Alexander Zverev Cetak Sejarah, Juara Dunia Akhir Tahun Pertama dari Jerman

Foto: Istimewa

Alexander Zverev Cetak Sejarah, Juara Dunia Akhir Tahun Pertama dari Jerman

Kalimantan Update – 13 Oktober 2026 | Alexander Zverev dipastikan akan mengakhiri musim 2026 sebagai petenis nomor 1 dunia ATP. Kepastian ini datang setelah Carlos Alcaraz tersingkir secara mengejutkan di babak ketiga Shanghai Masters, Senin (12/10/2026). Dengan hasil tersebut, Zverev menjadi petenis Jerman pertama yang meraih status year-end No. 1, sebuah pencapaian bersejarah dalam kariernya.

Alcaraz, yang merupakan unggulan kedua, dikalahkan oleh petenis Belgia Zizou Bergs dengan skor 7-5, 7-6(4). Kekalahan ini menghentikan laju tujuh kemenangan beruntun Alcaraz dan memastikan Zverev tidak terkejar lagi di puncak klasemen akhir tahun. Sebelumnya, Jannik Sinner dari Italia juga telah mengakhiri musim lebih awal karena cedera lutut, sehingga persaingan menuju posisi teratas semakin terbuka lebar bagi Zverev.

Petenis berusia 29 tahun itu telah menunjukkan performa luar biasa sepanjang tahun. Ia menjuarai Roland Garros dan US Open, dua gelar Grand Slam pertamanya, setelah sebelumnya sempat tertunda akibat cedera pergelangan kaki. Selain itu, ia juga mencapai semifinal di empat turnamen Masters 1000 pertama musim ini: Indian Wells, Miami, Monte-Carlo, dan Madrid, di mana ia menjadi runner-up. Total, Zverev telah mengumpulkan 60 kemenangan sepanjang musim 2026.

“Ini musim yang fantastis bagi saya, menang di Paris dan New York, dan mengetahui bahwa saya akan mengakhiri tahun di peringkat teratas sungguh mimpi yang menjadi kenyataan,” ujar Zverev dalam pernyataan resmi ATP. “Begitu banyak kerja keras dan usaha telah dicurahkan untuk mencapai tujuan ini, terutama setelah kembali dari cedera pergelangan kaki. Saya menantikan akhir musim yang gemilang,” tambahnya.

Meski telah memastikan posisi puncak akhir tahun, Zverev belum secara resmi mengambil alih peringkat teratas dari Sinner. Peringkat ATP akan diperbarui pada 2 November 2026, setelah turnamen di Wina. Pada tanggal tersebut, Zverev akan resmi menjadi petenis nomor 1 dunia, menggantikan Sinner yang kehilangan poin dari turnamen yang tidak diikutinya. Zverev akan tetap di puncak setidaknya hingga ATP Finals di Turin, karena Alcaraz yang berada di peringkat ketiga tertinggal terlalu jauh untuk kembali ke posisi teratas.

Dengan usia 29 tahun dan 196 hari saat resmi menjadi nomor 1, Zverev akan menjadi petenis tertua kedua yang pertama kali menduduki peringkat teratas dunia. Rekor tersebut dipegang oleh John Newcombe dari Australia yang mencapai posisi puncak pada usia 30 tahun 11 hari. Sementara itu, pada tanggal peringkat akhir tahun (23 November 2026), Zverev akan berusia 29 tahun 217 hari, tiga hari lebih tua dari Andre Agassi saat pertama kali mencapai prestasi serupa pada 1999 (29 tahun 214 hari).

Keberhasilan ini juga menandai pertama kalinya sejak 12 September 2022, baik Sinner maupun Alcaraz tidak menduduki peringkat teratas. Dominasi keduanya akhirnya terhenti oleh konsistensi dan kegigihan Alexander Zverev. Petenis Jerman itu kini menatap sisa musim dengan percaya diri, termasuk turnamen Shanghai Masters yang masih ia ikuti. Di babak 16 besar, ia akan menghadapi Alexander Bublik dari Kazakhstan.

Perjalanan Zverev menuju puncak tidak lepas dari kerja keras dan dedikasinya. Setelah lama dinanti, gelar Grand Slam akhirnya diraihnya tahun ini. Kini, ia menorehkan sejarah sebagai petenis Jerman pertama yang finish sebagai nomor 1 dunia, melampaui pencapaian Boris Becker yang pernah menduduki peringkat teratas pada 1991 namun tidak pada akhir tahun.

Dengan pencapaian ini, Alexander Zverev semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu petenis terbaik generasinya. Ia akan menjadi petenis ke-30 yang mencapai peringkat nomor 1 dunia sejak sistem peringkat ATP diperkenalkan. Prestasi ini juga menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan membuahkan hasil, bahkan ketika banyak yang meragukan.

Keberhasilan Zverev mengakhiri musim sebagai petenis nomor 1 dunia adalah puncak dari perjalanan panjang penuh liku. Ini adalah pengakuan atas konsistensinya di level tertinggi dan mentalitas juara yang telah ia tunjukkan sepanjang tahun. Dengan gelar Grand Slam dan status year-end No. 1, Zverev kini mengukuhkan namanya dalam sejarah tenis dunia.