikasi sudah sejak tujuh tahun lalu, jadi penelitian kawan adalah update dari isu yang lama dengan riset yang mendalam,” ujarnya. Ia mengatakan kini ada konfirmasi bahwa selain di Mentawai, ternyata di selatan Jawa juga memang benar ada celah seismik. Hal itu menunjukkan adanya potensi gempa megathrust di selatan Jawa yang juga seperti di Mentawai, dengan tsunami yang bisa besar.
Kesiapsiagaan di Sektor Pariwisata dan Masyarakat
Kesiapsiagaan menghadapi gempa megathrust juga mulai menyentuh sektor industri perhotelan. Harper Malioboro Yogyakarta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan menggelar pelatihan evakuasi dan tanggap darurat gempa bumi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta pada Rabu (30/9/2026). Pelatihan tersebut diikuti seluruh staf hotel sebagai pembekalan menghadapi kondisi darurat di lingkungan hotel.
Dalam rilis disebutkan BPBD Kota Yogyakarta bersama BMKG sebelumnya telah melakukan sosialisasi mitigasi gempa bumi dan megathrust di Yogyakarta, termasuk mengenai keberadaan sumber gempa aktif seperti Sesar Opak dan zona megathrust di wilayah selatan Jawa.
“Pelatihan seperti ini penting untuk memastikan seluruh staf memiliki pemahaman yang sama mengenai apa yang harus dilakukan ketika terjadi kondisi darurat, khususnya gempa bumi. Kami ingin seluruh tim tidak hanya mengetahui prosedurnya, tetapi juga siap untuk menjalankannya dengan tenang, terkoordinasi, dan bertanggung jawab,” kata Wawan Eja Sukmawan, General Manager Harper Malioboro Yogyakarta.
Aktivitas Gempa Terkini
Di sisi lain, aktivitas gempa bumi juga terus tercatat. Gempa bumi dengan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Barat Daya Bayah, Banten, pada Rabu (30/9/2026) pagi. Berdasarkan informasi resmi BMKG, gempa terjadi pada pukul 08.33.16 WIB. Episenter gempa berada pada koordinat 7,28 Lintang Selatan dan 106,14 Bujur Timur, berlokasi di laut sekitar 40 kilometer Barat Daya Bayah, Banten, dengan kedalaman 26 kilometer.
Gempa tersebut juga dirasakan oleh masyarakat di wilayah Sukabumi, yakni di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, serta wilayah Kecamatan Surade, Waluran, Ciracap, Cisolok, Palabuhanratu, Cibadak, hingga Kabandungan. Hingga informasi tersebut diterbitkan, data mengenai dampak gempa maupun kerusakan yang ditimbulkan belum tercantum.
Pengaruh Kosmik terhadap Gempa
Sementara itu, sejumlah ilmuwan geoplanet mengungkapkan bahwa Matahari dan Bulan dapat memicu gempa. Secara kosmik, Bumi dapat diibaratkan sebagai boneka planet yang ditarik oleh tali gravitasi Matahari dan Bulan. Pengaruh lunisolar ini membantu menghasilkan pasang surut laut di Bumi, sekaligus menyebabkan pasang surut di daratan dan batuan padat.
Saat Matahari dan Bulan memberikan tekanan pasang surut yang kecil namun konstan pada kerak Bumi, tekanan tersebut telah diamati memicu gempa lambat yang merambat, yang melepaskan energinya jauh lebih lambat daripada gempa biasa dan tidak dapat dirasakan. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal JGR Solid Earth, para ilmuwan menemukan bahwa meskipun tekanan ini sangat kecil, biasanya sekitar beberapa kilopaskal, tekanan tersebut dapat memicu gempa lambat pada beberapa patahan.
Berbagai informasi tersebut menegaskan bahwa pemahaman mengenai gempa megathrust dan mitigasi bencana menjadi kunci utama. Pemerintah daerah, lembaga penelitian, dunia usaha, dan masyarakat perlu terus bersinergi memperkuat kesiapsiagaan, mulai dari edukasi, pelatihan evakuasi, hingga penataan ruang yang aman terhadap risiko bencana.
Gempa 30 September 2009 menjadi momentum refleksi bagi Kota Padang dan seluruh wilayah rawan bencana di Indonesia. Dengan potensi gempa megathrust yang nyata, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan demi melindungi nyawa dan keberlanjutan kehidupan masyarakat di masa depan.
