Kalimantan Update – 15 Oktober 2026 | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Sumatera dan Kalimantan masih menjadi momok yang sulit dipadamkan. Pakar UGM Jelaskan Karhutla Sumatera Kalimantan Sulit Padam karena kombinasi El Nino berkepanjangan, kondisi gambut kering, dan akses pemadaman yang terbatas. Hal ini disampaikan oleh Fiqri Ardiansyah, pakar kebakaran hutan dan lahan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam keterangannya pada 14 Oktober 2026.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kelembapan gambut berkurang drastis karena pasokan air tidak mencukupi selama musim kemarau. Gambut yang kering tidak hanya mudah terbakar, tetapi juga sulit dipadamkan karena api menjalar di bawah permukaan tanah. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran, terutama di daerah terpencil dengan infrastruktur minim.
Pakar UGM Jelaskan Karhutla Sumatera Kalimantan Sulit Padam juga menyoroti faktor manusia. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi penyebab utama, meskipun ada upaya penegakan hukum. Fiqri menambahkan bahwa perubahan iklim global turut memperparah situasi, membuat musim kemarau lebih panjang dan intens.
Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa titik panas (hotspot) di Sumatera dan Kalimantan terus meningkat selama periode El Nino. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti pemadaman udara dan darat, namun tantangan di lapangan sangat besar. Berikut beberapa faktor yang membuat karhutla sulit dipadamkan:
- El Nino berkepanjangan yang menurunkan curah hujan hingga mendekati nol.
- Gambut kering yang mudah terbakar dan api menjalar di bawah tanah.
- Akses terbatas ke lokasi kebakaran karena medan sulit dan infrastruktur minim.
- Praktik pembukaan lahan dengan membakar yang masih sulit dihentikan.
- Perubahan iklim yang memperpanjang musim kemarau.
Dalam sebuah tabel, Fiqri memaparkan perbandingan kondisi gambut pada tahun normal dan tahun El Nino:
| Parameter | Tahun Normal | Tahun El Nino |
|---|---|---|
| Curah hujan | 200-300 mm/bulan | <50 mm/bulan |
| Kelembapan gambut | 60-80% | 20-40% |
| Risiko kebakaran | Sedang | Sangat tinggi |
Pakar UGM Jelaskan Karhutla Sumatera Kalimantan Sulit Padam menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk mengatasi masalah ini. Fiqri menyarankan perlunya restorasi gambut, peningkatan patroli, dan penegakan hukum yang tegas terhadap pembakaran lahan.
Selain itu, teknologi modifikasi cuaca untuk membuat hujan buatan dapat menjadi solusi jangka pendek. Namun, tanpa perbaikan tata kelola lahan dan kesadaran masyarakat, karhutla akan terus berulang setiap tahun. Pakar UGM Jelaskan Karhutla Sumatera Kalimantan Sulit Padam mengingatkan bahwa bencana ini tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga berdampak pada kesehatan, ekonomi, dan hubungan internasional.
Sebagai kesimpulan, karhutla di Sumatera dan Kalimantan merupakan masalah kompleks yang memerlukan penanganan serius dari berbagai sektor. Faktor iklim, kondisi gambut, akses terbatas, dan perilaku manusia menjadi penyebab utama sulitnya pemadaman. Pakar UGM Jelaskan Karhutla Sumatera Kalimantan Sulit Padam harus menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Tanpa tindakan nyata, bencana asap akan terus menghantui Indonesia dan negara tetangga.
Penulis: Syaifullah
Editor: Tri Widodo
Sumber Berita: Suara Landak

