DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM Lewat Program Osama Adem, 1 Kg Plastik Hasilkan 1 Liter Bahan Bakar

DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM Lewat Program Osama Adem, 1 Kg Plastik Hasilkan 1 Liter Bahan Bakar

Kalimantan Update – 02 Oktober 2026 | Inovasi pengelolaan sampah terus dikembangkan di berbagai daerah untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus kebutuhan energi. Langkah tersebut kini dilakukan DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM melalui sebuah program yang diberi nama Osama Adem. Program ini menjadi salah satu terobosan yang digagas Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Kutai Kartanegara dalam mengatasi tumpukan sampah anorganik yang selama ini sulit terurai.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, menjelaskan bahwa inovasi tersebut memanfaatkan sampah anorganik, khususnya plastik, sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar minyak. Melalui proses pengolahan yang tepat, sekitar 1 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan hingga 1 liter BBM. Capaian itu tentu menjadi nilai tambah tersendiri di tengah harga bahan bakar yang terus berfluktuasi.

“DLHK Kabupaten Kutai Kartanegara tahun ini mempunyai inovasi yang kami beri judul Osama Adem, yaitu mengolah sampah menjadi energi atau BBM,” ungkap Tri Joko saat ditemui di Tenggarong, Rabu (30/9/2026).

Pengolahan sampah tersebut mulai diterapkan di sejumlah lokasi, termasuk TPS 3R dan beberapa tempat pengelolaan sampah di wilayah Kukar. Prosesnya menggunakan mesin pirolisis yang mampu menghasilkan bahan bakar dengan karakteristik menyerupai pertalite maupun solar. Teknologi ini menjadi kunci utama dalam rangkaian program DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM agar hasil yang diperoleh benar-benar layak digunakan masyarakat.

Manfaat Nyata bagi Nelayan dan Petani

Sebagian hasil pengolahan sampah plastik menjadi BBM bahkan telah dimanfaatkan oleh nelayan dengan harga sekitar Rp10 ribu per liter. Menurut Joko, produk tersebut dapat menjadi alternatif ketika masyarakat kesulitan memperoleh solar. Harga yang relatif terjangkau itu diharapkan mampu meringankan beban biaya operasional para nelayan yang setiap hari melaut.

“Ini bisa menjadi bahan bakar alternatif yang kurang lebih setara solar, terutama ketika kebutuhan solar sulit diperoleh,” katanya.

Kebutuhan bahan bakar juga mendorong kelompok tani di salah satu kecamatan di Kukar untuk memanfaatkan sampah sebagai bahan baku energi. Kelompok tersebut mengalami kesulitan mendapatkan solar untuk kebutuhan operasional sehingga muncul gagasan memproduksi bahan bakar secara mandiri. Kondisi itu menunjukkan bahwa program DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM menyentuh kebutuhan riil masyarakat di lapangan.

“Karena kebutuhan solar sulit, mereka punya keinginan membuat solar sendiri dari sampah. Kami memberikan edukasi terkait hal tersebut,” tuturnya.

Untuk itu, DLHK Kukar memberikan edukasi kepada kelompok tani tersebut mengenai pengolahan sampah menjadi bahan bakar. Rencana tersebut masih membutuhkan sejumlah persiapan teknis sebelum dapat direalisasikan. Edukasi dilakukan secara bertahap agar masyarakat tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga memahami aspek keselamatan dan pengelolaan limbah yang benar.

Dukungan Teknologi Pirolisis

Mesin pirolisis yang digunakan dalam program DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM bekerja dengan memanaskan plastik pada suhu tertentu tanpa oksigen. Proses ini memecah molekul plastik menjadi gas dan cairan yang kemudian dikondensasi menjadi bahan bakar cair. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar fosil untuk keperluan tertentu.

Beberapa hal penting dalam pengolahan sampah plastik menjadi BBM antara lain:

  • Pemilahan sampah anorganik, khususnya jenis plastik tertentu yang memiliki nilai kalor tinggi.
  • Pemanasan menggunakan reaktor pirolisis dengan pengaturan suhu yang terkendali.
  • Kondensasi gas hasil pemanasan menjadi bahan bakar cair.
  • Penyaringan dan pengujian kualitas agar mendekati karakteristik pertalite atau solar.
  • Pemanfaatan residu dan pengelolaan emisi agar tetap ramah lingkungan.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya pengurangan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan serius di banyak daerah. Dengan mengubah sampah menjadi energi, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan sekaligus memberi nilai ekonomis bagi masyarakat.

Solusi di Tengah Kesulitan BBM

Tri Joko menegaskan bahwa inovasi ini merupakan salah satu solusi di tengah kondisi bahan bakar minyak, khususnya solar, yang masih agak sulit diperoleh. Kelompok petani dan nelayan menjadi pihak yang paling merasakan manfaat langsung dari program DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM.

“Ini salah satu solusi. Kondisi BBM, khususnya solar, yang masih agak sulit, teman-teman petani dan nelayan juga sangat memerlukan itu,” tuturnya.

Ke depan, DLHK Kukar berencana memperluas penerapan program ini ke lebih banyak lokasi pengelolaan sampah. Sosialisasi dan pendampingan teknis akan terus dilakukan agar semakin banyak kelompok masyarakat yang mampu mengolah sampah secara mandiri. Dengan demikian, persoalan sampah dan kebutuhan energi dapat dijawab secara bersamaan.

Keberhasilan DLHK Kukar Olah Sampah Plastik Jadi BBM menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar masalah, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan kelompok usaha menjadi kunci agar inovasi ini berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, program Osama Adem berpotensi menjadi model pengelolaan sampah terpadu yang dapat direplikasi daerah lain di Kalimantan Timur maupun Indonesia.

Pada akhirnya, langkah DLHK Kukar ini menjadi pengingat bahwa solusi energi dan lingkungan bisa berjalan seiring. Masyarakat tidak hanya mendapatkan bahan bakar alternatif yang lebih terjangkau, tetapi juga turut menjaga kebersihan lingkungan dari timbunan plastik yang sulit terurai.

Penulis: Zulkifli
Editor: Intoniswan
Sumber Berita: UpdateKaltim.com