Kalimantan Update – 03 Oktober 2026 | PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai menyiapkan pemanfaatan amonia sebagai bahan bakar alternatif rendah karbon untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) guna menekan emisi karbon nasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pembangkit listrik yang beroperasi selama masa transisi energi. Perusahaan menargetkan uji coba pencampuran atau co-firing amonia dalam skala kecil di PLTU Labuan, Banten, pada 2027 dengan porsi campuran awal maksimal 3 persen.
Inisiatif PLN EPI Siapkan Amonia untuk Bahan Bakar Pembangkit Listrik ini sejalan dengan komitmen pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor ketenagalistrikan. Amonia dipilih karena tidak mengandung karbon dan dapat dibakar bersama batu bara tanpa memerlukan modifikasi besar pada boiler PLTU yang ada. Dengan demikian, PLTU tetap dapat beroperasi sambil mengurangi jejak karbon secara bertahap.
Mengapa Amonia Menjadi Pilihan?
Amonia (NH3) merupakan senyawa nitrogen dan hidrogen yang tidak menghasilkan karbon dioksida saat dibakar. Jika diproduksi menggunakan energi terbarukan, amonia dapat menjadi bahan bakar hijau yang mendukung target net zero emission 2060. Selain itu, amonia memiliki kepadatan energi yang lebih tinggi dibandingkan hidrogen, sehingga lebih mudah disimpan dan diangkut.
Namun, tantangan utama adalah biaya produksi amonia hijau yang masih mahal dan infrastruktur pendukung yang belum tersedia secara luas. Oleh karena itu, PLN EPI memulai dengan co-firing dalam porsi kecil untuk menguji aspek teknis, keamanan, dan ekonomis sebelum meningkatkan porsi campuran.
Uji Coba di PLTU Labuan
PLTU Labuan di Banten dipilih sebagai lokasi uji coba karena memiliki kapasitas yang representatif dan akses logistik yang memadai. Pada tahap awal, amonia akan dicampur dengan batu bara hingga maksimal 3 persen dari total bahan bakar. Jika berhasil, porsi dapat ditingkatkan secara bertahap hingga 20 persen atau lebih.
Persiapan yang dilakukan meliputi studi kelayakan, modifikasi sistem pembakaran, serta penyediaan fasilitas penyimpanan amonia yang aman. PLN EPI juga menjalin kerja sama dengan mitra teknologi dan pemasok amonia untuk memastikan pasokan yang berkelanjutan.
Dampak terhadap Emisi Karbon
Dengan co-firing amonia 3 persen, emisi karbon dari PLTU dapat turun sekitar 3 persen. Meskipun terlihat kecil, langkah ini merupakan awal yang penting untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara. Peningkatan porsi amonia menjadi 20 persen berpotensi menurunkan emisi hingga 20 persen, yang setara dengan puluhan ribu ton CO2 per tahun per unit PLTU.
Selain mengurangi emisi, pemanfaatan amonia juga dapat memperpanjang usia operasi PLTU yang masih dibutuhkan dalam sistem kelistrikan. Hal ini memberikan waktu bagi pengembangan energi terbarukan seperti surya dan angin untuk tumbuh dan terintegrasi dengan grid.
Tantangan dan Peluang
Meskipun menjanjikan, adopsi amonia masih menghadapi beberapa kendala, antara lain:
- Biaya produksi amonia hijau yang tinggi.
- Ketersediaan infrastruktur penyimpanan dan transportasi.
- Regulasi dan standar keamanan yang belum lengkap.
- Dukungan kebijakan dan insentif fiskal.
Di sisi lain, peluangnya sangat besar. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah untuk memproduksi amonia hijau. Selain itu, permintaan global akan amonia rendah karbon diprediksi meningkat, membuka peluang ekspor bagi Indonesia.
Langkah Strategis PLN EPI
PLN EPI tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga membangun ekosistem rantai pasok amonia. Perusahaan menggandeng berbagai pihak, termasuk produsen amonia, lembaga riset, dan pemerintah daerah. Tujuannya adalah menciptakan model bisnis yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di PLTU lain.
Dalam jangka panjang, PLN EPI berencana mengembangkan amonia hijau dari sumber energi terbarukan seperti hidroelektrik dan panas bumi. Dengan demikian, siklus hidup amonia menjadi benar-benar rendah karbon, dari produksi hingga pembakaran.
Kesimpulan
Langkah PLN EPI Siapkan Amonia untuk Bahan Bakar Pembangkit Listrik merupakan terobosan penting dalam transisi energi Indonesia. Uji coba co-firing amonia di PLTU Labuan pada 2027 menjadi tonggak awal menuju pembangkit listrik yang lebih bersih. Meskipun masih ada tantangan, kolaborasi dan inovasi dapat mengatasi hambatan tersebut. Dengan komitmen kuat, amonia dapat menjadi jembatan menuju masa depan energi berkelanjutan tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik. Upaya ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi bersih global.
Penulis: Syaifullah
Editor: Oktavianus A, Rudi Hamdani, Sukardi, Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak

