Kalimantan Update – 02 Oktober 2026 | Kasus ISPA di Kukar Meningkat pada Anak Usia Sekolah menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang September, hingga tanggal 28, tercatat 9.224 kasus infeksi saluran pernapasan akut di wilayah tersebut, dengan anak usia sekolah sebagai salah satu kelompok paling terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara, Ismi Mufiddah, mengungkapkan bahwa lonjakan mulai terlihat sejak Juli. “ISPA memang meningkat. Mulai meningkat itu sekitar bulan Juli,” ujarnya di Tenggarong, Rabu (30/9/2026).
Data Dinkes Kukar menunjukkan bahwa sebelum lonjakan terjadi, jumlah kasus pada Juni masih berada di kisaran 6.000 kasus. Angka tersebut kemudian naik pada Juli dan melampaui 9.000 kasus pada Agustus serta September. Peningkatan ini berkorelasi kuat dengan kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah Kukar akibat karhutla.
Anak Usia Sekolah dan Kelompok Produktif Paling Terdampak
Kasus ISPA di Kukar Meningkat pada Anak Usia Sekolah tercermin dari data kelompok usia 5-19 tahun yang mencapai 2.838 kasus pada September. Sementara itu, kelompok usia produktif 18-59 tahun mencatat angka lebih tinggi, yakni 3.432 kasus. Adapun balita tercatat sebanyak 1.710 kasus.
Ismi menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah dan masyarakat usia produktif menjadi kelompok yang paling banyak terdampak. Anak-anak lebih banyak beraktivitas di lingkungan sekolah, sedangkan kelompok usia produktif umumnya harus keluar rumah untuk bekerja sehingga terpapar udara yang tidak sehat.
“Jadi kalau ditanyakan ada peningkatan, iya, memang ada peningkatan sejak kondisi karhutla,” jelasnya.
Berikut rincian sebaran kasus ISPA di Kukar pada September 2026 berdasarkan kelompok usia:
| Kelompok Usia | Jumlah Kasus |
|---|---|
| Balita | 1.710 kasus |
| Anak usia sekolah (5-19 tahun) | 2.838 kasus |
| Usia produktif (18-59 tahun) | 3.432 kasus |
Langkah Penanganan dan Antisipasi Pembelajaran Jarak Jauh
Menghadapi lonjakan ini, Dinkes Kukar memastikan setiap pasien ISPA yang datang ke fasilitas kesehatan mendapatkan pengobatan sesuai prosedur tata laksana. Selain penanganan medis, masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara memburuk dan selalu menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.
Dinkes Kukar turut berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, serta Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim melalui UPT yang berada di Kukar. Jika kondisi udara semakin memburuk, pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi pelajar dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan asap.
Untuk memantau kualitas udara, puskesmas melakukan pengukuran menggunakan particulate counter di dalam ruangan guna melihat kadar PM2,5 dan PM10. Hasil pengukuran terakhir masih menunjukkan kadar kedua partikel tersebut berada di atas standar, meskipun angkanya berfluktuasi setiap hari mengikuti kondisi asap.
“Kadang-kadang juga di hari tertentu dia di atas standar, tapi masih sedikit di atas standar,” pungkas Ismi.
Kesimpulan
Peningkatan Kasus ISPA di Kukar Meningkat pada Anak Usia Sekolah menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak kabut asap karhutla. Dengan 9.224 kasus tercatat hingga 28 September dan kelompok usia 5-19 tahun menyumbang 2.838 kasus, diperlukan langkah mitigasi yang menyeluruh, mulai dari penanganan medis, pemantauan kualitas udara, hingga opsi pembelajaran jarak jauh. Kolaborasi lintas sektor antara Dinkes, Dinas Pendidikan, dan Kementerian Agama menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari risiko infeksi saluran pernapasan akut yang terus mengintai selama musim karhutla.
Penulis: Zulkifli
Editor: Intoniswan
Sumber Berita: UpdateKaltim.com

