Teluk Oman Memanas: Indonesia Berpeluang Raih Relokasi Modal Triliunan dari Gulf States

Foto: Istimewa

Teluk Oman Memanas: Indonesia Berpeluang Raih Relokasi Modal Triliunan dari Gulf States

Kalimantan Update – 16 Oktober 2026 | Dinamika geopolitik di kawasan Teluk Oman dan sekitarnya terus menjadi sorotan dunia. Ketegangan yang berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya di perairan Teluk Oman, telah menciptakan ketidakpastian ekonomi yang signifikan. Namun, di balik krisis tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang emas untuk menarik relokasi modal dari negara-negara Teluk yang mulai mencari wilayah aman. Hal ini menjadi topik hangat dalam diskusi ekonomi terkini, terutama setelah adanya laporan tentang pergeseran investasi dari Gulf States.

Peneliti Junior Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Imas Damayanti, mengungkapkan bahwa konflik berlarut di Timur Tengah, termasuk di sekitar Teluk Oman, membawa dampak buruk bagi perekonomian Indonesia secara langsung maupun tidak langsung. Meski demikian, ia melihat adanya peluang besar dari capital flight yang terjadi. “Terlepas dari dampak yang bertubi-tubi dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Indonesia harus menyambut peluang dari kondisi ini. Capital flight dari Gulf States yang selama ini dianggap sebagai safe haven oleh para investor, harus berhasil kita relokasi masuk ke Indonesia,” ujar Imas dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut Imas, ketegangan di Teluk Oman dan wilayah Teluk lainnya belum menunjukkan tanda penyelesaian konkret. Kondisi ini sangat berbahaya bagi keberlanjutan modal yang menggerakkan roda perekonomian negara di kawasan tersebut. Apalagi, instabilitas keamanan kawasan menjadi indikator utama berjalannya sektor andalan wilayah Teluk yang saat ini sedang berupaya mendiversifikasi sektor nonmigasnya. Isu ketidakamanan dan penutupan ruang udara maupun laut di wilayah Teluk Oman menjadi bukti nyata ketegangan yang belum terselesaikan.

Dalam sektor pariwisata, penutupan ruang udara di wilayah Teluk berpotensi menghilangkan pendapatan belanja wisatawan internasional sebesar 58 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Selain itu, proyek-proyek strategis dalam sektor properti dan digital yang sedang berlangsung di wilayah Teluk seperti Dubai dan Doha terancam mandek. “Tidak ada upaya konkret dari pemimpin negara di wilayah Teluk untuk menyelesaikan konflik ini. Pastinya ini membuat investor tidak lagi percaya untuk berinvestasi di Teluk,” tegas Imas.

Lebih lanjut, Imas menyebutkan bahwa sejumlah perusahaan multinasional yang sebelumnya berencana mendirikan kantor pusat regional (Regional HQ) di Riyadh dan Dubai mulai melirik wilayah yang lebih aman, seperti Asia Tenggara. “Dalam hal ini, kita boleh percaya diri, karena Indonesia pun termasuk negara di kawasan ASEAN yang relatif aman dan terhindar dari konflik maritim maupun udara,” ujarnya. Hal ini menjadi sinyal positif bagi Indonesia untuk memposisikan diri sebagai tujuan investasi alternatif di tengah gejolak Teluk Oman.

Pemerintah Indonesia diharapkan dapat segera mengambil langkah strategis untuk menangkap peluang ini. Reformasi regulasi, peningkatan infrastruktur, dan jaminan keamanan investasi menjadi kunci. Selain itu, promosi aktif di forum internasional perlu digencarkan untuk menarik perhatian perusahaan-perusahaan global yang sedang mencari lokasi baru. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemain utama dalam pergeseran modal global akibat krisis di Teluk Oman.

Secara keseluruhan, meskipun konflik di Teluk Oman dan Timur Tengah menimbulkan risiko, terdapat peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan investasi asing. Dibutuhkan kesiapan dan respons cepat dari semua pihak agar momentum ini tidak terlewatkan. Jika berhasil, Indonesia dapat memperkuat fundamental ekonominya dan menjadi salah satu tujuan investasi utama di Asia Tenggara.