Kalimantan Update – 16 Oktober 2026 | Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mendatangi kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 16 Oktober 2026, untuk berkoordinasi mengenai perbaikan pasar modal setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 10,75 persen. Langkah ini mencuatkan sorotan publik bahwa Dasco Desak BEI Perbaiki Tata Kelola Usai IHSG Anjlok menjadi agenda mendesak. Dalam pertemuan tersebut, Dasco meminta BEI menindaklanjuti masukan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait aksesibilitas investasi, transparansi kepemilikan saham, dan tata kelola pasar.
Pada perdagangan sesi I, IHSG merosot 630,77 poin atau 10,75 persen ke level 5.223. Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, indeks dibuka pada level 5.394, sempat mencapai 5.405, lalu turun hingga 5.193. Data Phintraco Sekuritas juga mencatat nilai transaksi saham mencapai Rp17,30 triliun, dengan volume 37,83 miliar saham dan frekuensi perdagangan sebanyak 1.336.396 kali. Perdagangan saham sempat dihentikan sementara atau mengalami trading halt pada pagi hari.
Kedatangan Dasco ke BEI menjadi sinyal kuat bahwa tekanan politik terhadap perbaikan tata kelola pasar modal semakin meningkat. Ia menekankan bahwa penurunan tajam IHSG tidak boleh dibiarkan tanpa tindakan korektif. “Kami ingin memastikan bahwa BEI serius menindaklanjuti rekomendasi MSCI, terutama dalam hal aksesibilitas dan transparansi,” ujar Dasco dalam keterangan persnya. Permintaan ini sejalan dengan desakan Dasco Desak BEI Perbaiki Tata Kelola Usai IHSG Anjlok yang menjadi perhatian pelaku pasar.
MSCI sendiri telah lama menyoroti beberapa isu struktural di pasar modal Indonesia, termasuk keterbatasan akses investor asing, kurangnya transparansi dalam kepemilikan saham, dan praktik tata kelola yang belum sepenuhnya memenuhi standar internasional. Rekomendasi MSCI ini menjadi acuan penting karena dapat memengaruhi keputusan investor global dalam menempatkan dana di Indonesia. Jika tidak segera ditindaklanjuti, risiko penurunan peringkat pasar modal Indonesia dapat berdampak pada arus modal keluar.
Dalam konteks ini, desakan Dasco Desak BEI Perbaiki Tata Kelola Usai IHSG Anjlok bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan upaya mendorong reformasi menyeluruh. BEI diharapkan dapat meningkatkan transparansi data, memperkuat pengawasan terhadap emiten, dan menyederhanakan prosedur bagi investor asing. Langkah-langkah ini dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan pasar yang sempat terguncang.
Sejumlah analis menilai bahwa penurunan IHSG sebesar 10,75 persen dalam satu sesi merupakan sinyal bahaya yang memerlukan penanganan cepat. Trading halt yang dilakukan BEI menjadi bukti bahwa volatilitas pasar telah melampaui batas normal. Meski demikian, beberapa pihak optimistis bahwa dengan perbaikan tata kelola, pasar modal Indonesia dapat kembali menarik minat investor, terutama jika rekomendasi MSCI diimplementasikan secara konsisten.
Berikut adalah data ringkas perdagangan sesi I yang mencatat anjloknya IHSG:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pembukaan IHSG | 5.394 |
| Tertinggi | 5.405 |
| Terendah | 5.193 |
| Penurunan | 630,77 poin (10,75%) |
| Level Akhir Sesi I | 5.223 |
| Nilai Transaksi | Rp17,30 triliun |
| Volume | 37,83 miliar saham |
| Frekuensi | 1.336.396 kali |
Desakan Dasco Desak BEI Perbaiki Tata Kelola Usai IHSG Anjlok juga menyoroti pentingnya koordinasi antara regulator, pemerintah, dan pelaku pasar. DPR RI melalui Komisi XI disebut akan terus mengawal proses perbaikan ini agar tidak berhenti pada tataran wacana. BEI diharapkan segera menyusun roadmap perbaikan tata kelola yang terukur dan transparan.
Dalam jangka panjang, perbaikan tata kelola pasar modal tidak hanya berdampak pada stabilitas IHSG, tetapi juga pada perekonomian nasional secara keseluruhan. Pasar modal yang sehat akan mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat fundamental ekonomi. Oleh karena itu, desakan Dasco Desak BEI Perbaiki Tata Kelola Usai IHSG Anjlok harus dilihat sebagai momentum untuk reformasi yang lebih mendalam.
Kesimpulannya, kunjungan Dasco ke BEI dan permintaannya untuk menindaklanjuti rekomendasi MSCI merupakan langkah strategis dalam merespons gejolak pasar. Perbaikan tata kelola, transparansi, dan aksesibilitas investasi menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan investor. Tanpa perbaikan menyeluruh, risiko ketidakstabilan pasar dapat berulang. Dukungan semua pihak diperlukan agar pasar modal Indonesia kembali bangkit dan kompetitif di kancah global.

