Suthida, Ratu Thailand, Cetak Sejarah sebagai Pilot Perempuan Pertama Terbangkan Jet Tempur Gripen Solo
Kalimantan Update – 14 Oktober 2026 | Ratu Suthida dari Thailand kembali menorehkan sejarah baru dalam dunia penerbangan militer. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Suthida berhasil menerbangkan jet tempur Saab JAS 39C Gripen secara solo dari Pangkalan Udara Wing 7 di Provinsi Surat Thani, Thailand selatan. Pencapaian ini menjadikannya perempuan pertama Thailand yang menerbangkan pesawat tempur Gripen seorang diri, sekaligus mencatatkan namanya sebagai ratu pertama di dunia yang terbang solo dengan pesawat tempur modern.
Momen bersejarah tersebut disaksikan langsung oleh Raja Maha Vajiralongkorn (Rama X) bersama sejumlah pejabat militer Thailand. Setelah mendarat dengan selamat, Raja Vajiralongkorn menyerahkan buket bunga dan Gripen Order Golden Patch, sebuah tanda kehormatan atas prestasi luar biasa istrinya. Suthida, yang kini berusia 48 tahun, tampak sumringah menerima penghargaan tersebut.
Keberhasilan ini bukanlah hasil instan. Suthida telah menekuni dunia penerbangan sejak lama. Ia pertama kali lolos kualifikasi sebagai pilot pada 13 Mei 2010 dengan menerbangkan pesawat Cessna T-41D di Wing 6, Bangkok. Sejak itu, ia terus mengumpulkan jam terbang dan pengalaman menerbangkan berbagai jenis pesawat, mulai dari Cessna T-41, CT-4E Airtrainer, Pilatus PC-9, Mooney M20M, Piper PA-34 Seneca, hingga Boeing 737. Total jam terbangnya mencapai sekitar 1.188 jam.
Untuk penerbangan solo dengan Gripen, Suthida menjalani persiapan intensif selama berbulan-bulan. Ia berlatih menggunakan simulator dan menerbangkan Gripen versi dua kursi (Gripen D) selama kurang lebih 10 jam sebelum akhirnya dipercaya mengendalikan Gripen C satu kursi. Menurut laporan media lokal, ia bahkan tinggal di Surat Thani sejak Agustus hingga Oktober 2026 untuk mendalami karakter pesawat tempur multiperan tersebut.
Latar belakang pendidikan dan karier Suthida turut mendukung pencapaian ini. Lahir di Distrik Hat Yai, Provinsi Songkhla, pada 3 Juni 1978, ia menempuh pendidikan tinggi di Assumption University, Bangkok, dan meraih gelar sarjana di bidang seni komunikasi. Sebelum menikah dengan Raja Maha Vajiralongkorn pada 1 Mei 2019, ia bekerja sebagai pramugari di Japan Airlines (2000–2003) dan Thai Airways International (2003–2008). Ia resmi menyandang gelar Ratu Thailand pada 4 Mei 2019, beberapa hari setelah pernikahan kerajaan.
Selain dunia penerbangan, Ratu Suthida juga aktif dalam berbagai kegiatan olahraga, seperti hoki es, berlayar, bersepeda, dan lari. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Women’s Global Ambassador pertama dari International Ice Hockey Federation (IIHF). Pada 14–22 Oktober 2026, ia dijadwalkan mengunjungi Sapporo, Jepang, untuk menyaksikan kejuaraan hoki es wanita Asia 2027 dan menyerahkan medali kepada para atlet.
Pencapaian Suthida ini mendapat apresiasi luas, baik di dalam maupun luar negeri. Banyak pihak menilai bahwa prestasinya membuktikan bahwa perempuan mampu menembus bidang yang selama ini didominasi laki-laki, termasuk penerbangan militer. Dengan dedikasi dan kerja kerasnya, Ratu Suthida tidak hanya menjadi simbol kebanggaan Thailand, tetapi juga inspirasi bagi perempuan di seluruh dunia.
Keberhasilan Ratu Suthida terbang solo dengan jet tempur Gripen menjadi tonggak penting dalam sejarah penerbangan kerajaan Thailand. Ia membuktikan bahwa batasan gender bukanlah halangan untuk meraih mimpi, bahkan di ranah yang penuh tantangan seperti penerbangan tempur. Prestasi ini akan dikenang sebagai salah satu warisan terbaik dari seorang ratu yang juga pilot.
